Nurcholish Madjid Nurcholish Madjid

“A Terrible Joke?”

Persoalan yang pertama-tama muncul adalah berkenaan dengan hidup manusia itu sendiri: Mengapa kita hidup? Dari mana kita berasal? Akan menuju ke mana kita ? Apakah memang ada makna hidup itu? Semua persoalan ini bukanlah masalah empiris, sebab berada di luar jangkauan ilmu pengetahuan, dan pendapat manusia tentang asal-usul dan makna hidup ini terbagi dalam berbagai aliran.

Sebagian mereka mengatakan bahwa hidup ini semata-mata gejala alam, sama dengan gejala alam yang lain: Tidak relevan mempertanyakan dari mana, menuju ke mana, dan apakah ada makna hidup. Semuanya adalah absurd. Seperti dikatakan Albert Camus, “all that was is no more, all that will be is not yet, and all that is not sufficient” (semua yang lalu itu tidak lagi ada, apa yang akan ada itu belum lagi ada, dan yang ada sekarang tidaklah memuaskan).

Tokoh lain, failasuf Dorrow dan Schoppenhauer, malah lebih pesimis lagi: karena manusia yang hidup pasti akan mati, dan kematian adalah suatu kemestian yang paling mengerikan, maka hidup ini benar-benar sebuah “guyon yang mengerikan” (terrible joke). Benarkah? Pertanyaan ini begitu penting untuk dijawab.

Persoalan hidup timbul karena adanya kematian kecuali jika hidup dipandang hanya sebagai hukum antropis benda-benda alam semata. Seorang failasuf Jerman terkemuka, Martin Heidegger, mengatakan bahwa kearifan diperoleh kalau orang sadar bahwa ia akan mati. Hal ini mengingatkan kita pada sabda Nabi Saw., “Yang arif bijaksana ialah orang yang merendahkan dirinya dan bekerja untuk hidup setelah mati, dan orang yang gagal ialah orang yang memperturutkan dirinya kepada hawa nafsunya dan kemudian banyak berangan-angan kepada Allah” (Hadis Tirmidzi dan Ibn Majah).

Meskipun masalah makna hidup ini tidak empiris—sehingga para pemikir tidak akan sepakat mengenainya—namun menurut antropologi budaya, tidak ada kelompok manusia yang tidak menganut suatu paham tertentu yang menjelaskan hakikat hidup. Artinya, manusia tidak akan tahan hidup tanpa makna. Ia tidak akan kuat menahan perasaan tercekam kegelapan total ruang hidupnya, sehingga tidak dapat diketahui di mana ia berada, apa hubungannya dengan lingkungan sekitarnya, dan apa kesudahan semua yang ada. Ibarat orang yang terkurung dalam sebuah kamar gelap gulita, setiap orang memerlukan seberkas cahaya yang menerangi sekelilingnya dan memastikan di mana posisinya.

BAGIKAN

BERIKUTNYA

Leave a Reply