Nurcholish Madjid Nurcholish Madjid

Abad Teknik suatu Keharusan Sejarah

Apa pun yang terjadi, disebabkan oleh dinamika internal Teknikalisme, sekali suatu Abad Teknik tersembulkan di suatu tempat, tidaklah mungkin lagi bagi tempat lain untuk juga menyembulkannya. Dikarenakan efek teknikalisasi yang melanda dunia dengan cepat, tempat-tempat lain tersebut hanya bisa menolak, atau menerima dan mengasimilasinya. Karena itu masyarakat di tempat-tempat lain, termasuk umat Islam, dengan cepat kehilangan  kemandiriannya dan berubah menjadi bagian penting atau tidak penting masyarakat dunia yang sedang mengalami transmutasi. Dari sudut tinjauan ini, maka dapat dikatakan bahwa keseluruhan masyarakat para pemeluk Islam telah berhenti sebagai umat, jika pengertian umat, seperti yang ada selama ini, mengisyaratkan kemandirian dan kecukupan diri. Sebab kemandirian dan kecukupan diri Dunia Islam yang dinikmatinya selama dominasinya berabad-abad itu kini telah runtuh berhadapan dengan arus dan gelombang Teknikalisme. Maka yang tersisa sekarang ialah pengelompokan-pengelompokan para pemeluk agama Islam yang tidak lagi terkoordinasi, lebih dari masa-masa dekat sebelumnya. Universitas al-Azhar di Mesir memiliki daya tahan yang luar biasa mengagumkan, dan untuk jangka waktu lama sekali senantiasa memancarkan kewibawaan orientasionalnya ke seluruh Dunia Islam. Tetapi setelah secara tak terhindarkan harus berhadapan dengan arus modernisasi, responsi yang diberikannya kurang kreatif, jika bukannya reaksioner, dan peranannya sebagai sumber orientasi melemah dengan cepat. Tergesernya prestise al-Azhar oleh Universitas Kairo yang sekular, atau malah oleh Universitas Amerika di sana, merupakan kleidoskop drama Islam menghadapi Abad Modern. Dari segi inilah amat disayangkan bahwa usaha reformasi ‘Abduh mengalami kegagalan.

Jadi memasuki dan ikut serta dalam Abad Modern bukanlah persoalan pilihan, melainkan suatu keharusan sejarah. Dan dari perspektif sejarah kemanusiaan itu, kemodernan bukanlah monopoli suatu tempat atau kelompok manusia tertentu. Selalu ada kemungkinan bagi tempat-tempat dan kelompok-kelompok manusia lain untuk mengejar dan menyertainya. Kita hanya harus menyebut Jepang sebagai contoh bangsa bukan-Barat yang tidak saja berhasil menyertai kemodernan itu, bahkan telah meluncur dengan kecepatan yang mencengangkan, termasuk untuk orang-orang Barat sendiri.

Lebih-lebih bagi Dunia Islam, kemodernan itu semestinya tidak terlalu asing dalam tinjauan kemanusiaan dan intelektualnya. Terdapat banyak pandangan yang menjelaskan bahwa kemodernan, dalam banyak hal,  merupakan pengembangan lebih lanjut nilai-nilai yang ada dalam tradisi keruhanian Irano-Semitik yang memuncak dalam Islam. Meskipun pandangan yang menyalahkan para pemeluk Islam atas keterbelakangan zaman sekarang ini mengandung usaha melindungi agama Islam (bernada apologetik), namun sebenarnya dalam pernyataan itu terdapat kebenaran mendasar yang tidak mungkin diabaikan. Di tangan peninjau yang lebih netral dengan mengikuti disiplin ilmiah tertentu, pernyataan serupa bisa memperoleh pensubstansiannya dan terbebas dari kesan apologetik apa pun. Contoh tinjauan netral serupa itu ialah yang dilakukan oleh Ernest Gellner, seorang ahli sosiologi agama. Dalam kajiannya, Gellner menunjukkan bahwa Tradisi Agung Islam tetap bisa dimodernkan (modernisable) tanpa perlu banyak memberi konsesi kepada pihak luar, dan bisa merupakan semata-mata kelanjutan berbagai dialog dalam Umat sepanjang sejarahnya. Dari antara berbagai agama yang ada, kata Gellner, Islam adalah satu-satunya yang mampu tanpa banyak gangguan doktrinal untuk mempertahankan sistem keimanannya dalam Abad Modern ini. Dalam penilaian Gellner, dalam Islam, dan hanya dalam Islam, pemurnian dan modernisasi  di satu pihak, dan peneguhan kembali identitas lama umat di lain pihak, dapat dilakukan dalam satu bahasa dan perangkat simbul-simbul yang sama. Dunia Islam memang gagal menerobos zaman dan mempelopori umat manusia memasuki Abad Modern. Tetapi, kata Gellner lebih lanjut, karena watak dasar Islam itu, kaum Muslimin mungkin akan justru menjadi kelompok umat manusia yang paling besar memperoleh manfaat dari kemodernan Dunia.

 

BAGIKAN

BERIKUTNYA

Leave a Reply