Nurcholish Madjid Nurcholish Madjid

Adam: Nasib Anak Turunannya

Di dalam surat Yâsîn disebutkan, Bukankah sudah Aku pesankan kepada kamu, wahai anak-anak Adam, janganlah menyembah setan, sebab bagimu dia musuh yang nyata? (Q., 36: 60). Ayat ini menunjukan semacam perjanjian primordi­al antara kita dengan Tuhan, di samping perjanjian primordial pengakuan Tuhan sebagai Rabb kita. Dari kedua perjanjian primordial tersebut, maka selain membawa fitrah cenderung pada kebaikan (hanîf), manusia sejak lahir juga memiliki bakat alami untuk menolak yang tidak baik.

Kejahatan disebut munkar (diingkari), yaitu diingkari oleh hati nurani. Sedang kebaikan disebut ma‘rûf (diakui), yaitu diakui oleh hati nurani. Dalam sebuah Hadis disebutkan bahwa “Yang dinamakan kebaikan itu adalah budi pekerti yang luhur. Dan dosa ialah sesuatu yang terbetik di dalam hatimu dan kamu tidak suka orang lain tahu”.

Perjanjian primordial yang sudah mengendap di bawah sadar kita yang paling mendalam ini kemudian melahirkan hati nurani. Perjanjian kita dengan Tuhan itu tidak hanya berada di bawah permukaan kesadaran pada dunia psikologis semata, tetapi juga tertanam dalam dunia spiritual dan banyak mempengaruhi hidup kita. Karena itu, bahagia dan sengsara sangat dipengaruhi oleh hati nurani ini. Misalnya, wujud adanya perjanjian dengan Tuhan untuk mengakui-Nya sebagai Rabb, antara lain adalah dorongan bagi manusia untuk menyembah. Sebaliknya, dengan adanya perjanjian dengan Tuhan untuk tidak menyembah setan, maka manusia mempunyai naluri untuk menolak hal yang tidak baik, di mana dosa dirumuskan sebagai segala sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani. Karena itu, kesengsaraan sebenarnya dimulai dengan adanya perasaan ketidakcocokan dengan hati nurani. Maka setelah Adam melanggar larangan Tuhan, Tuhan mengingatkan mereka, “Bukankah sudah Kularang kamu dari pohon itu, dan Kukatakan kepadamu bahwa setan adalah musuhmu yang nyata” (Q., 7: 22). Ayat ini merujuk kepada perjanjian tersebut, bahwa Adam sudah menyadari bahwa setan adalah musuh tetapi masih tetap tergoda. Mendengar peringatan Tuhan Adam kemudian berdoa, Mereka menjawab, “Tuhan! Kami telah menganiaya diri kami. Jika Engkau tidak mengam­puni dan merahmati kami pastilah kami termasuk orang yang merugi” (Q., 7: 23). Doa ini kemudian menjadi sebuah doa yang paling banyak dibaca orang yang naik haji, karena memang salah satu tujuan haji di Arafah adalah napak tilas pengalaman spiritual Adam.

Kemudian, (Tuhan) berfirman, “Turunlah kamu! Kamu akan saling bermusuhan. Bumi itulah tempat kediaman dan kesenanganmu sampai waktu tertentu” (Q., 7: 24), yaitu kehidupan duniawi. Allah berfirman, “Di situ kamu hidup, di situ kamu akan mati, dan dari situ kamu akan dibangkitkan” (Q., 7: 25).

Firman Allah bahwa anak turun Adam akan saling bermusuhan sudah terbukti pada anaknya sendiri, yaitu antara Qabil dan Habil yang berakhir dengan terbunuhnya Habil. Itulah pembunuhan pertama yang terdapat dalam kitab suci akibat iri hati. Karena itu, sebenarnya iri hati merupakan dosa makhluk yang ketiga setelah yang pertama, yakni kesombongan iblis yang rasia­lis, merasa unggul tanpa alasan; dan yang kedua, serakah, khirs, yakni nafsu memiliki sesuatu yang bukan menjadi haknya, yang dalam bahasa Al-Quran disebut sebagai hal yang terlarang.

BAGIKAN

BERIKUTNYA

Leave a Reply