Nurcholish Madjid Nurcholish Madjid

ADIL DAN SEIMBANG

Dalam Q., 42: 38-43, Al-Quran menggambarkan bagaimana umat Islam harus bertindak seimbang dan adil di muka bumi ini. Renungan atas ayat ini juga bisa memberikan kearifan tindakan bagi kita dalam memecahkan masalah-masalah sosial yang dihadapi umat Islam, dalam kaitan dengan kerumitan hubungan antaragama yang sedang kita hadapi. Kita kutip terlebih dahulu terjemah ayat Al-Quran tersebut: Dan mereka yang memenuhi seruan Tuhan dan mendirikan shalat, dan persoalan mereka dimusyawarahkan antara sesama mereka, dan mereka infakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Dan bila ada perbuatan sewenang-wenang menimpa mereka, mereka membela diri. Balasan atas suatu kejahatan, adalah kejahatan yang setimpal. Tetapi barangsiapa dapat memberi maaf dan menciptakan perdamaian, maka balasannya dari Allah. Sungguh, Ia tak menyukai orang yang berbuat zalim. Tetapi sungguh barangsiapa membela diri setelah dianiaya, tak ada alasan menyalahkan mereka. Kesalahan hanyalah pada mereka yang menganiaya manusia, dan melanggar batas di bumi tanpa sebab. Bagi mereka itulah azab yang pedih. Tetapi sungguh, barangsiapa mau sabar dan memberi maaf, sungguh itulah sikap yang terbaik.

Mari kita renungkan ayat tersebut dimulai dengan perkataan mereka yang memenuhi seruan Tuhan, mendirikan shalat, dan memusyawarahkan atas apa saja masalah yang dihadapi. Musyawarah dalam ayat ini mendapatkan perhatian utama, sebagai prinsip kehidupan sosial-politik yang benar, mulai dari rumah tangga atau keluarga, kehidupan bermasyarakat, hingga hubungan kenegaraan. Musyawarah pun menjadi kata kunci surat tersebut (surat Al-Syûrâ, surat mengenai musyawarah). Prinsip musyawarah ini juga yang telah dipraktikkan secara sangat ekspresif oleh Nabi Saw. sehingga dapat menjadi model bagi kaum Muslim untuk mengerti kehidupan modern mengenai demokrasi, sesuai dengan asas partisipatif-egaliter.

Tetapi, jika musyawarah ini tidak bisa dicapai, dan kaum Muslim—hak-hak pribadi maupun kolektifnya—merasa diinjak-injak, maka mereka diperbolehkan bertahan dan membalas demi membela  kebenaran. Balasan atas suatu kejahatan, adalah kejahatan yang setimpal. Tetapi dalam membela diri, dan membalas atas hak-hak pribadi maupun kolektif yang diinjak-injak itu, kaum Muslim diingatkan untuk tidak boleh melebihi dari kezaliman yang dideritanya, sehingga menjadi bentuk  balas-dendam. Karena itulah, menghindari bentuk balas dendam yang dapat menimbulkan kezaliman, Al-Quran memberi jalan keluar, bahwa yang ideal itu bukan balas dendam tetapi mengikuti cara yang lebih baik ke arah kerukunan kembali dengan orang-orang yang melakukan pelanggaran. Inilah langkah moral terbaik dari ajaran agama, yang membalik sikap permusuhan menjadi persahabatan dan persaudaraan, yang penuh dengan maaf dan rasa kasih sayang. Dari segi Agama, Allah lebih meridlai sikap persahabatan, persaudaraan, maaf dan rasa kasih-sayang daripada permusuhan dan balas dendam tak berkesudahan. Barangsiapa dapat memberi maaf dan menciptakan perdamaian, maka balasannya dari Allah. Walaupun Al-Quran juga menegaskan, Barangsiapa membela diri setelah dianiaya, tak ada alasan menyalahkan mereka. Kesalahan hanyalah pada mereka yang menganiaya manusia, dan melanggar batas di bumi tanpa sebab. Bagi mereka itulah azab yang pedih. Tetapi tetap, pada akhirnya, “Sungguh, barangsiapa mau sabar dan memberi maaf, sungguh itulah sikap yang terbaik”

Maka dari itu menjadi orang Islam yang menegakkan “jalan tengah”—sebagai saksi, sebagai umat terbaik—itu sulit. Sebab kita harus tahu, kapan harus membela diri dengan menghancurkan musuh yang telah menganiaya kita, tapi kita juga harus tahu, kapan harus bersabar dan memaafkan. Inilah yang harus kita minta setiap hari kepada Allah Swt. sebanyak 17 kali melalui rakaat-rakaat shalat wajib, “Ihdinâ ‘l-shirâtha ‘l-mustaqîm” (Tunjukilah kami ke jalan yang lurus). Menurut ajaran agama, mempertahankan diri itu boleh, membalas boleh, tapi membalas secara berlebihan itu zalim. Dan dari sejarah kita belajar, setiap pembalasan cenderung sering berlebihan. Daripada membalas berlebihan, agama mengajarkan lebih baik berdamai. Kalau kita hanya menonjolkan yang keras, maka Allah memperingatkan jangan-jangan kamu nanti zalim; tapi kalau kita hanya bisa memaafkan, akibat ketidakpedualian kita pada persoalan kezaliman yang sesungguhnya, maka kita nanti terjerembab dalam kelembekan moral, dan hukum tidak berjalan dalam masyarakat, sehingga masyarakat ditandai oleh tidak adanya hukum yang menegakkan pembeda antara yang benar dan salah.

Maka kita petik hikmah ayat di atas, bahwa bersabar dan memberi maaf memang lebih berat dijalankan, daripada memperlakukan orang dengan kasar dan keras untuk membalas-dendam, dengan menghukum mereka yang bersalah. Sebab menurut Al-Quran, bersabar dan memberi maaf itu adalah bentuk keberanian, pemecahan masalah yang paling tinggi dan mulia. Karena itu adalah bagian dari fitrah manusia—yaitu ketika kembali kepada kesucian asal kita—kita pun kembali kepada dâr al-salâm (Darussalam)  kampung perdamaian, Pacem in Terris, sehingga dapat tercapai damai di bumi, dan berbahagialah seluruh umat manusia.

 

 

BAGIKAN

BERIKUTNYA

Leave a Reply