Nurcholish Madjid Nurcholish Madjid

ADIL

Isu peradaban ialah keadilan, al-‘adâlah, al-‘adl. Dalam Al-Quran disebut juga al-qishth atau al-mîzân (keseimbangan). Dalam surat Al-Rahmân, kata-kata mîzân memang dikaitkan dengan keadilan, Dan langit Ia tinggikan, dan Ia letakkan neraca (keadilan) (Q., 55: 7). Di sini Tuhan berbicara tentang makro-kosmos, bahwa seluruh alam raya dikuasai oleh hukum keseimbangan, sehingga arti sebenarnya ‘adl ialah keseimbangan, yaitu konsep tentang tengah. Maka bangun dari ruku’ dalam shalat disebut i‘tidâl, karena menengahi seluruh proses shalat sejak dari takbir sampai sujud. Al-Quran mengatakan bahwa jagat raya ini dikuasai oleh hukum keseimbangan, karena itu manusia dilarang melanggar prinsip keseimbangan. Setelah bicara tentang jagat raya, ada perintah kepada hal yang sangat praktis, yaitu ke pasar, menyangkut timbangan. Dalam Al-Quran, ada perintah kepada manusia untuk menepati timbangan-timbangan itu dengan jujur dan dilarang curang dalam menimbang.

Timbangan di pasar sebenarnya adalah realisasi dari bekerjanya hukum gravitasi. Artinya, ia bekerja mengikuti hukum yang menguasai seluruh jagat raya. Einstein mengatakan bahwa kekuatan yang paling dahsyat terdapat pada benda kecil, yaitu atom bersama dengan atom kemudian berangkulan satu sama lain dan menjadi benda-benda yang keras sekali, sedang kekuatan yang paling lemah justru menguasai seluruh jagat raya, yaitu gravitasi.

Timbangan, dengan begitu, bekerja karena hukum jagat raya. Barangsiapa yang curang dalam timbangan, sebetulnya ia melanggar hukum kosmos, hukum seluruh jagat raya, sehingga menimbulkan dosa besar sekali, yaitu dosa ketidakadilan. Program-program ad hoc-nya memiliki wujud banyak sekali, seperti menyantuni anak yatim, mendirikan rumah jompo, dan seterusnya, yang semuanya berada dalam target menegakkan keadilan sosial. Program-program itu sulit dicapai karena umumnya orang tidak mau melakukannya. Dalam beragama, manusia biasanya mengambil yang paling gampang meskipun dengan risiko disalahpahami. Misalnya shalat; naik haji, yang sekarang ada fasilitas-fasilitas VIP, bahkan ada restoran KFC, dan sebagainya. Pendeknya, Makkah sekarang ini mirip sekali dengan Paris. Tetapi Al-Quran mengatakan, Tetapi dia tak menempuh jalan yang terjal. Dan apa yang akan menjelaskan kepadamu apa jalan yang terjal? (Yaitu) membebaskan perbudakan. Atau memberi makan dalam sehari orang yang dalam kelaparan. Anak yatim yang dalam pertalian kerabat. Atau orang miskin (bergelimang) di atas debu (Q., 90: 11-16). Terjemahan kontemporernya kemungkinan adalah, membebaskan orang dari belenggu kemiskinan struktural; atau, memberi makan pada waktu kesulitan makanan; atau juga, menyantuni orang-orang yang tidur di tanah dan di kolong jembatan.

Dalam masalah ini, orang Islam mungkin harus mengelus dada, mengapa misalnya hadiah Nobel diberikan kepada Ibu Theressa, orang yang persis seperti digambarkan dalam Al-Quran. Orang Islam belum ada yang mendapatkan hadiah Nobel semacam itu. Sebetulnya itulah yang disebut aqabah, jalan yang sulit. Sementara itu, keberagamaan kita sekarang ini cenderung memilih yang gampang-gampang saja, padahal Tuhan menggugat kita. Ini yang kita kaitkan dengan masalah keadilan.

Dari sudut pandang ini pula, kita bisa memahami mengapa Baghdad jatuh atau mengapa seluruh dunia Islam dijajah, kecuali Afghanistan (yang terakhir ini memang bisa berbangga karena mereka adalah bangsa Muslim yang tidak pernah dijajah, tetapi juga yang paling mundur dan paling rusak sekarang ini). Dari sinilah harus dilihat beroperasinya sunnatullah, yang harus dipelajari dalam sejarah.

BAGIKAN

BERIKUTNYA

Leave a Reply