Nurcholish Madjid Nurcholish Madjid

Agama Bebas Mitos

Di balik hijrah, terdapat nilai-nilai yang luar biasa luhurnya untuk menjadi bekal bagi kebangkitan Islam. Memang, pada abad sekarang ini, yaitu pada abad ke-15 Hijriah atau menjelang abad ke-21 Masehi, seluruh dunia ditandai oleh kebangkitan Islam. Tidak hanya di negeri-negeri Muslim, tetapi juga di negeri-negeri non-Muslim. Di Prancis, misalnya, agama Islam sudah menjadi agama nomor dua setelah agama Katholik dan mengalahkan agama Protestan. Gejala tersebut ada di mana-mana, termasuk di Amerika.

Kenapa itu bisa terjadi? Jawabannya adalah karena dalam agama Islam, secara negatif, tidak ada mitologi atau bebas dari misteri-misteri atau mitologi misteri. Dalam Islam telah jelas bahwa, Dan janganlah kau ikut apa yang tidak kau ketahui (Q., 17: 36). Artinya, tidak ada mitologi dalam Islam, semuanya harus melalui pemikiran.

Inilah yang menyebabkan agama Islam diramalkan akan menjadi agama masa depan. Karya Emile Dermenghem, Muhammad and the Religious Tradition in Islam, menguraikan bahwa kalau umat manusia ingin tetap modern, namun tetap beragama, maka agama yang harus dipilih ialah Islam, karena dalam Islam tidak ada mitologi dan mitos. Untuk itu, ilmu pengetahuan merupakan salah satu prasyarat yang mutlak dan sangat besar pengaruhnya bagi kebangkitan Islam. Ini sesuai dengan pernyataan Nabi dalam sebuah Hadis, “Barang siapa menginginkan keunggulan di dunia, dia harus mempunyai ilmu, barang siapa menginginkan keunggulan di akhirat dia harus mempunyai ilmu, dan barang siapa menginginkan keunggulan di dunia dan akhirat dia harus berilmu”.

Awal mula dari ilmu pengetahuan, sesuai dengan etos Al-Quran, ialah membaca. Sebelum Allah Swt. memerintahkan manusia untuk shalat, puasa, zakat, dan haji, yang diperintahkan pertama kali ialah iqra’ (bacalah!). Atas dasar ini, di mata para ahli Islam ialah agama melek huruf atau “The Religion of Literacy”. Artinya, di mana pun berada Islam selalu mengajarkan orang untuk bisa membaca, sehingga di Jawa orang Islam disebut santri, yang menurut para ahli, sebetulnya berasal dari perkataan Sanskerta “sastri”, artinya orang yang tahu baca-tulis.

 

BAGIKAN

BERIKUTNYA

Leave a Reply