Nurcholish Madjid Nurcholish Madjid

AGAMA DALAM MASYARAKAT INDUSTRI

Terdapat common sense mengenai masa depan agama dalam suatu masyarakat industrial, yang dicerminkan oleh percakapan sehari-hari, bahwa industrialisasi dan modernisasi merupakan ancaman terhadap religiusitas. Meskipun penilaian itu sering disertai dengan banyak contoh kasus, namun tidak berarti ia mengandung kebenaran yang bersifat menyeluruh.

Memang benar bahwa bentuk-bentuk perubahan sosial yang menyertai proses industrialisasi telah mempengaruhi secara negatif kehidupan keagamaan. Misalnya, bahwa, dalam masyarakat industri, peranan pengelompokan sekunder semakin menggeser pengelompokkan primer. Adapun yang termasuk pengelompokkan sekunder ialah unit dan organissai kerja atau produksi, sedangkan kelompok primer ialah keluarga, suku, agama dan sebagainya. Sifat kelompok sekunder adalah gesellschaft, sedangkan yang primer adalah gemeinschaft. Dengan perkataan lain, formalitas, zaklijkheid dan rasionalitas semakin menggeser keakraban, kekeluargaan dan afektivitas. Karena itu melalui berbagai sebab, peranan orang tua, khususnya ayah, sebagai agen sosialis anak, akan semakin berkurang untuk digantikan oleh bentuk-bentuk hubungan sosial yang lain, misalnya sekolah dan pergaulan. Hal ini tentu mempunyai pengaruh dalam bentuk pengenduran pola-pola religiusitas tertentu.

Tetapi, pergeseran religiusitas dalam masyarakat industrial terutama disebabkan oleh semakin dominannya peranan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan, baik sosial maupun lainnya, adalah bentuk kesadaran seseorang tentang lingkungannya, baik yang jauh maupun yang dekat, serta pengetahuan atau penguasaannya atas masalah-masalah yang ada. Hal itu berarti paling tidak semakin sempitnya daerah kegaiban atau misteri. Padahal, sebagaimana telah diterangkan, tindakan keagamaan dilakukan karena pengakuan adanya kenyataan supra-empiris atau gaib dan misteri.

Berkaitan dengan konsep kegaiban atau misteri itu ialah perasaan tidak berdaya manusia menghadapi kenyataan-kenyataan yang diperkirakan tidak akan mampu dimengerti. Pada masyarakat yang didominasi oleh nilai-nilai ilmu pengetahuan, suatu terra incognita akan menyuguhkan tantangan untuk diselidiki dan dibongkar rahasianya. Tetapi, pada masyarakat lain, ketidakberdayaan manusia menghadapi alam telah melahirkan konsep dan tindakan yang bersifat religius magistis. Memuja suatu obyek alam yang dianggap memiliki rahasia dan keagungan dapat dilihat sebagai lompatan jauh seorang manusia dalam usahanya menundukkan obyek tersebut untuk kepentingan dirinya. Sedangkan jalan yang wajar (bukan loncatan jauh) ialah meneliti, menyelidiki dan mempelajari obyek tersebut.

Jadi, proses industrialisasi akan membawa serta akibat menurunnya religio-magisme yang, untuk sebagian masyarakat, merupakan religiusitas itu sendiri. Karena itu, bagi mereka ini, industrialisasi memerosotkan religiusitas.

Tetapi, bagi masyarakat lain, industrialisasi dan modernisasi mungkin justru menopang dan meningkatkan religiusitas. Seperti telah diungkapkan mengenai empat dimensi religiusitas, bahwa religiusitas yang paling murni dan sejati ialah yang berdimensi budaya intrinsik, atau cultural consumatory. Yaitu sikap keagamaan yang memandang kepercayaan atau iman sebagai tujuan pada dirinya sendiri, yang menimbulkan perasaan bahagia karena nilai intrinsiknya. Religiusitas dalam dimensi ini tidak mengharapkan kegunaan di luar imannya sendiri. Dimensi religiusitas inilah yang agaknya akan semakin diperkuat oleh adanya pola-pola hubungan masyarakat industrial. Karena hal-hal yang bernilai instrumental telah dengan melimpah disediakan oleh struktur dan pola masyarakat industrial itu, maka agama menjadi semakin murni, dalam arti bahwa keagamaan tidak lagi banyak mengandung nilai instrumental. (Contoh sederhana ialah, karena “instrumen” untuk memberantas hama tanaman dalam suatu masyarakat industrial telah disediakan oleh ilmu dan teknologi—misalnya dalam bentuk insektisida—maka orang akan semakin berkurang mendekati Tuhan—misalnya dalam bentuk doa—dengan tujuan agar tanamannya di sawah tidak terkena hama; ia mungkin akan berpindah dari religiusitas berdimensi cultural instrumental ke cultural consumatory, di mana ia melihat ibadat sebagai tujuan pada dirinya sendiri yang menjadi sumber kebahagiaan).

Jadi, religiusitas yang tidak terancam oleh proses industrialisasi  dan modernisasi, malahan memperoleh dukungan dan pengukuhan, merupakan religiusitas yang bebas dari magisme, yaitu naturalisasi tindakan-tindakan manusia (physiomorphism of man). Tetapi, syarat lainnya ialah religiusitas itu harus bersandar kepada konsep wujud supra-empiris yang tidak akan bergeser menjadi empiris. Dengan perkataan lain, sumber kepercayaan dan nilai keagamaannya harus dapat dijamin bahwa ia tidak akan dapat dimengerti manusia dan diketahui rahasia-rahasianya.

Apakah ada kenyataan serupa itu? Seorang penganut filsafat materialisme (komunisme) akan mengatakan tidak ada. Sebab, dengan kecerdasannya, manusia, menurut filsafat itu, selalu mempunyai potensi untuk memahami dan membuka kenyataan apa saja dalam alam raya ini. Suatu obyek yang dahulu dianggap agung dan penuh misteri atau kegaiban sehingga patut dipuja, misalnya matahari, kini sudah semakin dipahami manusia dan terbuka rahasia-rahasianya. Matahari telah berhenti sebagai kenyataan supra-empiris, dan hanya menjadi obyek empiris biasa, sehingga tidak pantas lagi manusia menyembahnya. Maka, bagi seseorang yang religiusitasnya berkaitan dengan konsep kegaiban matahari, proses industrialisasi dan modernisasi benar-benar telah menghapuskan sama sekali religiusitas itu.

Teori komunis itu masih harus ditunggu bukti kebenarannya sampai dengan lengkapnya pengalaman manusia dan pengetahuannya yang meliputi segala wujud di jagad raya ini. Tetapi, di sinilah letak paradoksnya: justru suatu kenyataan disebut supra-empiris karena ia tidak mungkin dibuktikan ada-tidaknya melalui prosedur dan norma empiris. Manifestasi tunggal adanya kenyataan supra-empiris itu hanya dirasakan oleh mereka yang meyakini dan menerima dengan sungguh-sungguh ajaran tentang adanya kenyataan itu. Hal ini membawa kita ke ungkapan sederhana, namun mungkin sekali mengandung kebenaran yang bersifar prinsipal, bahwa ada atau tidak adanya religiusitas, baik di masyarakat industrial maupun lainnya, tergantung kepada kegiatan penanaman iman oleh masyarakat bersangkutan, yaitu pendidikan keagamaan pada umumnya.

 

BAGIKAN

BERIKUTNYA

Leave a Reply