Nurcholish Madjid Nurcholish Madjid

Agama dan Budaya: tak Terpisah tapi Berbeda

Usaha memperkenalkan budaya Islam yang khas Indonesia kepada masyarakat umum, termasuk masyarakat luar negeri, yang sebagian besarnya melalui pariwisata, selain diharapkan mempunyai dampak peningkatan kesadaran kultural Islam, juga diharapkan menumbuhkan pengakuan dan penerimaan umum pada taraf internasional, khususnya taraf dunia Islam sendiri, bahwa suatu bentuk budaya Islam seperti di negeri kita ini adalah sepenuhnya absah dan tidak dapat dipandang sebagai “kurang Islami” dibanding dengan bentuk budaya Islam di tempat-tempat lain.

Mungkin pernyataan serupa itu bagi sebagian orang terasa berlebihan, karena dalam penglihatannya tidak ada masalah dalam pengakuan keabsahan bagi suatu bentuk budaya Islam yang spesifik daerah tertentu atau kawasan tertentu. Jika memang demikian halnya, tentu sangat menyenangkan. Tetapi betapa sering pengalaman pribadi orang Muslim Indonesia yang harus menerangkan dan membela kekhasan budaya Islamnya berhadapan dengan sikap tidak mengesahkan dan tidak mengakui dari sesama saudara Muslimnya dari tempat, negara atau bangsa lain.

Lebih dari itu, di kalangan kaum Muslim Indonesia sendiri pun pandangan mengenai masalah agama dan budaya itu kebanyakan belum jelas benar. Ketidakjelasan itu dengan sendirinya berpengaruh langsung kepada bagaimana penilaian tentang absah atau tidaknya suatu ekspresi kultural yang khas Indonesia, bahkan mungkin khas daerah tertentu Indonesia. Seperti telah menjadi kesadaran kebanyakan orang Muslim, antara agama dan budaya tidaklah dapat dipisahkan. Tetapi juga sebagaimana telah diinsafi oleh banyak ahli, agama dan budaya itu, meskipun tidak dapat dipisahkan namun dapat dibedakan, dan tidaklah dibenarkan mencampur aduk antara keduanya. Agama an sich bernilai mutlak, tidak berubah menurut perubahan waktu dan tempat. Tetapi budaya, sekalipun yang berdasarkan agama, dapat berubah dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat. Sementara kebanyakan budaya berdasarkan agama, namun hal itu tidak pernah terjadi sebaliknya, yaitu agama berdasarkan budaya. Sekurangnya begitulah menurut keyakinan berdasarkan kebenaran wahyu Tuhan kepada para Nabi dan para Rasul. Oleh karena itu agama adalah primer, dan budaya adalah sekunder. Budaya dapat merupakan ekspresi hidup keagamaan, karena itu sub-ordinate terhadap agama, dan tidak pernah sebaliknya. Sementara agama adalah absolut, berlaku untuk setiap ruang dan waktu, budaya adalah relatif, terbatasi oleh ruang dan waktu.

Pembicaraan di atas membawa kita kepada masalah agama dan budaya yang sangat penting. Yaitu, sekali lagi, bahwa antara keduanya, dalam banyak hal, mungkin tidak terpisahkan, namun tetap ada perbedaan. Dan cara berpikir yang benar, dalam kaitannya dengan masalah tradisi dan inovasi, menghendaki kemampuan untuk membedakan antara keduanya itu. Tapi masalahnya ialah, seperti telah disinggung, bagi kebanyakan orang sulit sekali, atau cukup sulit, membedakan mana agama yang mutlak, dan mana budaya yang menjadi wahana ekspresinya dan yang nisbi itu. Kekurangjelasan itu dapat mengakibatkan kekacauan tertentu dalam pengertian tentang susunan atau hirarki nilai, yaitu berkenaan dengan persoalan mana nilai yang lebih tinggi dan mana yang lebih rendah. Dan kekacauan ini dapat, dan amat sering, berakibat sulitnya membuat kemajuan, akibat resistensi orang terhadap perubahan.

Sebagai sebuah contoh, suatu kasus sederhana di negeri kita, dan yang kini sudah menjadi sebuah cerita klasik, dapat diajukan di sini: soal bedug (dan kentongan). Sebelum orang Indonesia mampu membuat menara yang tinggi sehingga suara azan dapat terdengar cukup jauh, panggilan kepada sembahyang dengan memukul bedug dan kentongan yang merupakan pinjaman dari budaya Hindu-Budha adalah yang paling mungkin. Dan harus kita perhatikan juga bahwa radius jangkauan suara azan dalam lingkungan daerah tropis yang subur dan penuh pepohonan, seperti di Tanah Air ini, adalah jauh lebih pendek dan sempit daripada dalam lingkungan padang pasir yang tidak bertetumbuhan. Tetapi ketika orang sudah dapat membuat menara tinggi, dan apalagi setelah adanya pengeras suara (meskipun “made in Japan”[!]), maka bedug sebenarnya menjadi tidak relevan, dan harus di-“devaluasi” dan di-“desakralisasi” (dicopot dari nilai kesuciannya dengan ditegaskan bahwa semua itu tidak termasuk agama, melainkan masalah budaya belaka). Gerakan reformasi Islam di negeri kita awal abad ini, seperti Muhammadiyah, Persis dan al-Irsyad, umumnya menganut pandangan demikian dalam kerangka tema besar mereka untuk “memurnikan” agama dan memerangi “bid`ah” dan “khurafat”. Namun kenyataannya, upaya “pemurnian” tersebut tidaklah bisa diterima secara mudah. Bagi kebanyakan orang di masyarakat kita, bedug merupakan bagian integral dari masjid, dan masjid tanpa bedug bagi mereka hampir tidak masuk akal, bagaikan “sayur tanpa garam”. Dan ini memberi ilustrasi sederhana namun cukup substantif tentang bagaimana sulitnya orang umum menempatkan nilai-nilai hidup dalam susunan atas-bawah, tinggi-rendah, primer-sekunder, universal-partikular yang tepat dan benar, dan bagaimana kekacauan itu dapat berakibat pembelengguan mental, sampai kepada sikap menghadapi hal-hal yang amat sederhana seperti bedug dan kentongan. Bagi mereka simbol menjadi lebih penting daripada fungsi atau substansi, dan makna telah digantikan oleh kerangka.

BAGIKAN

BERIKUTNYA

Leave a Reply