Nurcholish Madjid Nurcholish Madjid

AGAMA DAN ETOS KERJA

Persoalan etos kerja menjadi salah satu bahan pembicaraan yang ramai di masyarakat kita. Pembicaraan itu tidak jarang dalam suasana kuatir bahwa jika bangsa kita tidak dapat menumbuhkan etos kerja yang baik, kemungkinan besar bangsa kita akan tetap tertinggal oleh bangsa-bangsa lain, termasuk oleh bangsa-bangsa tetangga dalam lingkungan Asia Tenggara atau, lebih-lebih lagi, Asia Timur. Bahkan di waktu zaman Orde Baru pernah terdengar ramalan yang bernada pesimis bahwa jika kita tidak berhasil menjadi negara maju (dalam jargon politik kita disebut “tinggal landas”), maka dalam waktu sekitar seperempat abad yang akan datang, ketika seluruh bangsa Asia Timur telah menjadi negara industri, Indonesia akan menjadi tidak lebih dari “back yard” (halaman belakang) kawasan ini (yang sekarang sudah hampir menjadi kenyataan).

Kebetulan pula ada sinyalemen bahwa bangsa kita memang menderita kelemahan etos kerja itu. Sebuah pembahasan dalam Reader’s Digest (sebuah majalah populer konservatif, dan merupakan salah satu dari majalah dengan oplah terbesar di muka bumi) mengatakan Indonesia tidak akan dapat menjadi negara maju dalam waktu dekat ini, karena “Indonesia has lousy work ethic and serious corruption” (Indonesia mempunyai etika kerja yang cacat dan korupsi yang gawat).

Pengertian kamus bagi perkataan “etos” menyebutkan bahwa ia berasal dari bahasa Yunani (êthos) yang bermakna watak atau karakter. Maka secara lengkapnya “etos” ialah karakter dan sikap, kebiasaan serta kepercayaan, dan seterusnya, yang bersifat khusus tentang seorang individu atau sekelompok manusia. Dan dari perkataan “etos” terambil pula perkataan “etika” dan “etis” yang merujuk kepada makna “akhlâq” atau bersifat “akhlâqî”, yaitu kualitas esensial seseorang atau suatu kelompok, termasuk suatu bangsa. Juga dikatakan bahwa “etos” berarti jiwa khas suatu kelompok manusia, yang dari jiwa khas itu berkembang pandangan bangsa tersebut tentang yang baik dan yang buruk, yakni etikanya.

Dalam pengertian itu maka negara-negara industri baru (NIC’s, Newly Industrializing Countries), yaitu Korea Selatan, Taiwan, Hong Kong dan Singapura, seringkali dirujuk sebagai “little dragons” (ular-ular kecil). Maksudnya, NIC’s adalah negara-negara Konfusianis (penganut ajaran Kong Hucu, dengan ular naga sebagai binatang mitologis dalam sistem kepercayaan mereka). Dalam kalimat lain, sebutan itu menunjukkan anggapan bahwa NIC’s menjadi maju berkat ajaran atau etika Konghucu. Dengan begitu maka untuk kemajuan negara-negara tersebut, kredit, pujian dan penghargaan diberikan kepada ajaran-ajaran Konghucu, dengan pandangan yang hampir memastikan bahwa negara-negara itu maju karena ajaran failasuf Cina itu. Selanjutnya, kesimpulan pun dibuat bahwa etika Konghucu memang relevan, bahkan mendukung, bagi usaha-usaha modernisasi dan pembangunan bangsa industrial. Cara pandang serupa itu sebenarnya merupakan penerapan Weberisme atas gejala di luar Eropa Barat, seperti telah banyak dilakukan para ahli.

 

BAGIKAN

BERIKUTNYA

Leave a Reply