Nurcholish Madjid Nurcholish Madjid

AGAMA DAN INDUSTRIALISASI

Bentuk hubungan dinamis antara religiusitas dan industrialisasi atau modernisasi merupakan suatu persoalan rumit yang banyak menimbulkan kontroversi, khususnya di kalangan ilmuan sosial. Suatu ungkapan yang hampir menjadi semacam stereotipe dalam percakapan sehari-hari menggambarkan bahwa seolah-olah agama merupakan hambatan terhadap proses modernisasi dan industrialisasi. Meskipun dalam beberapa kasus yang bersifat ad hoc pernyataan itu mungkin benar—misalnya, adanya agama yang menentang program keluarga berencana baik falsafi maupun teknis. Padahal menurut para ahli, program tersebut mutlak diperlukan oleh negara-negara berkembang dalam proses industrialisasinya—tetapi generalisasi bahwa agama merupakan rintangan bagi pembangunan ekonomi sampai saat ini belum memperoleh dukungan ilmiah yang tangguh. Sebaliknya, pendapat bahwa agama atau keagamaan tertentu merupakan dorongan bagi terjadinya proses modernisasi adalah suatu tesis yang bernada terlampau optimis jika dikemukakan secara umum. Sesungguhnya penelitian mengenai hubungan dinamis antara agama dan proses modernisasi telah cukup lama menjadi perhatian para ahli, dengan kadar kedalaman yang berbeda-beda. Yang paling terkenal ialah tesis Max Weber tentang adanya hubungan etika Protestan, khususnya Calvinisme, dengan semangat kapitalisme modern. Baginya kapitalisme adalah imbangan sosial bagi teologi Calvinis. Ide pokok yang hendak dikukuhkan oleh Weber dalam teorinya ialah ungkapan karakteristik yang disebut “panggilan” (calling). Bagi Luther, sebagaimana bagi kebanyakan ahli teologi abad pertengahan, calling biasanya berarti keadaan hidup atau kehidupan seseorang yang telah diletakkan oleh Tuhan (takdir), yang merupakan suatu dosa untuk melawannya. Bagi seorang pengikut Calvin, sebagaimana dikemukakan oleh Weber, calling bukanlah kondisi di mana seseorang dilahirkan, melainkan suatu kegiatan usaha yang sibuk dan pasti yang dipilih sendiri oleh orang bersangkutan, yang diperjuangkan dengan perasaan tanggung jawab keagamaan. Kehidupan usaha atau bisnis, karena dibaptiskan dalam air teologi Calvinis yang beku, mengalami perubahan dari keadaan semula yang dianggap sebagai sesuatu yang merusak jiwa atau ruhani menjadi sesuatu yang justru mengandung kesucian. Pekerjaan bukanlah semata-mata alat ekonomi: pekerjaan adalah suatu tujuan ruhani. Ketamakan, jika toh berbahaya terhadap ruhani, adalah suatu ancaman yang tidak begitu berat dibandingkan dengan kemalasan. Jauh dari pandangan bahwa kemiskinan adalah kebajikan, seorang Calvinis merasa wajib berusaha memperoleh pekerjaan yang lebih menguntungkan. Jauh dari pandangan bahwa antara kegiatan mencari uang dan kehidupan seorang agamawan terdapat permusuhan yang tak terhindarkan. Kedua pola kehidupan itu justru dianggap sebagai sekutu-sekutu yang alamiah, sebab kebaikan-kebaikan yang ada pada seorang yang “terpilih”—yaitu sifat rajin, hemat, sabar dan bijaksana—adalah paspor yang paling dapat diandalkan untuk menuju kemakmuran komersial. Jadi, mengejar kekayaan, yang dahulunya dianggap musuh agama, sekarang disambut sebagai sekutu keagamaan. Kebiasaan-kebiasaan dan lembaga-lembaga yang mengekspresikan filsafat tersebut bertahan hidup lama sesudah kepercayaan atau kredo yang menjadi induknya menghilang atau pindah dari Eropa ke tempat-tempat lain yang lebih cocok. Weber mengatakan, pada bagian kesimpulan teorinya, bahwa jika kapitalisme lahir sebagai idealisme praktis dari kaum borjuis yang bercita-cita untuk masa depan, maka ia berakhir sebagai pesta pora materialisme.

Penelaahan lain mengenai hubungan agama dengan proses industrialisasi dan modernisasi dilakukan oleh sosiolog Robert N. Bellah. Dalam bukunya yang berasal dari tesis Ph.D.-nya, Bellah mengemukakan adanya hubungan dinamis antara agama Tokugawa dan kebangkitan ekonomi Jepang modern. Baginya, etika ekonomi Jepang modern bersumber dari etika kelas samurai yang merupakan tulang punggung pembaruan Meiji (1868-1911), dan etika samurai itu sendiri berakar dalam ajaran-ajaran Tokugawa. Disebutkan oleh Bellah, sebagai contoh etika dari Jepang itu, kutipan tentang aturan-aturan rumah tangga samurai Iwasaki, pendiri Mitsubishi, yang merupakan adaptasi paling menarik dari etika samurai kepada situasi industrialis modern:

Janganlah disibukkan oleh persoalan-persoalan kecil, melainkan pusatkan perhatian kepada manajemen usaha-usaha besar.

Sekali engkau memulai suatu usaha, yakinlah bahwa engkau akan berhasil.

Jangan melibatkan diri ke dalam usaha-usaha spekulatif.

Jalankan semua usaha dengan jiwa kepentingan nasional.

Jangan sekali-kali melupakan jiwa murni pelayanan umum dan makoto.

Bekerja keraslah dan hiduplah sederhana, dan penuh perhatian kepada orang-orang lain.

Gunakan personil yang tepat.

Perlakukan karyawan-karyawanmu dengan baik.

Bersikaplah keras dan tegas dalam memulai suatu usaha, tetapi hati-hati dan cermatlah dalam kelanjutan usaha itu.

 

BAGIKAN

BERIKUTNYA

Leave a Reply