Nurcholish Madjid Nurcholish Madjid

AGAMA DAN KEADILAN

Jika keadilan dikaitkan dengan agama, maka yang pertama-tama dapat dikatakan ia­lah bahwa usaha mewujudkan keadilan merupakan salah satu dari sekian banyak sisi ke­nya­ta­an tentang agama. Sesudah umat manusia mengenal peradaban di lembah Mesopotamia, Irak se­ka­rang, sekitar 6000 tahun yang lalu, persoalan keadilan merupakan tantangan hidup manusia yang tidak pernah berhenti diperjuangkan. Penemuan sistem pertanian (sebagai ber­kah langsung dari dua sungai yang banjir secara periodik dan pasang-surut) serta diji­nak­kannya binatang (yang membuat manusia tidak lagi hanya bersandar kepada kekuatan fi­sik­nya dalam bertani), telah memungkinkan terjadinya akumulasi kekayaan pada manusia.

Karena manusia mendapati dirinya, persis karena adanya kemakmuran itu, harus me­nyusun masyarakat dengan membagi pekerjaan, termasuk kekuasaan, antara para anggotanya, maka mulailah masyarakat manusia tersusun menjadi tinggi-rendah, di mana yang kuat meng­alahkan atau menguasai yang lemah. Pembagian manusia menjadi empat tingkat (yang kelak setelah ditiru dan diambil alih oleh bangsa-bangsa Arya melahirkan sistem kasta), pada mu­la­nya muncul sebagai keharusan pembagian kerja masyarakat beradab, dan selanjutnya mewu­jud nyata dalam konsep kenegaraan. Tetapi serentak dengan itu pula muncul masalah keadilan. Maka tampillah para literati, yaitu kelas tertinggi dalam sistem masyarakat yang bersusun itu, yang tugasnya ialah “meneropong langit” dengan jaminan hidup sepenuh-penuhnya, atau se­orang tokoh dari mereka, yang mampu mengenali adanya ketidakadilan, kemudian ia berusaha me­rombak masyarakat atas dasar “wisdom”  yang diperolehnya.

Padanan fungsional kaum literati itu pada waktu sekarang ialah kaum intelektual, atau mungkin lebih tepat lagi kaum inteligensia. Yaitu, suatu kelompok dalam masyarakat yang ka­rena tingkat kemampuan inteleknya yang tinggi dan komitmen moralnya yang kukuh, mampu tetap bertahan untuk tidak “terlibat langsung” dalam persoalan hidup keseharian. Sikap “de­tach­ment”  ini membuat mereka berpeluang lebih baik untuk melihat masalah hidup secara “ob­yektif”, karena itu mereka berotoritas.

Kaum literati zaman Sumeria-Babilonia itu, terlebih lagi penampilan tokoh‑to­koh­nya yang sangat menonjol dengan wisdom dan karisma, adalah juga padanan fung­sio­nal para Nabi dan Rasul. Sekalipun jumlah mereka tidak pernah banyak, namun merupakan penentu jalan sejarah umat manusia. Disebabkan oleh berakarnya wawasan me­re­ka dalam nilai kemanusiaan yang tinggi dan murni, maka terdapat kesamaan asasi antara sesama mereka dalam misi dan tugas suci. Perbedaan yang ada di antara mereka hanyalah dalam segi-segi “tek­nis” pelaksanaan atau pewujudan misi sebagai akibat dari tuntutan ruang dan waktu yang berbeda-beda.

Dari situ kita sudah mulai dapat melihat korelasi antara agama dan usaha mewu­jud­kan keadilan (atau, secara negatifnya, antara agama dan usaha melawan kezaliman). Seorang tokoh dari mereka, yang memiliki tingkat wisdom yang demikian tinggi dan wawasan kemanusiaan yang demi­ki­an luhur, dipandang sebagai “orang yang mendapat berita” (makna asal kata-kata Arab Nabîy).  Jika wisdom yang diperolehnya itu tidak hanya untuk diri sen­diri saja, dan tokoh itu mengemban misi suci (risâlah) untuk disam­pai­kan kepada masyara­kat pada umumnya, maka dalam bahasa Arab ia di­se­but “Rasûl” (pengemban atau pemilik misi su­ci) seka­ligus dipandang sebagai “Utusan” dari Tuhan Maha Tinggi. Karena itu tidak heran bahwa hampir semua unsur pokok agama dapat ditelusuri kem­bali ke Sumeria-Babilonia. Hal ini antara lain di­buktikan atau dilambangkan dalam wawasan dan penampilan Nabi Ibrahim, seorang to­koh da­ri Ur atau Kaldea di Mesopotamia, yang kelak berdiam dan wafat di Kana’an atau Pales­tina Se­latan, setelah ia meninggalkan negerinya dan terlebih dahulu pergi ke Harran di daerah hu­lu lembah Furat-Dajlah.

 

 

 

BAGIKAN

BERIKUTNYA

Leave a Reply