Nurcholish Madjid Nurcholish Madjid

AGAMA DAN KEHIDUPAN MODERN

Peranan agama dalam kehidupan modern biasanya dihubungkan dengan konotasi modernitas yang mengalami—atau malah menderita—ekses. Ekses itu adalah akibat dominasi ilmu dan teknologi yang, menurut Ashadi Siregar, hanya mampu melahirkan teknokrat-teknokrat tanpa perasaan (suatu pernyataan yang bersifat karikatural). Kepentingan serta persoalan ilmu dan teknologi ialah obyektivitas. Karena itu, dengan sendirinya obyektivisme itu akan sering berbenturan dengan subyektivisme, sehingga, sebagaimana halnya dengan mesin tanpa perasaan, mengingkari perseorangan (depersonalization) yang berarti mengurangi arti kemanusiaan (dehumanization) dan mengakibatkan ketidaksanggupan seseorang mengenali dirinya sendiri dan makna hidupnya, atau mengalami apa yang dinamakan keterasingan (alienation). Ilmu dan teknologi berhubungan dengan bidang yang sedemikian rupa sifat dan nilainya, sehingga disebut saja profane atau duniawi. Dan keprofanan berada dalam posisi yang antagonistis dengan kesakralan atau rasa kesucian tersebut.

Sebuah magnit tak mungkin ada tanpa kedua unsurnya yang antagonistis—kutub utara dan selatan. Demikian pula kehidupan yang wajar, ia memerlukan keseimbangan antara aspek profan dan aspek sakral. Maka, tidak heran pada masyarakat modern—dalam konotasi tersebut—masalah mencari dan menemukan makna hidup yang ultimate, yang berarti sakral, menjadi semakin serius dan akut. Indikasi-indikasi ke arah itu dapat disebutkan dalam dua hal yang berlawanan: negatif dan positif. Yang negatif berupa gejala bahwa penyakit jiwa lebih banyak pada masyarakat modern daripada masyarakat yang lebih sederhana (untuk Indonesia: lebih banyak di kota-kota besar daripada di desa-desa). Yang positif berupa gejala semakin tertariknya orang-orang modern kepada pemikiran-pemikiran spekulatif (di Amerika lebih banyak orang membaca Alkitab sekarang ini daripada dulu, meskipun pengunjung gereja menurun).

Karena itu yang paling aman adalah mengatakan bahwa agama, betapapun, akan dibutuhkan manusia, dan dengan demikian ia akan tetap berperan. Sebab, sebagaimana dikatakan oleh Julian Huxley: “Manusia selalu concerned tentang nasibnya—artinya, tentang kedudukan dan peranannya di alam raya, tentang bagaimana ia memenuhi peranan tersebut. Semua masyarakat manusia mengembangkan jenis alat-alat tertentu untuk mengatasi masalah ini—alat-alat untuk mengarahkan ide-ide dan emosi-emosinya serta untuk membina sikap-sikap batin, pola-pola kepercayaan dan perilaku dalam hubungannya dengan konsepsi mereka tentang nasibnya. Semua alat sosial yang berkenaan dengan nasib itu, menurut saya, dapatlah secara sepenuhnya dimasukkan di bawah judul agama”.

Kalau masa depan tetap terbuka, lalu apa yang hendak diajukan? Jika agama benar-benar merupakan sesuatu yang vital, tidak hanya bagi perseorangan, tapi juga untuk masyarakat, maka ia dituntut untuk memiliki tiga hal. Ia harus merupakan suatu way of life yang dapat dirasakan secara mendalam oleh pribadi—apa yang hendak dilakukan oleh seseorang dalam kesendiriannya—kata Whitehead, sebagai suatu way of life bersama yang didasarkan pada pendekatan spiritual dan emosional tertentu, kepercayaan-kepercayaan tertentu, pedoman-pedoman tertentu dalam bidang nilai, dan sikap-sikap tertentu dalam menghadapi nasib manusia. Dan sebagaimana sekarang ini pun telah ada masyarakat-masyarakat agama atau jamaah-jamaah, maka demikian pula, agama di masa mendatang memerlukan organisasi sendiri sebagai rangkanya. Dan akhirnya—dan inilah yang sering hilang di masa lalu akibat pertentangan antara dasar-dasar pemikiran religius dan ilmiah—masyarakat agama dan kehidupan individual orang-orang agama harus mempunyai suatu hubungan organis dengan masyarakat secara keseluruhan dalam hal yang berkenaan dengan pikiran, moral dan perasaan. Hal itu berarti bahwa keagamaan harus relevan dengan kehidupan nyata. Dalam hubungannya dengan hal ini, kita sering lupa bahwa dunia ini sebenarnya senantiasa berkembang. Sedangkan dalam setiap perkembangan, tentu itu berarti perubahan. Karena itu, keagamaan harus mampu menampung perubahan masyarakat (social change).

 

 

BAGIKAN

BERIKUTNYA

Leave a Reply