Nurcholish Madjid Nurcholish Madjid

AGAMA DAN PENDIDIKAN AGAMA

Banyak hal yang harus kita renungkan tentang agama dan pendidikan agama, terutama dalam rumah tangga. Pertama, perenungan tentang apa yang dimaksudkan dengan agama? Kedua, tentang apa yang dimaksudkan dengan pendidikan agama? Dan, ketiga, apa yang dimaksudkan dengan pendidikan agama dalam rumah tangga?

Renungan pertama untuk sementara orang barangkali masih mengejutkan. Sebab, masihkah harus ada pertanyaan tentang apa yang dimaksudkan dengan agama? Bukankah agama bagi semua orang sudah begitu jelas sehingga mestinya tidak perlu lagi perenungan akan apa maksudnya? Tapi bagi banyak orang renungan itu sudah sering terdengar. Misalnya, di antara para muballigh dan tokoh agama ada yang memperingatkan bahwa agama bukanlah sekedar tindakan-tindakan ritual seperti shalat dan membaca doa. Agama lebih dari itu, yaitu keseluruhan tingkah laku manusia yang terpuji, yang dilakukan demi memperoleh ridla atau perkenan Allah. Agama, dengan kata lain, meliputi keseluruhan tingkah laku manusia dalam hidup ini, yang tingkah laku itu membentuk keutuhan manusia berbudi luhur (akhlâq karîmah), atas dasar percaya atau iman kepada Allah dan tanggung jawab pribadi di hari kemudian. Inilah makna pernyataan dalam doa pembukaan (iftitâh) shalat, bahwa shalat kita itu sendiri juga darma bakti kita, hidup kita dan mati kita, semua adalah untuk atau milik Allah, seru sekalian alam. Inilah pernyataan tentang makna dan tujuan hidup yang diperintahkan Tuhan untuk kita kemukakan setiap saat. Katakan (wahai Muhammad), “Sesungguhnya Tuhanku telah memberi petunjuk kepadaku ke arah jalan yang lurus, berupa agama yang benar, yaitu agama Ibrahim yang hanîf dan dia itu tidak termasuk kaum yang musyrik”. Katakanlah (wahai Muhammad), “Sesungguhnya shalatku, darma baktiku, hidupku dan matiku adalah untuk Allah, Tuhan seru sekalian alam, tiada mempunyai sekutu. Untuk semua itulah aku diperintahkan, dan aku adalah yang pertama dari golongan yang pasrah (Muslim)” (Q., 6: 161-162).

Oleh karena itu, renungan tentang apa yang dimaksud dengan pendidikan agama muncul secara logis, sebagai kelanjutan dari renungan tentang apa itu agama. Karena agama adalah seperti yang dimaksud di atas, maka agama tidak terbatas hanya kepada pengajaran tentang ritus-ritus dan segi-segi formalistiknya belaka. Ini tidak berarti pengingkaran terhadap pentingnya ritus-ritus dan segi-segi formalistik agama, tidak pula pengingkaran terhadap perlunya ritus-ritus dan segi-segi formal itu diajarkan kepada anak. Semua orang telah menyadari dan mengakui hal itu. Sebab ritus dan formalitas merupakan—atau ibarat—“bingkai” bagi agama, atau “kerangka” bagi bangunan keagamaan. Karena itu setiap anak perlu diajari bagaimana melaksanakan ritus-ritus itu dengan baik dengan memenuhi segala “syarat dan rukun” keabsahannya.

Tetapi sebagai “bingkai” atau “kerangka”, ritus dan formalitas bukanlah tujuan dalam dirinya sendiri. Ritus dan formalitas—yang dalam hal ini terwujud dalam apa yang biasa disebut “Rukun Islam”—baru mempunyai makna yang hakiki jika menghantarkan orang yang bersangkutan kepada tujuannya yang hakiki pula, yaitu kedekatan (taqarrub) kepada Allah dan kebaikan kepada sesama manusia (akhlâq al-karîmah). Ini dapat kita simpulkan dari penegasan dalam Kitab Suci bahwa orang yang tidak memiliki rasa kemanusiaan, seperti sikap tidak peduli kepada nasib anak yatim dan tidak pernah melibatkan diri dalam perjuangan mengangkat derajat orang miskin, adalah palsu dalam beragama. Orang itu boleh jadi melakukan shalat, namun shalatnya tidak berpengaruh kepada pendidikan budi pekertinya, dengan indikasi ia suka pamrih dan bergaya hidup mementingkan diri. Maka ia dikutuk oleh Allah. “Tahukah engakau (hai Muhammad), siapa yang mendustakan agama? Yaitu yang mengabaikan anak yatim, dan yang tidak dengan tegas membela nasib orang miskin. Maka celakalah mereka yang shalat itu! Yaitu mereka yang melupakan shalat mereka sendiri. Mereka yang suka pamrih dan yang enggan menolong barang sedikit” (Q., 107: 1-7).

Maka pendidikan agama sesungguhnya adalah pendidikan untuk pertumbuhan total seorang anak didik. Pendidikan agama tidak benar jika dibatasi hanya kepada pengertian-pengertiannya yang konvensional dalam masyarakat. Meskipun pengertian pendidikan agama yang dikenal dalam masyarakat itu tidaklah seluruhnya salah—jelas sebagian besar adalah baik dan harus dipertahankan—namun tidak dapat dibantah lagi bahwa pengertian itu harus disempurnakan. Maka dalam pengertiannya yang tidak atau belum sempurna itulah kita mendapatkan gejala-gejala tidak wajar berkenaan dengan pendidikan agama: seorang tokoh agama misalnya, justru menumbuhkan dan membesarkan anak-anaknya menjadi nakal dan binal. Padahal Nabi Saw. menegaskan bahwa beliau diutus hanyalah untuk menyempurnakan berbagai keluhuran budi. Hal ini diungkapkan dalam sebuah hadis terkenal, “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan berbagai keluhuran budi”.

Kalau kita pahami bahwa agama akhirnya menuju kepada penyempurnaan berbagai keluhuran budi, maka pertumbuhan seorang anak tokoh keagamaan menjadi anak yang nakal dan binal (baca: tidak berbudi) adalah suatu ironi dan kejadian menyedihkan yang tiada taranya. Dan itulah barangkali wujud bahwa anak adalah fitnah seperti dimaksudkan dalam firman Allah, Ketahuilah bahwa sesungguhnya harta-bendamu dan anak-anakmu adalah ujian (fitnah) (dari Tuhan), dan sedangkan Allah sesungguhnya menyediakan pahala yang agung (Q., 8: 28).

Karena itu peran orang tua dalam mendidik anak melalui pendidikan keagamaan yang benar adalah amat penting. Dan di sini yang ditekankan memang pendidikan oleh orang tua bukan pengajaran. Sebagian  dari usaha pendidikan itu memang dapat dilimpahkan kepada lembaga atau orang lain, seperti kepada sekolah dan guru agama, misalnya. Tetapi yang sesungguhnya dapat dilimpahkan kepada lembaga atau orang lain terutama hanyalah pengajaran agama, berwujud latihan dan pelajaran membaca bacaan-bacaan keagamaan, termasuk membaca Al-Quran dan mengerjakan ritus-ritus.

Sebagai pengajaran, peran “orang lain” seperti sekolah dan guru hanyalah terbatas terutama kepada segi-segi pengetahuan dan bersifat kognitif—meskipun tidak berarti tidak ada sekolah atau guru yang juga sekaligus berhasil memerankan pendidikan yang lebih bersifat efektif. Namun jelas bahwa segi efektif itu akan lebih mendalam diperoleh anak di rumah tangga, melalui orang tua dan suasana umum kerumahtanggaan itu sendiri.

 

BAGIKAN

BERIKUTNYA

Leave a Reply