Nurcholish Madjid Nurcholish Madjid

Agama Kemanusiaan

Satu aspek penting di dalam perjuangan meningkatkan kedaulatan rakyat adalah perjuangan menegakkan hak-hak asasi manusia. Kedaulatan rakyat tidak mungkin ada tanpa tegaknya hak-hak asasi.

Dalam soal penegakkan hak-hak asasi manusia, kita tidak perlu berkecil hati dengan gencarnya kritik dari luar negeri terhadap reputasi negara kita. Meski mungkin ada di antara kritik-kritik itu yang benar, namun tidak berarti bahwa keadaan hak-hak asasi di negara para pengkritik itu sedemikian bagusnya. Justru, dalam beberapa hal, kita masih lebih baik daripada mereka. Gaji wanita di Indonesia, misalnya, sama dengan pria jika mereka memiliki pendidikan, tanggung jawab serta kedudukan pekerjaan yang sama. Di Amerika, gaji wanita lebih rendah daripada pria, sekalipun pendidikan, kedudukan pekerjaan dan tanggung jawab mereka sama.

Sejak merdeka, Indonesia memberi hak politik penuh kepada kaum wanita untuk memilih dan dipilih. Karena itu, kita mempunyai tradisi peran wantia yang besar dalam perpolitikan kita, baik di legislative, eksekutif maupun di yudikatif. Tapi tidaklah demikian dengan Swedia, (negeri yang disebut paling banyak dicontoh dalam sistem perundangan modern) baru sejak 1980-an memberi hak politik kepada kaum wanita.

Walaupun begitu, harus diakui bahwa masih banyak hal yang harus dibenahi dalam kesadaran politik dan demokrasi di Indonesia, termasuk menyangkut wacana wanita menjadi pemimpin, yang sekarang masih ramai dibicarakan (sesuatu yang seharusnya tidak menjadi masalah karena agama secara substansial memberi tempat sejajar atau setara secara jender, kepada laki-laki maupun wanita untuk menjadi pemimpin). Laki-laki dan wanita mempunyai hak dan kewajiban yang sama di hadapan Allah.

Islam adalah agama yang sangat tinggi menjunjung hak-hak asasi manusia dalam inti ajarannya sendiri. Islam mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk kebaikan (fithrah) yang berpembawaan-asal kebaikan dan kebenaran (hanîf). Manusia adalah makhluk yang tertinggi (dibuat dalam sebaik-baik ciptaan), dan Allah memuliakan anak cucu Adam ini serta melindunginya di daratan maupun di lautan. Lebih dari itu, Allah mendekritkan, berdasarkan “pengalaman” pembunuhan Qabil atas Habil, dua anak Adam,

 

Karena itu Kami tentukan kepada Bani Israil: Bahwa barangsiapa yang membunuh orang yang tidak membunuh orang lain atau berbuat kerusakan di bumi, maka ia seolah membunuh semua orang; dan barangsiapa yang menyelamatkan nyawa orang, maka ia seolah menyelamatkan nyawa semua orang. Rasul-rasul Kami telah datang kepada mereka dengan bukti-bukti yang jelas. Tetapi kemudian setelah itu banyak di antara mereka melakukan pelanggaran di bumi (Q., 5:32).

 

Jadi, agama mengajarkan bahwa masing-masing jiwa manusia mempunyai harkat dan martabat yang bernilai dengan manusia sejagad. Masing-masing pribadi manusia mempunyai nilai kemanusiaan universal. Maka, kejahatan kepada seorang pribadi adalah sama dengan kejahatan kepada manusia sejagad, dan kebaikan kepada seorang pribadi adalah sama dengan kebaikan kepada manusia sejagad. Inilah dasar yang amat tegas dan tandas bagi pandangan kewajiban manusia untuk menghormati sesama dengan hak-hak asasinya yang sah.

Demikian pula berkenaan dengan hak-hak wanita, para pekerja, dan seterusnya, Islam mengajarkan nilai-nilai yang jauh lebih luhur daripada ajaran manapun. Mengenai buruh atau kaum pekerja, bahkan kaum budak, misalnya, Nabi Saw. menegaskan dalam sebuah pidato pada saat-saat menjelang wafat—yang dikenal dengan Khuthbat-u ‘l-wadâ’, antara lain demikian: “Wahai sekalian manusia! Ingatlah Allah! Ingatlah Allah! Ingatlah Allah, berkenaan dengan agamamu dan amanatmu! Ingatlah Allah! Ingatlah Allah, berkenaan dengan orang-orang yang kamu kuasai dengan tangan kananmu (budak, buruh, dll). Berilah mereka makan seperti yang kamu makan, dan berilah pakaian seperti yang kamu kenakan! Janganlah mereka kamu bebani dengan beban yang mereka tidak mampu memikulnya, sebab mereka adalah daging, darah, dan makhluk seperti kamu! Ketahuilah, bahwa orang yang bertindak zalim kepada mereka, maka akulah musuh orang itu di Hari Kiamat, dan Allah adalah Hakim mereka”.

Karena itu, tidaklah mengherankan jika seorang pejuang hak-hak asasi dari Filipina mengatakan kepada saya tentang respeknya yang begitu tinggi kepada nilai-nilai kemanusiaan dalam Islam. Berdasarkan itu ia juga menyatakan keyakinannya bahwa rumusan-rumusan internasional tentang hak-hak asasi, seperti Deklarasi Universal Hak-Hak Asasi oleh PBB pada 1948, tidak lain hanyalah “titik temu terendah” (lowest common denominator) dari pandangan-pandangan kemanusiaan yang ada. Sebagai “titik temu terendah,” sesungguhnya tuntutan hak-hak asasi dalam instrumen-instrumen internasional itu masih lebih rendah nilainya daripada yang dituntut Islam.

Tapi herankah kita bahwa umat Islam tampak seperti tidak banyak mengindahkan ajaran agamanya tentang hak-hak asasi manusia itu? Tentu saja tidak, karena ada banyak contoh tentang bagaimana umat Islam meninggalkan sebagian ajaran agamanya yang justru amat fundamental. Apalagi, jika kita terpukau hanya kepada segi-segi simbolik dan formal dari agama, maka kemungkinan banyak umat Islam tidak menjalankan hal-hal yang lebih esensial menjadi lebih besar lagi.

Lantaran itu, jika umat Islam benar-benar berharap memperoleh kejayaannya kembali seperti yang dijanjikan Allah, mereka harus memperbarui komitmen mereka kepada berbagai nilai asasi ajaran Islam, dan tidak terpukau kepada hal-hal yang lahiri semata. Hal-hal lahiri itu kita perlukan, dan tetap harus kita perhatikan, namun dengan kesadaran penuh bahwa fungsinya ialah untuk pelembagaan atau institusionalisasi nilai-nilai yang lebih esensial dan substantif.

Kini telah tiba saatnya bagi umat Islam mengambil inisiatif kembali dalam usaha mengembangkan dan meneguhkan nilai-nilai kemanusiaan, sejalan dengan kemestian ajaran agamanya sendiri. Untuk itu umat Islam sebenarnya memiliki perbendaharaan sejarah yang amat kaya, yang dapat dijadikan modal atau pangkal tolak.

Kesimpulannya: begitu penting dan mendesak umat Islam memahami kembali ungkapan nilai-nilai ajaran agamanya yang lebih asasi, misalnya perspektif kemanusiaan yang sangat universal, yang termuat dalam teks-teks suci keagamaan. Hanya dengan peneguhan pandangan ini, Islam dapat membuktikan diri sebagai agama kemanusiaan.

BAGIKAN

BERIKUTNYA

Leave a Reply