Nurcholish Madjid Nurcholish Madjid

AGAMA, MARXISME, KOMUNISME

Sistem Eropa Timur yang Marxis-Leninis adalah percobaan yang paling bersungguh-sungguh untuk menghapus agama dan melepaskan manusia dari peranan agama. Tetapi percobaan itu, biarpun Marx dan para pendukungnya mengklaim sebagai “ilmiah”, ternyata menemui kegagalan. Pertama, kaum Marxis tidak mampu benar-benar menghapus agama di sana, meskipun telah mengerahkan segenap dana dan daya. Kedua, justru amat ironis, Marxisme sendiri telah menjadi agama pengganti (quasi religion) yang lebih rendah dan kasar, jika tidak dapat dikatakan primitif.

Mereka yang yakin kepada ajaran komunisme boleh jadi memang benar telah berhasil membebaskan dirinya dari percaya kepada obyek penyembahan (Arab: ilâh, yang mengandung makna etimologis, antara lain “obyek sesembahan”). Sebab, dalam pandangan mereka, menyembah akan berakibat pada perbudakan dan perampasan kemerdekaan manusia. Namun ternyata mereka kemudian terjerembab ke dalam praktik penyembahan kepada obyek-obyek yang jauh lebih membelenggu, lebih memperbudak, dan merampas lebih banyak kemerdekaan mereka, yaitu para pemimpin yang bertindak tiranik dan otoriter. Apalagi para pemimpin itu dianggap personifikasi ajaran yang “suci”, sehingga wajar sekali ajaran itu dinamakan selalu dalam kaitannya dengan seorang tokoh pemimpin, seperti “Marxisme”, “Leninisme”, “Stalinisme”, “Maoisme”, dan lain-lain. Dalam istilah teknis keagamaan Islam, mereka jatuh ke dalam praktik syirik, atau bahkan lebih buruk lagi (disebut demikian sebab pengertian “syrik“, terutama sepanjang penggunaannya untuk penduduk kota Makkah yang menentang Nabi, berarti percaya kepada Tuhan namun beranggapan bahwa Tuhan itu mempunyai syarîk, yakni “peserta”, “associate“, meskipun derajat “peserta” itu lebih rendah daripada Tuhan sendiri, [Q., 39: 3]).

Meskipun Marxisme dapat dipandang sebagai padanan agama (religion equivalent) atau agama pengganti, namun karena secara sadar dan sistematis menolak setiap kemungkinan percaya kepada suatu wujud maha tinggi, maka ia tumbuh menjadi agama palsu (ersatz religion), lebih rendah dan kasar daripada agama-agama konvensional, serta lebih memperbudak manusia dan membelenggu kemerdekaannya. Marxisme, terutama dalam bentuknya yang dogmatis dan tertutup dalam komunisme, menjadi sebuah peristiwa tragis manusia dalam usaha mencari makna hidupnya dan menemukan pemecahan yang “ilmiah” bagi persoalan hidup.

 

 

BAGIKAN

BERIKUTNYA

Leave a Reply