Nurcholish Madjid Nurcholish Madjid

Agama Modern

Salah satu yang amat kuat dalam wawasan politik modern ialah terbentuknya negara hukum (rech staat) dan mencegah tumbuhnya negara kekuasaan (macht staat). Dalam pengalaman negara-negara Eropa, ide itu merupakan pembalikan dan perlawanan terhadap kecenderungan dan pola yang sangat umum di sana sebelum zaman modern, berupa kekuasaan absolut raja-raja dan para penguasa agama. Yang menarik adalah, seperti halnya dengan bidang-bidang dalam kehidupan yang lebih rasional dan manusiawi (seperti ilmu pengetahuan dan wawasan kemanusiaan atau humanisme), bangsa-bangsa Barat baru mulai benar-benar mengenal ide dan praktik tentang negara hukum dari pengetahuan mereka tentang dunia Islam.

Akhir-akhir ini bermunculan berbagai tulisan hasil kajian ilmiah yang menggambarkan bagaimana unsur-unsur peradaban Islam merembes dan mempengaruhi Barat yang kemudian berhasil menerobos zaman memasuki sejarah modern.

Tentang perkembangan modern tersebut, beberapa kalangan sarjana Barat sendiri mempersoalkan perbedaan antara “modernisme” dan “modernitas.” Yang pertama berkonotasi kuat pengagungan pola hidup zaman mutakhir sebagai “kebijaksanaan final” umat manusia, yaitu perwujudan terakhir proses panjang sejarah pertumbuhan dan perkembangan peradaban manusia. Jadi “modernisme” (sebagai “isme”), mirip dengan sebuah ideologi tertutup; ia adalah sama dengan sekularisme, rasionalisme, dan lain-lain.

Sedangkan “modernitas” adalah sebuah ungkapan kenyataan mengenai hidup zaman mutakhir ini, dalam pengertian positif negatif yang campur-aduk, dengan pendekatan spesifik kepada suatu masalah spesifik. Misalnya, dalam bidang-bidang yang menyangkut masalah teknikalitas, pengorganisasian, pengelolaan, dan produksi, zaman sekarang adalah benar-benar puncak kemampuan umat manusia, yang tingkat peradabannya, jika dibandingkan dengan zaman-zaman sebelumnya, tidak lagi terlukiskan menurut deret hitung, melainkan menurut deret ukur dengan angka faktor yang sangat besar.

Tetapi, tentang rasa moral dan kesucian yang benar (yang bebas dari unsur takhayul dan dongeng), zaman modern tidak menunjukkan tanda-tanda perbedaan berarti dengan zaman sebelumnya. Perasaan moral dan kesucian dalam maknanya yang paling hakiki, merupakan masalah kemanusiaan yang abadi dan perennial. Dan dalam beberapa hal, zaman modern sekarang menunjukkan segi-segi pelaksanaan yang lebih baik daripada zaman sebelumnya, tetapi dalam beberapa hal lain lebih buruk. Penampilan kemanusiaan yang paling kejam dan keji justru terjadi di zaman modern oleh bangsa-bangsa modern (Barat), berupa pemerosotan harkat dan martabat kemanusiaan orang-orang Afrika menjadi budak-budak yang hanya sedikit sekali berada di atas binatang (Portugis mempunyai peranan yang besar sekali di bidang ini), pemburuan dan pembunuhan orang-orang Aborigin untuk kesenangan dan cenderamata orang-orang kaya Eropa(!) dan pengisi museum antropologi mereka, pembersihan etnis, dan genosida oleh bangsa-bangsa (“modern”) Jerman dan Serbia, pendirian dan penegakan sebuah negara atas dasar mitos dan dongeng keagamaan (oleh kaum Yahudi) dengan merampas dan menindas hak bangsa lain yang sah, dan seterusnya. Dalam masalah-masalah ini, reputasi bangsa-bangsa Muslim adalah amat jauh mengatasi bangsa-bangsa “modern” tersebut, bahkan ketika sejarah Dunia Islam berada dalam fase yang paling rendah.

Oleh karena itu, sebenarnya posisi umat Islam menghadapi modernitas tidaklah terlampau sulit. Di luar masalah kejiwaan (orang Islam cenderung minder, kemudian menutup diri dan menjadi agresif, karena secara keliru merasa terkalahkan oleh orang Barat), yang dihadapi umat Islam tidak lain ialah tantangan bagaimana menghidupkan dan meneguhkan kembali nilai-nilai keislaman klasik (salaf) yang murni, dan menerjemahkannya dalam konteks ruang dan waktu yang ada. Sebab, seperti diamati dan telah menjadi pengakuan sejarah mutakhir, dari semua sistem ajaran khususnya agama yang secara sejati dilihat dari sudut semangat dan jiwa ajaran itu sendiri, Islam adalah agama yang paling dekat dengan segi-segi positif zaman modern. Ernest Gellner, misalnya, mengatakan bahwa hanya Islamlah dari semua agama yang ada yang esensi ajarannya sangat relevan dengan tuntutan segi positif modernitas, dan proses  ke arah itu tidak harus ditempuh dengan melakukan kompromi dan mengalah kepada desakan-desakan luar, tetapi justru dengan kembali ke asal dan mengembangkan nilai-nilai asasi sendiri.

“Hanya Islam yang bias bertahan hidup sebagai suatu keyakinan serius yang meliputi baik Tradisi Besar maupun tradisi rakyat,” begitu kata Ernest Gellner di dalam bukunya Muslim Society. “Tradisi yang besar dapat dibuat modern; dan pelaksanaannya dapat  diterapkan bukan sebagai sebuah inovasi atau konsesi kepada pihak luar, tapi lebih sebagai kelanjutan dan penyempurnaan dialog lama di dalam Islam…Maka di Islam, dan hanya di dalam Islam, pemurnian/modernisasi di satu segi, dan penegasan ulang identitas lokal lama di sisi lain, dapat dilakukan dengan bahasa yang sama lewat serangkaian simbol.”

Di sinilah relevansinya seruan kembali kepada Kitab Suci dan Sunnah Nabi, yang dalam sudut pandang dewasa ini, dapat dinilai sebagai sangat modern.

BAGIKAN

BERIKUTNYA

Leave a Reply