Nurcholish Madjid Nurcholish Madjid

Agama Perjanjian

Penyebutan kitab Yahudi dengan Perjanjian Lama sebenarnya problematis, karena mengisyaratkan ketidakberlakunnya dan dihapus oleh Perjanjian Baru, yaitu Injil. Orang-orang Yahudi sendiri menyebutnya dengan Taurat, yang terdiri dari “Nebazim” (cerita tentang nabi-nabi) dan “Khetubim” (cerita tentang kitab-kitab suci). Orang Islam tidak dibenarkan menyebutnya dengan Perjanjian Lama; tidak ada Perjanjian Lama ataupun Perjanjian Baru. Karena perjanjian antara Tuhan dengan manusia bersifat perennial, abadi. Memang ada perjanjian primordial antara manusia dengan Tuhan yang merupakan pangkal tolak konsep mengenai manusia. Dalam Al-Quran terdapat ilustrasi bahwa sebelum lahir, di alam ruhani, kita dipanggil oleh Tuhan untuk dimintai persaksian mengenai Allah sebagai Tuhan kita, dan waktu itu kita menjawab, “Ya, kami bersaksi (Engkau adalah Tuhan kami—NM)” (Q., 7: 172). Karena itu, tidak ada bakat yang lebih mendasar pada diri manusia selain bakat menyembah. Begitu lahir kita mempunyai naluri untuk menyembah, suatu bentuk dorongan gerak kembali kepada Tuhan.

Perjanjian primordial antara manusia dengan Tuhan terjadi pada dataran spiritual, karenanya tidak disadari. Ini analog dengan psikologi yang sebagian besar konstruksinya adalah bawah sadar, tetapi banyak mempen­garuhi hidup kita. Apalagi yang spiritual, sangat banyak mempengaruhi hidup kita, terutama menyangkut masalah pengalaman-pengalaman sejati tentang kebahagiaan dan kesengsaraan. Hal ini kemudian dikaitkan sebagai perjanjian dengan Tuhan, yang melalui perjanjian itu, manusia selalu mempunyai dorongan batin untuk kembali. Dan setiap keberhasilan kembali akan menim­bulkan kebahagiaan.

Terhadap anggapan bahwa semua orang ingin kembali ke rumah, maka ada ungkapan “Rumahku adalah surgaku”. Tidak berhasil kembali ke rumah berarti sesat, yang identik dengan kesengsaraan. Karena dorongan kembali kepada Tuhan mewarnai hidup kita, terutama menyangkut kesucian, maka bakat manusia itu disebut hanîf. Jadi, agama sebenarnya merupakan wujud dari perjanjian dengan Tuhan yang dalam bahasa Arab disebut mîtsâq. Perjanjian seperti The Ten Commandements dan sebagainya, sebenarnya merupakan pewujudan kembali dari sesuatu yang secara potensial ada dalam diri manusia. Kalau perjanjian dengan Tuhan diejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari, maka ia menjadi etika dan moral. Tema inilah yang terdapat dalam keseluruhan isi The Ten Commendements, yang dimulai dengan imperatif, kemudian negatif, dan sedikit yang positif.

BAGIKAN

BERIKUTNYA

Leave a Reply