Nurcholish Madjid Nurcholish Madjid

AGAMA tidak untuk yang Lain

“Mencari muka” dalam bahasa sehari-hari memang merupakan suatu istilah yang memiliki konotasi negatif. Tetapi dalam Al-Quran banyak digunakan istilah muka Tuhan. Al-Quran mengatakan, Bukankah bagi Allah ketaatan yang murni (ingatlah, hanya kepunyaan Allahlah agama yang bersih [dari syirik]—NM) (Q., 39: 3). Jika kita terjemahkan ayat tersebut dengan sedikit tafsîrî, maka maksudnya ialah agama tidak untuk yang lain. Bahwa kita tidak bisa tukar-menukar agama, sehingga kita mengucapkan, Agamamu untukmu dan agamaku untukku (bagi kamu ketundukkanmu, bagiku ketundukkanku—NM) (Q., 109: 6). Artinya, kalian tunduk kepada apa pun silakan, itu hak kalian sendiri, tetapi aku tetap tunduk kepada Allah. Dengan begitu ungkapan dîn tidak hanya khusus untuk Islam. Jika seeorang tunduk kepada berhala, maka dîn-nya adalah berhala, atau jika tunduk kepada uang karena seluruh hidupnya dikuasai oleh uang, maka dîn-nya adalah uang. Sebenarnya, ketika disebutkan, alâ lillâhi al-dîn al-khâlish, ini berarti bahwa kita tidak boleh tunduk kepada siapa pun juga kecuali kepada Allah Swt. Dan kepada mereka diperintahkan hanya supaya menyembah Allah, dengan ikhlas beribadah kepada-Nya, beragama yang benar, mendirikan shalat, dan mengeluarkan zakat: itulah agama yang lurus dan benar (Q., 98: 5).

Inilah yang setiap kali kita ucapkan dalam Al-Fâtihah, “iyyâka na‘bud” (Engkau yang kami sembah), wa iyyâka nasta‘în” (dan hanya kepada Engkau ya Allah aku mohon pertolongan). Dalam kitab-kitab tasawuf seperti Al-Hikam diuraikan lebih lanjut bahwa lafal “iyyâka na‘bud” adalah ucapan dari seseorang yang ikhlas, karena menyatakan bahwa ia hanya menyembah kepada Allah Swt. Tetapi kitab al-Hikam masih melihat bahwa dalam ungkapan “iyyâka na‘bud”, orang yang bersangkutan masih bisa mengatakan “Kami menyembah”. Artinya, ia masih melihat dirinya berperan. Ketika seseorang bersedekah dan masih bisa mengatakan kami bersedekah, hal itu mengindikasikan bahwa ia masih melihat peranan dirinya sendiri. Suatu keikhlasan yang cukup tinggi. Akan tetapi ada keikhlasan yang lebih tinggi lagi, yaitu “wa iyyâka nasta‘în”. Ketika kita mengucapkan, dan kepada-Mu kami memohonkan pertolongan, ini berarti kita mengakui bahwa kita tidak mampu, termasuk ketidakmampuan untuk berbuat baik dan menyembah Tuhan. Oleh karena itu, dalam kenyataan menyembah Allah seperti shalat dan sebagainya, kita harus bersyukur kepada Allah sebab kita digerakkan oleh Allah untuk menyembah kepada-Nya.

Di sinilah letak relevansinya dengan ucapan hawla wa lâ quwwata illâ billâh, tidak ada daya dan kekuatan melainkan Allah. Dengan begitu, kita telah mencapai keikhlasan yang tinggi. Bahwa ketika kita berbuat baik, kita tidak merasa berbuat baik. Hal ini adalah kebalikan dari mereka yang digambarkan dalam Al-Quran sebagai kejahatan yang dihiaskan kepadanya. Adakah orang yang pekerjaan buruk dibayangkan baik lalu menjadi baik (sama dengan orang yang mendapat bimbingan)? Allah akan membiarkan sesat siapa saja yang Ia kehendaki dan akan memberi bimbingan siapa saja yang Ia kehendaki. Maka janganlah biarkan jiwamu menderita karena mereka. Sungguh, Allah mengetahui segala yang mereka lakukan (Q., 35: 8).

BAGIKAN

BERIKUTNYA

Leave a Reply