Nurcholish Madjid Nurcholish Madjid

A. Mustofa Bisri: CAK NUR DI MATA SAYA

Saya pernah beberapa kali di tegur orang – di jalan, di kereta api, di warung—“Bapak Cak Nur ya?!” . Tentu saja saya mengatakan bukan. Aku heran, bagaimana ada orang sampai menyangka diriku Cak Nur, KH. DR. Nurcholish Madjid; namun terus terang, dalam hati aku merasa bangga disangka Cak Nur.

Ada pepatah Arab mengatakan Tasma’u bil Mu’aidi khairun min an taraah, Mendengar tentang Muaid lebih baik dari pada melihatnya. Pepatah ini untuk menyatakan kekecewaan orang setelah melihat sendiri tokoh yang didengarnya hebat dan ternyata tidak sehebat yang didengar. Kalau boleh saya menggunakan model pepatah itu untuk Cak Nur, saya akan mengatakan secara terbalik, Taraa Cak Nur khairun min an tasma’a bihi. Melihat sendiri Cak Nur lebih baik dari pada hanya mendengar tentangnya.

Saya sering mendengar –dan membaca– tentang Cak Nur dari beberapa tokoh dan media massa. Sebagai tokoh nasional, bahkan internasional, cendekiawan dan pemikir yang disebut-sebut sebagai pembaharu, segala gerak-gerik dan ucapan Cak Nur hampir selalu menjadi berita.

Pendek kata yang saya dengar tentang Cak Nur –sebagaimana tentang Gus Dur–semuanya serba hebat. Pemikirannya begitu canggih sehingga nyaris sulit membayangkannya sebagai manusia biasa yang bisa berbicara biasa-biasa saja. Pemikirannya mengenai hal-hal yang besar belaka; tentang Islam, tentang negara, tentang demokrasi, tentang kemanusiaan, tentang kehidupan berbangsa dan bernegara, tentang pergaulan dunia, dan sejenisnya. Lalu orang pun membayangkan Cak Nur adalah sejenis makhluk perkasa tak tersentuh yang tinggal di menara gading.

Memang sering orang membandingkan Cak Nur dengan rekan sedaerahnya, Gus Dur. Sama-sama dari Jombang, sama-sama NU; bedanya Cak Nur terkesan rapi, tidak tampak keNUannya, dan tak berpolitik praktis; sementara Gus Dur urakan, pernah menjadi ketua umum NU, dan menjadi ketua Dewan Syura Partai Kebangkitan Bangsa. Sama-sama nasionalis, sama-sama pemikir, sama-sama demokrat yang menghargai perbedaan, sama-sama  public figure yang penampilan dan pernyataannya dinantikan dan diingat-ingat orang. Sikap dan pernyataan-pernyataan keduanya juga sama-sama sering kontroversial. Bedanya, Cak Nur tidak terlalu sering dan tidak terasa mengguncang, Gus Dus hampir selalu controversial dan hampir selalu bikin geger. Kalau mau ditambahkan, keduanya sama-sama pernah dicalonkan/mencalonkan sebagai presiden. Bedanya Cak Nur kemudian mengundurkan diri, Gus Dur ditolak KPU.

Alhamdulillah, saya diberi kesempatan oleh Allah berkenalan secara pribadi dan sering kali bertemu dan berbincang-bincang dengan Cak Nur di luar “forum”.  Ternyata, di luar apa yang saya dengar dan dibayangkan orang, Cak Nur adalah sosok manusia yang benar-benar manusia, yang mengerti manusia, dan memanusiakan manusia. Ini menunjukkan bahwa Cak Nur memang, bukan hanya faham, tapi menghayati contoh yang diberikan pemimpin agungnya, Nabi Muhammad SAW dan tampak sekali mencoba mengamalkannya dalam kehidupannya.

Cak Nur bukan tokoh yang hanya mau mendengarkan dirinya sendiri. Cak Nur menghargai orang lain dan menyimak dengan seksama bicaranya; siapa pun orang itu. Maka dia bisa secara jernih menimbang untuk kemudian memberikan tanggapan bilamana perlu secara i’tidal.

Dalam forum, seperti halnya Gus Dur dan intelektual lain, Cak Nur tampak seolah-olah sangat sadar akan penguasaannya terhadap materi yang dibicarakannya. Bahkan setiap orang yang mendengarkannya bisa dipastikan juga merasakan hal ini. Namun Cak Nur akan memperhatikan setiap pertanyaan atau tanggapan orang terhadap paparannya dengan perhatian dan penghargaan yang kentara sekali. Maka saya sempat heran, ada kelompok orang yang tidak sependapat dengan Cak Nur dan tidak mau bertemu untuk mendiskusikannya secara baik-baik, malah lebih suka mendengarkan bicara mereka sendiri. Boleh jadi mereka tidak sebenarnya mengenal Cak Nur atau justru mereka takut bayangan kehebatan Cak Nur dan belum apa-apa sudah kehilangan nyali.

Di luar forum, Anda akan menjumpai manusia seperti yang saya sebutkan di atas. Manusia yang rendah hati. Menjawab pertanyaan; mendengarkan keluhan dan memberi saran bila diminta; mendengarkan joke dan tertawa bila memang lucu; dan menerima saran-kritik tanpa merasa direndahkan. Semua dengan sikap dasar: menghargai manusia sebagai manusia. Ini selaras dengan yang diisyaratkan Allah dalam kitab suciNya, “Walaqad karramNaa banii Adama…”

Walhasil; Cak Nur di mata saya, benar-benar merupakan ‘manusia seutuhnya’: seorang hamba dan sekaligus khalifah yang tidak hanya menyadari kekhalifahannya, tapi juga kehambaannya.

Hampir semua orang Indonesia merasa kehilangan dengan berpulangnya Cak Nur ke hadirat Ilahi, tapi saya kurang yakin apakah semuanya benar-benar menyadari seberapa besar kehilangan itu. Cak Nur dicintai orang banyak dan insya Allah ini  merupakan pertanda Allah menyintaiNya; sehingga mengampuni kesalahan-kesalahannya, menghargai amal-amal baktinya, dan menempatkan di tempat yang layak di sisiNya. Dan semoga Allah memberi ganti kepada bangsa ini atas kehilangan besar dengan kepergiaan Cak Nur, rahimahuLlah. Amin.

A. Mustofa Bisri

 

BAGIKAN

Leave a Reply