Nurcholish Madjid Nurcholish Madjid

Dr. Chandra Setiawan: CAK NUR SEORANG PEJUANG KEBEBASAN

AWAL PERKENALAN

Pada penghujung tahun 1995 saya memutuskan menjadi aktivis lintas agama dengan bergabung secara aktif di Masyarakat Dialog Antar Agama (MADIA) Jakarta. MADIA merupakan wahana perjumpaan dialogis antar pemeluk agama dan kepercayaan. Dialog pertama MADIA disponsori Yayasan Wakaf Paramadina. Penggunaan fasilitas Yayasan Wakaf Paramadina untuk mengadakan dialog/seminar lintas agama di mana saya berusaha senantiasa aktif membuat peluang saya untuk berjumpa dan mendengarkan ceramah-ceramah Cak Nur secara langsung. Di samping itu saya juga kadang-kadang hadir mendengarkan kuliah-kuliah Cak Nur yang kadangkala juga dapat dihadiri di luar peserta kursus Studi Islam. Misalnya pada tahun 1996, tepatnya 1 November 1996, penulis juga menyempatkan hadir pada Acara Peringatan Ulang Tahun ke 10 Yayasan Wakaf Paramadina untuk mendengar Cak Nur berpidato. Sampai saat ini (Mei 2006) makalah pidato Cak Nur berjudul,”Memberdayakan Masyarakat, Menuju Negeri Yang Adil, Terbuka dan Demokratis” masih penulis simpan dan kadang-kadang membacanya lagi, dan mengingat bagian-bagian penting dari pidato tersebut, antara lain,”Masyarakat berperadaban tidak akan terwujud jika hukum tidak ditegakkan dengan adil, yang dimulai dengan ketulusan komitmen pribadi. Masyarakat berperadaban memerlukan adanya pribadi-pribadi yang dengan tulus mengikatkan jiwanya kepada wawasan keadilan. Ketulusan ikatan jiwa itu terwujud hanya jika orang bersangkutan ber-iman, percaya, mempercayai, dan menaruh kepercayaan kepada Tuhan, dalam suatu keimanan etis, artinya, keimanan bahwa Tuhan menghendaki kebaikan dan menuntut tindakan kebaikan manusia kepada sesamanya. Dan tindakan kebaikan kepada sesama manusia itu harus didahului dengan diri sendiri menempuh hidup kebaikan, seperti dipesankan Allah ke pada para Rasul, agar mereka “makan dari yang baik-baik dan berbuat kebaikan”. Di dalam Ajaran Agama Khonghucu ada ayat-ayat  suci senada dengan yang diungkapkan Cak Nur di atas, terutama mengenai iman dan kebaikan, antara lain berbunyi, ”Iman itu harus disempurnakan sendiri, dan Jalan Suci itu harus dijalani sendiri pula” ( Zhong Yong XXIV:1). Adapun Jalan Suci yang dibawakan Ajaran Besar (Da Xue) ini, ialah menggemilangkan Kebajikan Yang Bercahaya (Ming De), mengasihi rakyat, dan berhenti pada Puncak Kebaikan” (Da Xue Bab Utama:1).

MELIBATKAN CAK NUR PADA KEGIATAN LINTAS AGAMA

Pada tahun 1997 penulis bersama-sama Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Prof. Dr. Sri Soemantri, S.H., Budhy Munawar, Bondan Gunawan dll mendirikan Yayasan Nur Kebajikan, dan pada waktu peluncuran Yayasan, 16 April 1997 kami mengadakan Seminar dengan menampilkan dua pembicara, yakni Cak Nur dan Th. Sumartana. Adapun tema seminar pada waktu itu,”Kebebasan Beragama Dan Wawasan Kebangsaan”. Pemilihan kedua pembicara di atas, berdasarkan keputusan rapat yang juga dihadiri Gus Dur. Hal ini menunjukkan bahwa Gus Dur pun menghargai kecendikiaan Cak Nur. Kami melihat kedua tokoh di atas dapat membahas ke topik di atas, karena kami pada waktu itu prihatin adanya kecenderungan penggunaan agama untuk kepentingan politik dan menguatnya sektarianisme berdasarkan agama. Di samping sikap pemerintah (c.q. Departemen Agama) yang hanya “mengakui” lima agama, dengan tidak memberi ruang yang cukup untuk agama-agama di luar lima agama yang “diakui” dan penghayat kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Perkenalan saya dengan Cak Nur, juga mendekatkan saya dengan Pengurus Yayasan Wakaf Paramadina yang lain, yakni Utomo Dananjaya. Mas Tom juga mengetahui dengan baik masalah peminggiran umat Khonghucu oleh pemerintah Orde Baru. Karena kedekatan hubungan Mas Tom dengan Menteri Agama pada waktu itu Prof. A. Malik Fajar, maka dengan jasa baik Mas Tom pulalah, Pengurus MATAKIN dapat diterima Menteri Agama di ruang kerjanya, Jl. Lapangan Banteng Barat No. 3-4- Jakarta Pusat dengan didamping Mas Tom. Pada waktu itulah kami menyampaikan rencana MATAKIN untuk melaksanakan MUNAS MATAKIN pada tanggal 22-23 Agustus 1998 dan meminta Menteri Agama memberi dukungan fasilitas tempat, akhirnya Menag menjanjikan untuk dapat menggunakan asrama Haji. Salah satu keputusan MUNAS MATAKIN XIII adalah memerintahkan kepada Ketua Umum terpilih untuk menemukan sejumlah tokoh untuk dimohonkan kesediaannya menjadi Anggota Kehormatan MATAKIN.  Kesediaan  Cak Nur menjadi anggota kehormatan MATAKIN sejak tahun 1998 sungguh melegakan hati saya sebagai Ketua Umum MATAKIN (periode 1998-2002). Pada bulan Oktober 1998 saya bertemu dengan Cak Nur di kantor Paramadina yang terletak di Jl. Metro Pondok Indah, Pondok Indah Plaza, Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan. Saya menjelaskan kepada beliau mengenai Amanat Musyawarah Nasional MATAKIN XIII yang diselenggarakan pada tanggal 22-23 Agustus 1998 di Asrama Haji, Pondok Gede Jakarta Timur yang menugaskan kepada saya untuk memohon kesediaan beberapa orang seperti Abdurrahman Wahid, Almarhum Dr. Th. Sumartana, Djohan Effendi, Budhy Munawar-Rachman untuk menjadi anggota kehormatan MATAKIN. Kami memandang orang-orang tersebut di atas telah berjasa, karena turut memperjuangkan eksistensi umat dan agama Khonghucu di Indonesia. Setelah menjelaskan bahwa orang-orang yang disebutkan di atas semuanya telah menyatakan kesediaannya. Mohon kiranya perkenan Cak Nur, sambil menyampaikan kepada beliau surat keputusan MATAKIN tertanggal 8 Oktober 1998. Tanpa berfikir lebih lama, beliau berkata singkat, yang kurang lebih berbunyi,”kalau memang dipandang kesediaan saya memberikan kemaslahatan kepada umat Khonghucu, maka saya bersedia”, diikuti pembubuhan tanda tangan beliau  pada surat keputusan termaksud. Saya sangat kagum dengan Cak Nur yang mampu berfikir positif dan mempercayai omongan saya. Cak Nur benar-benar mampu mengamalkan ajaran bahwa manusia pada dasarnya baik.

Saya berkesempatan bertemu dan bersama-sama Cak Nur menghadiri  World Conference on Religion and Peace (WCRP) Assembly VII di Amman, Jordania. Hadir pula pada waktu itu antara lain: Presiden Abdurrahman Wahid, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, dll. Pada waktu itu delegasi dari Indonesia yang hadir puluhan, tetapi tidak mewakili organisasi secara resmi, hanya terdiri dari unsur-unsur: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Khonghucu, Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.  Namun Indonesia tetap diberi kesempatan untuk menyampaikan laporan. Untuk itu Cak Nur diminta untuk mewakili Indonesia menyampaikan laporan mengenai kegiatan lintas agama di dalam mempromosikan perdamaian, beliau mengajak semua unsur di atas, termasuk saya untuk ikut naik ke panggung mewakili Indonesia. Kesediaan beliau mengajak saya untuk bersama-sama ke atas panggung mengandung kenangan tersendiri, mengingat pada waktu itu Agama Khonghucu di mata Departemen Agama bukanlah agama yang diakui keberadaannya.  Dan beliau dengan bahasa Inggris yang fasih (tanpa teks) memperkenalkan kami kepada peserta satu-per satu, lalu menjelaskan kegiatan-kegiatan yang dilakukan organisasi lintas agama di Indonesia.  Posisi Gus Dur yang pada WCRP Assembly VI terpilih sebagai salah satu Presiden WCRP harus digantikan mengingat Gus Dur adalah Presiden Republik Indonesia. Gus Dur mencalonkan Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif untuk menggantikan posisinya. Dan delegasi dari Indonesia sepakat mendukungnya. Saya sendiri sebagai peserta yang mendapat hak suara senantiasa menyertai Prof Dr. Ahmad Syafii Maarif, yang akhirnya terpilih dan disetujui pada WCRP Assembly VII untuk menjadi salah satu presiden dari WCRP untuk menggantikan posisi Gus Dur sebagai wakil Asia. Di saat pulang, Cak Nur menggunakan pesawat yang sama dengan saya, sehingga saya berkesempatan untuk berdialog dengan beliau, terutama pada waktu kami menghabiskan waktu yang cukup lama, menanti pesawat yang akan membawa kami pulang dari airport internasional Abu-Dhabi ke Jakarta.

Setibanya kami kembali ke Tanah Air, setelah  mengikuti WCRP Assembly VII di Amman, Jordania di atas, semangat untuk mendirikan Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) menghangat dan mendapat dukungan penuh dari Gus Dur. Akhirnya pada tanggal 12 Juli 2000 ICRP berhasil dideklarasikan di Jakarta yang dihadiri pula oleh Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, Presiden Republik Indonesia. Cak Nur bersama-sama tokoh-tokoh agama yang berpengaruh di negeri ini duduk sebagai Anggota Dewan Kehormatan di dalam ICRP yang ketua umumnya Dr. Djohan Effendi.

PEMIKIRAN CAK NUR TENTANG HAM

Pemikiran-pemikiran Cak Nur di dalam menyikapi kemajemukan dan juga mengenai hak asasi manusia membuat saya merasa dekat dengan beliau, walaupun pertemuan-pertemuan langsung tidaklah terlampau sering. Ketika saya harus menulis makalah sebagai persyaratan menjadi calon anggota Komnas HAM pun saya tak lupa mengutip pendapat Cak Nur yang tertuang dalam tulisan beliau berjudul,”HAM, Pluralisme Agama dan Integrasi Nasional”[1] yang dimuat di dalam buku, “HAM Dan Pluralisme Agama”, beliau menyampaikan antara lain,”….. Untuk dapat berbicara tentang HAM dengan baik, seseorang memerlukan komitmen yang tulus. Dan komitmen yang tulus selalu berakar dalam kesadaran tentang makna dan tujuan hidup, yang umumnya diajarkan oleh agama. Tanpa akar keagamaan, pengertian tentang HAM dan komitmen kepada nilai-nilainya dapat terasa hambar dan dangkal”. Ketika saya benar-benar dipercaya menjadi anggota Komnas HAM untuk periode 2002-2007 saya menjadikan pendapat beliau di atas sebagai pegangan. Ajaran agama saya (baca: Khonghucu) memandang,”Di Empat Penjuru Lautan, Semua adalah Bersaudara”.  Memperlakukan orang secara setara (tidak diskriminatif)  tanpa memandang agama, suku, ras, etnis, golongan adalah kewajiban setiap orang, terlebih bagi saya selaku anggota Komnas HAM. Oleh karena itu di dalam melayani pengaduan, memantau suatu peristiwa yang diduga terjadi pelanggaran HAM yang terjadi dan melibatkan berbagai komunitas Agama, dan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa saya selalu menanggapinya dengan antusias dan sepenuh hati.  Cak Nur sangat memahami hak asasi manusia yang universal itu, dan dapat menunjukan bahwa ajaran agama Islam menjunjung HAM. Cak Nur mampu membumikan nilai-nilai Islam dalam kehidupannya. Cak Nur sangat menekankan pentingnya kebebasan pribadi yang bertanggung jawab. Cak Nur berkeyakinan, kebebasan adalah dasar kebahagiaan: hanya orang yang bebas yang dapat benar-benar merasakan kebahagiaan. Kebebasan merupakan prasarana produktivitas yang utama, baik di bidang pemikiran maupun barang. Beliau pernah mengutip sebuah pepatah Arab yang mengatakan,”Tidak ada sesuatu apa pun yang lebih berharga daripada kebebasan….”.  Cak Nur berkeyakinan bahwa kelak di akhirat nanti setiap individu harus mempertanggung jawabkan semua perbuatannya secara individual. Salah satu wujud kebebasan yang harus disyukuri rakyat Indonesia sebagai buah reformasi adalah kebebasan pers. Berulang kali hal ini dikatakan beliau secara terbuka, maupun disampaikan ketika kami berbincang-bincang. Beliau menginginkan setiap orang Indonesia untuk mempertahankan dan menjaganya, sedemikian rupa sehingga menjadi berkah bagi seluruh warga tanpa kecuali.  Kebebasan Pers, menurut beliau dengan segala kekurangannya jangan sampai dirampas. Karena beliau yakin dengan adanya Kebebasan Pers banyak hal di negara ini dapat dikontrol. Cak Nur juga berkeyakinan bahwa peradaban dan masyarakat yang teratur, “civil society” memerlukan kebebasan sebagai fondasi.

Cak Nur menambahkan kebebasan meliputi beberapa hak asasi politik, yaitu hak untuk memberi suara, memegang jabatan, berpartisipasi dalam pembuatan keputusan-keputusan politik, berserikat dengan sesama warga yang memiliki kesamaan pandangan, dan untuk mengkritik pemerintah. Semua hak itu, sebagai aspek positif kebebasan, didasarkan atas keinsafan bahwa kebebasan yang tidak terbatas akan segera menuju kepada anarki hukum rimba dan menangnya yang kuat atas yang lemah. Masyarakat yang beradab dan adil tidak mungkin terwujud tanpa suatu susunan sosial dan hukum.

Di dalam perspektif Hak Asasi Manusia, hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kebebasan pribadi, pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi dan persamaan di hadapan hukum adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun dan oleh siapa pun.

Menurut Cak Nur, sejak 15 abad terkahir ini manusia harus dipandang sebagai makhluk yang dewasa, yang perkembangan budayanya telah dapat memperkuat kemampuan primordialnya untuk mengenali yang baik dan yang jahat, yang benar dan yang palsu. Karena begitu asasinya kemerdekaan nurani ini, maka biarpun seorang yang mengetahui dengan pasti tentang apa yang benar dan yang sejati—seperti para Nabi dan Rasul, misalnya—tidak diperkenankan Allah memaksakan pengetahuannya itu kepada orang lain. Mereka yang menyakini suatu kebenaran dan kesejatian, serta menyakini pula bahwa kebenaran dan kesejatian itu akan membawa keselamatan dan kebahagiaan orang lain, dibolehkan hanya sampai tingkat memberi peringatan kepada orang lain itu, dan hanya sampai tingkat memberi peringatan kepada orang lain itu, dan hanya sampai kepada tingkat mengajak dengan hikmah-kebijaksanaan, keterangan persuasif yang penuh pengertian, dan argumentasi dialektis yang menyakinkan. Karena itu para Rasul pun hanya bertugas memberi peringatan seperti itu, dan sama sekali tidak diberi tugas untuk memaksa atau menguasai orang lain.

Pemikiran Cak Nur di atas disampaikan sekitar 10 tahun lalu, tetapi masih sangat relevan dengan kondisi sekarang, di mana sektarian berdasarkan agama menguat. Kejadian penyerangan terhadap jemaat Islam Ahmadiyah di berbagai tempat, misalnya, kalau dikaitkan dengan pemahaman Cak Nur di atas terhadap ajaran Islam menunjukkan kontradiksi. Para penyerang, pelaku tindak kekerasan justru mengatasnamakan Islam. Sesungguhnya bagi orang di luar Islam menjadi bingung menemui realita seperti di atas. Kalau kita beranjak dari pemikiran Cak Nur di atas, penggunaan kekerasan tentu tidak dibenarkan, tetapi dalam kenyataannya sekelompok masa dalam jumlah besar sering menggunakan kekerasan dan memaksa kehendaknya atas nama Islam, bahkan seakan-akan polisi di negara ini tidak dianggap dan dipercaya lagi, tetapi mengapa hal ini tetap dibiarkan? Kalau pemikiran Cak Nur itu benar adanya, pertanyaannya mengapa tidak ada (baca: tidak banyak) yang menyuarakannya dengan suara nyaring agar ajaran Islam yang begitu “sejuk” dan menjunjung tinggi hak asasi manusia di negeri ini bisa dirasakan oleh semua orang di negeri ini?

PENDAPAT CAK NUR TENTANG KEBAJIKAN

Di dalam agama Khonghucu sangat ditekankan Kebajikan, bahkan salam umat Khonghucu bunyinya,”Wei De Dong Tian” , yang artinya “Hanya Oleh Kebajikan Tian, Tuhan Berkenan”, Lalu yang mendengarnya menjawab, “Xian You Yi De”, Sungguh Miliki Yang Satu Itu: Kebajikan”. Seluruh hidup umat Khonghucu tidak lain adalah persiapan guna menghadap Tuhan, dan harus berusaha untuk memperoleh perkenan atau ridla-Nya. Hal senada dalam Ajaran Islam diungkapkan oleh Cak Nur bahwa,”Berusaha memperoleh perkenan atau ridla Tuhan berarti berusaha menempuh hidup yang diresapi oleh rasa Kebajikan dan diilhami oleh keyakinan kepada kebenaran. Berusaha memperoleh perkenan Ilahi dimulai dengan ketulusan niat dalam hati sanubari untuk mengikuti jalan yang benar dan mewujudkan kebaikan. Juga berarti bahwa usaha mencapai perkenan Ilahi berpangkal dari hati nurani, sebab inti sanubari ialah hati nurani. Sanubari adalah modal primordial kita yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada kita guna dapat secara naluriah mengetahui benar atau salah, baik dan buruk”.  Lebih lanjut Cak Nur mengatakan bahwa, “manusia tidak mampu tampil sebagai makhluk moral, yaitu makhluk yang secara logis dapat dimintai pertanggung jawaban atas segala amal perbuatannya, baik atau pun buruk, jika ia sebagai pribadi tidak memiliki kebebasan untuk memilih tindakannya. Seorang pribadi yang menjalankan tindakan dan perilakunya karena terpaksa—misalnya, karena ia hidup dalam sistem sosial-politik yang tiranik, otoriter dan menindas—bukanlah seorang yang dapat dituntut untuk mempertanggungjawabkan tindakan dan perilakunya itu”.

KONSISTENSI CAK NUR DI DALAM MEMBELA EKSISTENSI KHONGHUCU SEBAGAI AGAMA

Di depan sudah saya sampaikan mengenai alasan kesediaan Cak Nur menjadi Anggota Kehormatan MATAKIN, yang pada intinya adalah demi kemaslahatan umat Khonghucu. Hal ini ditunjukkan beliau, di dalam berbagai kesempatan membicarakan kemajemukan agama-agama di Indonesia dengan senantiasa mengikutsertakan Khonghucu. Ketika beliau hadir pada perayaan Tahun Baru Imlek ke-2553 di Pekan Raya, Jakarta pada tanggal 17 Februari 2002 yang diselenggarakan MATAKIN. Pada waktu itu, kebetulan beliau duduk di sebelah Kwik Kian Gie. Perayaan Tahun Baru Imlek ke-2553, tahun 2002 tersebut merupakan peristiwa yang bersejarah bagi umat Khonghucu khususnya, dan bagi bangsa Indonesia umumnya atau siapa saja yang merayakan Tahun Baru Imlek. Presiden Megawati pada waktu itu mengumumkan Tahun Baru Imlek sebagai HARI LIBUR NASIONAL. Di dalam suasana kegembiraan tersebut, pak Kwik Kian Gie terlibat perbincangan dengan Cak Nur. Didalam perbincangan tersebut, sempat terlontar ucapan Pak Kwik, bahwa Khonghucu sesungguhnya bukan agama, tetapi filsafat belaka. Nah, mendengar pernyataan tersebut dengan serta-merta Cak Nur tidak dapat menerimanya dan langsung memberikan penjelasan panjang lebar untuk ‘membela’ eksistensi Khonghucu sebagai agama.

TELADAN SEBAGAI PENDIDIK

Sebagai Rektor Universitas Paramadina Mulya, Cak Nur juga telah menunjukkan identitas kebangsaannya dengan membuat terobosan, contoh kecil yang saya amati adalah pada waktu acara wisuda di Universitas Paramadina Mulya, Cak Nur tampil beda dibandingkan dengan perguruan tinggi yang ada di Indonesia. Prosesi wisuda diikuti dengan musik, yakni gamelan Jawa dan pakaian yang para anggota Senat Perguruan Tinggi Paramadina Mulya adalah stelan jas, tidak memaki toga ‘kebesaran’ . Ketika  memasuki ruangan upacara, bahkan para tamu undangan tidak diminta untuk berdiri untuk menghormati prosesi Senat.  Komprominya, para lulusan tetap menggunakan toga, tidak jas. Hal ini membekas dalam ingatan saya, betapa sesungguhnya menunjukkan Cak Nur tidak suka yang formalitas, dan tidak “gila hormat”, sekaligus menunjukkan beliau orang yang rendah hati, sederhana, egaliter. Semoga lulusan Universitas Paramadina Mulya dapat meniru karakter Cak Nur.

PERJUMPAAN AKHIR DAN HARAPAN

Saya bersyukur ketika beliau terbaring di rumah sakit di National University Hospital (NUH), Singapore masih berkesempatan mengunjungi beliau, yaitu satu hari sebelum terjadinya bencana Tsunami di Aceh dan berbagai belahan dunia, tepatnya pada hari Natal, 25 Desember 2004. Ketika itu Cak Nur dalam keadaan sadar, dan sudah bisa bicara, walaupun pelan. Ketika datang mengunjungi beliau di salah satu ruangan di NUH, Singapore, saya disambut istri Cak Nur, Mbak Omi, dan Cak Nur yang terbaring, penuh senyum. Pada waktu itu saya banyak bercerita tentang situasi di Tanah Air kepada beliau. Di tengah-tengah pembicaraan suster rumah sakit masuk mengingatkan tentang obat yang mesti dimakan siang itu, dan hebatnya sang suster menanyakan ke Cak Nur tentang alternatif pilihan obat yang sebaiknya Cak Nur makan. Sayang sekali pada waktu Cak Nur dipanggil  menghadap Tuhan Yang Maha Pencipta pada tanggal 29 Agustus 2005 untuk selama-lamanya saya lagi tidak sedang berada di Jakarta, sehingga tidak mempunyai kesempatan menyampaikan penghormatan terakhir untuk beliau yang saya kagumi dan hormati, semoga tulisan ini menjadi kenang-kenangan bagi saya dan keluarga, khususnya Mbak Omi, bahwa Cak Nur juga telah memberikan jasanya kepada kami, umat Khonghucu di Indonesia di dalam proses perjuangan kami untuk dihormati hak asasi manusia-nya, khususnya di dalam mendapatkan kembali hak-hak asasi kami yang terpinggirkan. Saya yakin, beliau ikut berbahagia mengetahui, kini umat Khonghucu Indonesia telah bebas dari perlakuan diskriminatif oleh Pemerintah, terhitung tanggal 24 Januari 2006 telah dilayani sebagai umat agama Khonghucu di Departemen Agama, dan terhitung tanggal 24 Februari 2006 umat Khonghucu secara de jure telah diperbolehkan oleh Departemen Dalam Negeri untuk mencantumkan identitas Agama Khonghucu di dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga, serta pasangan yang beragama Khonghucu telah diterima dan dicatatkan oleh Kantor Catatan Sipil perkawinannya. Terima kasih Cak Nur, kami berdoa semoga Tuhan Yang Maha Esa memaafkan dosa dan kesalahan yang mungkin diperbuat, baik disengaja maupun tidak disengaja selama hidup di dunia ini, dan memberikan tempat yang amat layak bagi  kehidupan arwah almarhum di sisiNya. Semoga Program Studi Islam Paramadina yang pernah dirintis Cak Nur dapat diteruskan oleh rekan-rekan Cak Nur sehingga Islam dapat dipahami hakikatnya sebagai ajaran tentang semangat Ketuhanan dan  kemanusiaan yang sangat tinggi, sehingga persaudaraan antar umat beragama dan berkepercayaan di Indonesia dapat berlangsung penuh kehangatan, damai dan sejahtera, sehingga dapat memotivasi agar kita berlomba-lomba berbuat baik kepada sesama manusia.

Dr. Chandra Setiawan

[1] Anshari Thayib, et.al (editor).,”HAM Dan Pluralisme Agama”, PKSK, Surabaya, 1997, p.57

BAGIKAN

Leave a Reply