Nurcholish Madjid Nurcholish Madjid

William Liddle: Revolusi Nurcholish Madjid

Buat banyak Muslim Indonesia, dunia mereka berubah sejak tanggal 2 Januari 1970. Di hari itu Nurcholish Madjid, yang menjabat sebagai ketua HMI, Himpunan Mahasiswa Islam, menyentak hadirin, sekumpulan anak muda Muslim modernis yang berpendidikan Barat, melalui sebuah pidatonya yang menuntut liberalisasi, sekularisasi, kebebasan intelektual, ’the idea of progress’ (gagasan kemajuan) dan keterbukaan, termasuk pembentukan sebuah kelompok pembaharu yang berhaluan liberal.

Islam Indonesia, menurut Nurcholish, telah kehilangan kemampuannya sebagai “psychological striking force.” Ketika itu, jumlah Muslim-taat berkali lipat lebih banyak dibanding masa-masa sebelumnya, khususnya setelah kekalahan komunis pada pertengahan 60-an. Namun, tidaklah jelas faktor agama apa yang menjadi penariknya.

“Kecuali sedikit saja, sudah terang mereka sama sekali tidak tertarik kepada partai-partai/organisasi-organisasi Islam. Sehingga perumusan sikap mereka kira-kira berbunyi: Islam, yes, partai Islam, no! Jadi, jika partai-partai Islam merupakan wadah ide-ide yang hendak diperjuangkan berdasarkan Islam, maka jelaslah bahwa ide itu sekarang dalam keadaan tidak menarik.

Basis bagi sistem pemikiran yang baru, dalam pendapat Nurcholish, adalah sekularisasi. “Yang dimadksudkan dengan sekularisasi ialah setiap bentuk liberating development. Proses pembebesan ini diperlukan karena umat Islam, akibat perjalanan sejarahnya sendiri, tidak sanggup lagi membedakan nilai-nilai yang disangkanya Islami itu, mana yang transendental dan mana yang temporal. Malahan, hirarki nilai itu sendir sering terbalik, transendental semuanya. Sekularisasi dimaksudkan untuk menduniawikan nilai-nilai yang sudah semestinya bersifat duniawi, dan melepaskan umat Islam dari kecenderungan untuk meng-ukhrawi-kannya.

”Lebih lanjut, sekularisasi dimaksudkan untuk lebih memantapkan tugas duniawi manusia sebagai ‘khalifah Allah di bumi.’ Fungsi sebagai khalifah Allah itu memberikan ruang bagi adanya kebebasan manusia untuk menetapkan dan memilih sendiri cara dan tindakan-tindakan dalam rangka perbaikan-perbaikan hidupnya di atas bumi ini, dan sekaligus memberikan pembenaran bagi adanya tanggung jawab manusia atas perbuatan-perbuatan itu di hadapan Tuhan.”

“Sekarang, perjuangan memperbaiki nasib umat manusia, bukanlah menjadi monopoli umat Islam. Oleh karena itu, tidak mungkin terjadi ijtihad dan pembaruan yang berarti, jika kita tidak mempunyai organisasi-organisasi penelitian dengan dasar yang kuat, jika kita tidak mempunyai metode yang unggul untuk menganalisis situasi apa pun, dan jika kita tidak mempunyai pengetahuan yang tepat tentang perkembangan-perkembangan kemajuan kemanusiaan dan kesempatan-kesempatan yang diberikan oleh penemuan-penemuan baru di setiap bidang, baik sosial maupun alam. Maka tanggungjawab kaum terpelajar sungguh besar dan berat, di hadapan umat manusia dalam sejarah ini, dan di hadapan Tuhan kelak di kemudian hari (di akhirat).”

Sulit untuk melebih-lebihkan impak negatif atau positif dari pidato Nurcholish ini di masa itu, maupun daya gelora dan inspirasinya yang terus berlanjut sampai sekarang. Buat para politisi dan intelektual eks-Masyumi di awal era Orde Baru, khususnya bagi para pengikut Mohammad Natsir yang karismatik, yang untuk sementara sedang melanjutkan perjuangan mereka di Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), pidato ini adalah suatu penolakan total terhadap perpolitikan masa lalu mereka dan strategi mereka ketika itu untuk kembali ke dunia politik. Mereka menyerang Nurcholish bahwa dia telah salah menafsirkan (Islam tidak membolehkan segala bentuk sekularisasi, begitu kata mereka) dan bahwa dia punya motif terselubung (terang dia adalah seorang oportunis penjilat Soeharto, demikian mereka mencercanya). Padahal, Nurcholish pernah dijuluki Natsir muda, yang membuat kemurtadannya itu (sebagaimana dituduhkan mereka) jadi makin terasa mengusik.

Boleh jadi, lebih banyak kalangan Muslim modernis, khususnya di antara kaum muda urban yang berpendidikan Barat, yang bersetuju, ketimbang yang mencaci-maki, pidato Nurcholish. Buah pemikirannya tetap populer selama lebih tiga dasa warsa kemudian hingga di penghujung hayatnya, meski tentu saja, ada juga yang masih mengecamnya, khususnya mereka yang datang dari kelompok Islamis sekarang ini.

Bagaimana menjelaskan popularitas Nurcholish yang tak lekang oleh zaman itu? Di mata saya, itu karena gagasannya tentang Islam dan politik, atau lebih luas lagi antara Islam dan masyarakat, pas dengan masa dan tempatnya berpijak, Indonesia di masa awal modernisasinya. Formulasi gagasannya itu klop dengan kebutuhan sekuler maupun relijius dari suatu kelompok besar yang sedang tumbuh—kaum Muslim urban modernis yang berpendidikan Barat. Dengan kata lain: Nurcholish membuka ruang intelektual dan emosional di mana banyak orang di generasinya bisa memperbaharui keimanan Islam mereka.

Kebutuhan sekuler dari kelompok ini adalah kebutuhan akan ideologi yang bisa menyokong partisipasi penuh mereka dalam kehidupan urban di abad kedua puluh. Kebutuhan relijius mereka adalah kebutuhan akan penafsiran Islam yang bisa memuaskan secara rohani sekaligus masih bersesuaian dengan pemahaman keimanan mereka sebelumnya. Kala itu, sudut pandang dominan, atau nyaris semua, kaum Muslim modernis, adalah bahwa masjid dan Negara tak terpisahkan, dan bahwa semua kebenaran relijius akan ditemukan dalam Qur’an dan Hadits Nabi.

Rumusan Nurcholish—yang buat banyak orang sungguh memeranjatkan—memungkinkan mereka bisa membayangkan diri mereka sebagai Muslim yang saleh, sekaligus sebagai warga yang baik dari Indonesia yang modern. Senyampang kian meluasnya kelompok ini, tidak kelewat sulit untuk meramalkan bahwa gagasan Nurcholish, paling tidak, akan terus bergema di abad ini.

William Liddle

 

BAGIKAN

Leave a Reply