Nurcholish Madjid Nurcholish Madjid

Jakob Oetama: Sekilas Catatan Tentang Cak Nur

Karena rasa tanggungjawab dan desakan banyak pihak, Cak Nur akhirnya bersedia dipanggungkan sebagai calon presiden melalui partai Golkar, Teman dan sahabatnya termasuk saya berreaksi  dengan bertanya : Tepatkah kesediaan itu ? Keraguan itu disebabkan oleh pemahaman perihal politik (praktis) dan sosok pribadi Cak Nur. Sanggupkan tokoh cendekiawan Muslim itu menjalani jalur pembawaan dan liku-liku politik ?

Benar keraguan itu. Begitu dihadapkan pada indikasi perpolitikan yang “kotor” ia segera mengundurkan diri. Bukan saja pemikiran, sikap dan dan perilakunya yang lurus dan jujur, segera dihadapkan dengan kenyataan “real politik”. Sekaligus juga sosok wataknya yang “halus”. Agak sulit berkompromi dengan kerasnya tabiat politik.

Tabiat politik dari sananya keras,. Kekerasan, ketegelan itu melekat pada kekuasaan politik, seakan terlepas dari berlakunya sistim yang berbeda.

Tabiat kekuasaan juga melekat pada sisitim demokrasi. Sistim demokrasi ada justru dibangkitkan oleh pengalaman dan kesadaran, betapa justru kekuasaan itu dari sananya cenderung bersalah guna, maka harus diawasi dan dibatasi.

Apakah hal itu berarti orang baik “vir justus” tidak mempunyai tempat dalam politik ? Tentu saja ada tempat karena politik menyediakan dan memerlukan beragam tempat dan peran  untuk anak-anak bangsa. Di antaranya tempat dan peran pendidikan, pencerahan, pengawasan.

Negara-negara yang sosok dan demokrasinya sudah lebih bekerja dan tertata, dengan disertai berlakunya beragam  konvensi, lahan lebih luas dan lebih kondusif untuk beragam sosok dan karakter pribadi.

Lagi pula, ada hal lain yang menjadi pertimbangan mengapa semacam pembatasan – constraints – itu dikemukakan. Yakni untuk memahami dan menyadari, pilihan politik, kerja politik adalah panggilan.

Panggilan hidup yang sekaligus berkembang dan berkinerja sebagai profesi. Karena itu memliki persyaratan, kode perilaku, dan komitmen dan kemahiran.

Guru bangsa, itulah posisi, fungsi dan pengakuan yang syah dan mulia bagi Prof. Dr. Nurcholish Madjid : Guru bangsa yang utuh paripurna , ya ilmu, ya pengajaran dan pencerahan, ya teladan perilaku.

Saya lupa  di mana saya membaca atau mendengar pernyataan Cak Nur ini. Namun pernyataan itu bagi saya mencakup pemahaman keagamaannya secara lengkap – padat : bahwa kita di dunia ini adalah sesama dan bersama dalam perziarahan hidup! Kita adalah sesama dan bersama sebagai peziarah.

Kebenaran dan kenyataan itu amatlah jelas. Keyakinan agama dan cara kita melakukan upacara berbeda-beda tetapi benar dan nyata, kita adalah peziarah bersama. Dalam peta arahan  itu kita bekerja, berkarya, beramal, memberi makna kemanusiaan yang transenden kepada hidup kita.

Pemahaman yang juga dituangkan dalam ungkapan : inklusif dan pluaral serta terbuka bukankah pernyataan lain dari   “peziarahan bersama”. Suatu pernyataan yang ikut diilhami serta diinteraksikan dengan  negeri kepulauan kita yang berbhinneka. Berbhinneka tunggal ika.

Prof. Dr. Sartono, sejarawan Universitas Gadjah Mada bereputasi internasional. Salah satu pernyataannya yang terus bergema adalah anjuran dan ajakannya agar para terpelajar Indonesia mengembangkan dan menghayati yang ia sebut “asketisme intelektual”.

Saya pahami ungkapan itu sebagai ajakan agar cendekiawan Indonesia menyikapi dan menghayati kecendekiawanannya sebagai  panggilan hidup. Bukanlah suatu kebetulan para Bapak Pendiri Bangsa adalah juga kaum cendekiawan pada zamannya. Di antara mereka bahkan cendekiawan berukuran dunia dalam pemikiran kenegaraannya dalam bidang politik, sosial, ekonomi dan budaya.

Apakah mereka mengabdikan kecendekiawanan dan hidupnya dengan semangat “asketis”. Pertanyaan  itu bisa dijawab dengan satu contoh. Sebagai sarjana jika mereka memilih bekerjasama dengan pemerintah kolonial, hidup mereka akan lebih dari kecukupan.

Mereka memilih perjuangan lewat cara non – kooperasi. Hidup mereka bukan saja serba pas-pasan dan kekurangan tetapi juga keluar masuk penjara.

Belum banyak berubah perikehidupan warga dan bangsa Indonesia Merdeka yang berusia 60 tahun.

Peri kehidupan kaum terpelajar dan kaum cendekiawan masih juga dalam kenyataan :asketis”. Guru, dosen, profesor , pegawai dan pejabat negara hidup dalam kenyataan serba pas-pasan, juga ketika lingkungan dicemari kehidupan dan gaya global yang serba bergaya hidup dan berkonsumerisme “wah”

Kehidupan serba pas-pasan dalam suasana gaya hidup dan konsumerisme tinggi itulah tantangan bagi asketisme intelektual. Lingkunganpun dibuat lebih tidak menunjang oleh suasana dan sisa-sisa suasana korup masa lalu.

Cak Nur termasuk yang diakui setia dan konsiten ,memilih jalan hidup “asketis” asketisme intelektual. Lebih dihormati konsistensi itu, karaena kemudian posisinya adalah sedemikian rupa sehingga baginya terbuka peluang untuk berubah jalan dan gaya hidup sederhana. Namun Cak Nur konsisten menghayati sikap hidup “ asketisme intelektual”.

Amat terbatas pengetahuan saya perihal pemikiran dan bacaan hasil karyanya. Dari berbagai sumber saya ketahui sumbangan pemikiran Islam Cak Nur yang berkontribusi “global”.

Tampak gejala yang menarik dalam perikehidupan agama-agama di dunia yang berkembang cepat. Surut dan matinya paham komunisme menggugat relevannya paham-paham kemasyarakatan yang berpusat pada bidang sosial ekonomi, politik, sosial dan budaya.

Paham-paham kemasyarakatan di dorong untuk mengembangkan pemikiran baru. Ketika yang surut adalah isme yang bukan saja sekuler tetapi sekaligus atheis, masuk akal jika pencarian dan pembaruan paham dan idiologi kemasyarakatan disertai kecenderungan yang  menyertakan dimensi “spiritual”. Terlalu dini untuk menarik kesimpulan dari proses itu.

Dalam konteks kekayaan pemikiran Cak Nur dan para Cendekiawan lainnya, relevan kiranya juga membuka cakrawala itu ketika bersama-sama kita mengenang Cak Nur.

Jakob Oetama, Jakarta, 8 Juni 2006

 

BAGIKAN

Leave a Reply