Nurcholish Madjid Nurcholish Madjid

AHL AL‑KITÂB: TIDAK SEMUANYA SAMA

Sebagai kelompok masyarakat yang menolak atau bahkan menentang Nabi, kaum Yahudi dan Nasrani mempunyai sikap yang berbeda-beda; ada yang keras dan ada pula yang lunak. Se­ca­ra umum, penolakan mereka kepada Nabi digambarkan bahwa mereka tidak akan merasa senang sebelum Nabi mengikuti agama mereka. Ini adalah sesuatu yang cukup logis, karena Nabi mem­bawa agama (“baru”) yang bagi mereka merupakan tantangan kepada agama yang sudah mapan, yaitu agama Yahudi dan Nasrani, sementara mereka itu masing-masing mengaku agamanya tidak saja yang paling benar atau satu-satunya yang benar, tapi juga merupakan agama terakhir dari Tuhan. Maka tampilnya Nabi Muhammad Saw. dengan agama yang “baru” itu sungguh me­ru­­pa­kan gangguan kepada mereka. Karena itu Al‑Quran memperingatkan kepada Nabi:

Kaum Yahudi dan Nasrani Tidak akan senang kepada engkau (wahai Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah (kepada mereka): ” petunjuk Allah- hanya itulah petunjuk [yang sebenarnya]…”  (Q., 2:120).

Walaupun begitu, Al‑Quran juga menyebutkan bahwa dari kalangan kaum ahl al-kitâb itu ada kelompok-kelompok yang sikapnya terhadap Nabi dan kaum Muslim adalah baik-baik saja, bahkan ada yang secara diam-diam mengakui kebenaran yang datang dari Nabi Saw. Ini misalnya dituturkan berkenaan dengan sikap segolongan kaum Nasrani yang banyak memelihara hubungan baik dengan Nabi dan kaum Muslim, yang membuat mereka itu berbeda dari kaum Yahudi dan Musyrik yang sangat memusuhi Nabi dan kaum Muslim:

Akan kaudapati orang yang paling keras memusuhi orang beriman ialah golongan Yahudi dan golongan musyrik. Dan akan kaudapati orang yang paling dekat bersahabat dengan orang beriman, maka mereka berkata: “Kami adalah orang Nasrani,” sebab di antara mereka terdapat orang-orang yang tekun belajar dan rahib-rahib dan mereka tidak menyombongkan diri. Dan bila mereka mendengar wahyu yang diturunkan kepada Rasul, kaulihat air mata mereka berlinangan karena pengetahuan mereka tentang kebenaran. Mereka berkata: “Tuhan! Kami beriman. Masukkanlah kami bersama mereka yang sudah menjadi saksi. Kenapa kami tidak harus beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang pernah datang kepada kami, karena kami merindukan Tuhan akan memasukkan kami bersama mereka yang saleh?”. Dan karena doa mereka Allah telah menganugerahkan kepada mereka taman-taman surga dan sungai-sungai yang mengalir di bawahnya; tempat tinggal mereka yang abadi. Demikianlah balasannya buat orang yang mengerjakan amal kebaikan.   (Q., 5: 82‑85).

Bahwa kaum ahl al-kitâb itu tidak semuanya sama, juga disebutkan dalam Al‑Quran ten­tang adanya segolongan mereka yang rajin mempelajari ayat-ayat Allah di tengah malam sambil terus-menerus beribadat, dengan beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta melakukan amar ma‘ruf nahi munkar dan bergegas dalam banyak kebaikan. Lengkapnya, firman Allah itu adalah demikian:

Mereka tidak sama: di antara ahl al-kitâb, ada segolongan yang berlaku jujur, mereka membaca ayat-ayat Allah pada malam hari dan mereka pun bersujud. Mereka percaya pada Allah dan pada hari kemudian; menyuruh orang berbuat benar dan mencegah perbuatan mungkar serta berlomba dalam kebaikan. Mereka termasuk orang yang saleh. Dan perbuatan baik apa pun yang mereka kerjakan niscaya takkan ditinggalkan. Dan Allah Mahatahu mereka yang bertakwa (Q., 3: 113-115).

Tentang ayat-ayat yang sangat positif dan simpatik kepada kaum ahl al-kitâb itu ada se­mentara tafsiran bahwa karena sikap mereka yang menerima terhadap kebenaran tersebut maka me­reka bukan lagi kaum ahl al-kitâb, melainkan sudah menjadi kaum Muslim. Tetapi karena dalam ayat-ayat itu tidak disebutkan bahwa mereka beriman kepada Rasulullah Muhammad Saw., mes­kipun mereka per­caya kepada Allah dan hari kemudian—sebagaimana agama-agama mere­ka sen­diri sudah meng­ajarkan—maka mereka secara langsung atau pun tidak langsung termasuk yang “menen­tang” Nabi; jadi, mereka bukan golongan Muslim. Namun karena sikap mereka yang positif kepada Nabi dan kaum beriman, maka perlakuan kepada mereka oleh kaum beriman juga dipesan untuk tetap positif dan adil, yaitu selama mereka tidak memusuhi dan ti­dak pula merampas harta kaum beriman:

Allah tidak melarang kamu dari mereka yang tidak memerangi kamu karena agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu, untuk bersikap baik dan adil terhadap mereka; Allah mencintai orang-orang yang adil. Allah hanya melarang kamu dari mereka yang memerangi kamu karena agama, dan mengusir kamu dari kampung halamanmu, dan mendukung (pihak lain) mengusir kamu, mengajak mereka menjadi teman. Barangsiapa menjadikan mereka teman, mereka itulah orang yang zalim (Q., 60: 8-9).

Maka meskipun Al‑Quran melarang kaum beriman untuk bertengkar atau berdebat de­ngan kaum ahl al-kitâb, khususnya berkenaan dengan masalah agama, namun terhadap yang za­lim dari kalangan mereka kaum beriman dibenarkan untuk membalas setimpal. Ini wajar sekali, dan sesuai dengan prinsip universal pergaulan antara sesama manusia. Berkenaan dengan inilah maka ada peringatan dalam Al‑Quran:

Dan janganlah kamu berbantah dengan ahl al-kitâb, kecuali dengan cara yang lebih baik (dari sekedar bertengkar), selain dengan mereka yang zalim; dan katakanlah, “Kami percaya pada apa yang diturunkan kepada kami dan diturunkan kepada kamu; Tuhan kami dan Tuhan kamu satu, dan kepada-Nya kita tunduk [dalam Islam]”(Q., 29: 46).

 

BAGIKAN

BERIKUTNYA