Nurcholish Madjid Nurcholish Madjid

AHL AL‑KITÂB: YAHUDI DAN NASRANI

Sebutan “ahl al-kitâb” dengan sendirinya tertuju kepada golongan bukan Muslim, dan tidak ditujukan kepada kaum Muslim sendiri, meskipun mereka ini juga menganut kitab suci, yaitu Al‑Quran. Ahl al-kitâb tidak tergolong kaum Muslim, karena mereka tidak mengakui, atau bahkan menentang, kenabian dan kerasulan Nabi Muhammad Saw. dan ajaran yang beliau sampaikan. Oleh karena itu dalam terminologi Al‑Quran, mereka disebut “kâfir”, yakni, “yang menentang” atau “yang menolak”, dalam hal ini menentang atau menolak Nabi Muhammad Saw. dan ajaran beliau, yaitu ajaran agama Islam.

Dari kalangan umat manusia yang menolak Nabi Muhammad dan ajaran beliau itu dapat dikenali adanya tiga kelompok: (1) mereka yang sama sekali tidak memiliki kitab suci, (2) mereka yang memiliki semacam kitab suci, dan, (3) mereka yang memiliki kitab suci yang jelas. Kelompok yang tergolong memiliki kitab suci yang jelas ini ialah kaum Yahudi dan Nasrani. Mereka inilah yang da­lam Al‑Quran dengan tegas dan langsung disebut kaum ahl al-kitâb.

Kaum Yahudi dan Nasrani mempunyai kedudukan yang khusus dalam pandangan kaum Muslim karena agama mereka adalah pendahulu agama kaum Muslim (Islâm), dan agama kaum Muslim (Islâm) adalah kelanjutan, pembetulan, dan penyempurnaan bagi agama mereka. Sebab inti ajar­­an yang disampaikan Allah kepada Nabi Muhammad Saw. adalah sama dengan inti ajaran yang disampaikan oleh‑Nya kepada semua Nabi. Karena itu sesungguhnya seluruh umat pemeluk agama Allah adalah umat yang tunggal. Tetapi pembetulan dan penyempurnaan selalu diperlukan dari waktu ke waktu, sampai akhirnya tiba saat tampilnya Nabi Muhammad sebagai penutup para Nabi dan Rasul, karena, menurut Al‑Quran, ajaran-ajaran kebenaran itu dalam proses sejarah mengalami  berbagai bentuk penyimpangan. Ini dapat kita pahami dari firman-firman berikut:

Agama yang sama telah disyariatkan kepadamu, seperti yang diperintahkan kepada Nuh – dan yang Kami wahyukan kepadamu – dan yang Kami perintahkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa; yakni tegakkanlah agama dan janganlah berpecah belah di dalamnya. Sukar bagi kamu musyrik [mengikuti] apa yang kauserukan kepada mereka. Allah memilih untuk Diri-Nya siapa yang Ia kehendaki, dan membimbing kepada-Nya siapa yang mau kembali [kepada-Nya](Q., 42: 13).

Tetapi umat sesama mereka terpecah belah menjadi berkelompok-kelompok; setiap golongan sudah merasa senang dengan yang ada pada mereka (Q., 23: 53).

Jadi kedatangan Nabi Muhammad Saw. adalah untuk mendukung, meluruskan kembali dan menyempurnakan ajaran-ajaran para Nabi terdahulu itu. Nabi Muhammad adalah hanya salah seorang dari deretan para Nabi dan Rasul yang telah tampil dalam pentas sejarah umat manusia. Karena itu para pengikut Nabi Muhammad Saw. diwajibkan percaya kepada para Nabi dan Rasul terdahulu serta kitab-kitab suci mereka. Rukun Iman (Pokok Kepercayaan) Islam, setidak-tidaknya sebagaimana dianut golongan terbanyak kaum Muslim, mencakup kewajiban beriman kepada para Nabi dan Rasul terdahulu beserta kitab-kitab suci mereka, sebagaimana ditegaskan dalam Al‑Quran:

Katakanlah: “Kami beriman kepada Allah, dan apa yang diturunkan kepada kami dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma‘il, Ishaq, Ya’qub dan suku-suku baka dan kepada (kitab-kitab) Musa, Isa dan para nabi dari Tuhan: kami tidak membeda-bedakan yang seorang dari yang lain di antara mereka dan kepada-Nyalah kami menyerahkan diri [dalam Islam]. Barangsiapa menerima agama selain Islam (tunduk kepada Allah) maka tidaklah akan diterima dan pada hari akhir ia termasuk golongan yang rugi (Q., 3: 84-85).

Maka sejalan dengan pandangan dasar itu Nabi diperintahkan untuk mengajak kaum ahl al-kitâb menuju kepada “kalimat kesamaan” (kalimatun sawâ’) antara beliau dan mereka, yaitu, secara prinsip menuju kepada ajaran Ketuhanan Yang Maha Esa atau Tawhîd. Tetapi juga dipe­san­kan bahwa, jika me­reka menolak ajakan menuju kepada “kalimat kesamaan” itu, Nabi dan para pengikut be­liau, yaitu kaum beriman, harus bertahan dengan identitas mereka selaku orang-orang yang berserah diri  kepada Allah (muslimûn). Perintah Allah kepada Nabi itu demikian:

Katakanlah: “Wahai ahl al-kitâb! Marilah menggunakan istilah yang sama antara kami dengan kamu: bahwa kita takkan mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Dia; bahwa kita takkan saling mempertuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling, katakanlah: “Saksikanlah bahwa kami orang-orang Muslim [tunduk bersujud kepada kehendak Allah]” (Q., 3: 64).

 

 

 

 

 

 

BAGIKAN

BERIKUTNYA