Nurcholish Madjid Nurcholish Madjid

Ahli Sunnah Wal Jamaah

Terjadinya kesenjangan antara para penguasa Umayyah dengan para sarjana dan ulama sebenarnya mulai terasa segera setelah konsolidasi rezim itu di masa Mu’awiyah, khalifah Damaskus yang pertama. Memang, Islam mulai merasakan ketidakberesan di bidang politik sejak masa kekhalifahan Utsman ibn Affan, seorang anggota Bani Umayyah. Kini, dalam rezim Damaskus, ketidakberesan itu semakin kentara, setidak-tidaknya demikian dirasakan oleh sementara kelompok orang-orang Islam tertentu. Di beberapa kota pusat kegiatan pemikiran Islam, khususnya Madinah dan Hijaz, Basrah dan Kufah di Irak, serta ibu kota sendiri, Damaskus di Siria, tumbuh angkatan Muslim baru yang lebih mencurahkan pikiran kepada bidang intelektual keagamaan dan memilih sikap lebih netral dalam politik. Mereka ini menyadari bahwa setelah kemenangan politik atas umat-umat bukan Muslim menjadi kenyataan dan mantap, sesuatu harus dilakukan untuk mendalami makna agama Islam itu sendiri bagi kehidupan orang-seorang. Dan karena merasa traumatis oleh fitnah demi fitnah di kalangan umat, generasi baru ini kemudian mengembangkan konsep Jamaah (Arab: jamâ‘ah, yaitu konsep tentang kesatuan ideal seluruh kaum Muslimin tanpa memandang aliran politik mereka. Bagi mereka ini, keseluruhan umat itu membentuk kesatuan ruhani yang harus diutamakan di bawah bimbingan agama Tuhan.

Memang, dalam perkembangannya golongan Jamaah ini menerima faith accompli kekuasaan Umayyah di Damaskus, dan karena itu sedikit banyak ditolerir oleh pemerintah. Tetapi karena pertumbuhan peranan mereka yang boleh dikata selaku hati nurani umat, golongan Jama`ah ini memberi dukungan politik kepada rezim Damaskus hanya dengan sikap cadangan (reserve) yang cukup besar. Apalagi mereka perhatikan pula bahwa kekuasaan Umayyah itu, sekali pun berangkat dari konsep kekhalifahan Rasulullah, berkembang mengarah kepada sejenis monarki mutlak. Kaum Umayyah membela diri bahwa absolutisme mereka hanyalah demi kebaikan umat, lebih-lebih demi mengakhiri berbagai fitnah yang ada, dan karenanya mereka juga mendukung konsep Jama`ah. Tetapi absolutisme dirasakan sebagai sesuatu yang terlalu banyak untuk pola kehidupan orang-orang Arab yang cenderung amat demokratis itu dan, lebih penting lagi, berlawanan dengan cita-cita egalitarianisme Islam. Para sarjana dan ulama pendukung konsep Jamaah itu kemudian tumbuh menjadi kelompok oposisi moral yang saleh terhadap rezim Damaskus.

Di antara kota-kota pusat pemikiran dan intelektualisme Islam itu, Madinah dan Basrah memainkan peranan yang amat menonjol. Di Madinah, Abdullah ibn Umar, putera Khalifah Umar ibn Khattab, tampil sebagai seorang sarjana yang serius, yang mempelajari dan mendalami segi-segi ajaran Islam. Sebagai seorang yang hidup di kota Nabi,  dalam mengkaji ajaran agama itu Ibn Umar memiliki kecenderungan alami untuk memperhatikan dan mempertimbangkan secara serius tingkah laku dan pendapat penduduk Madinah yang dilihatnya sebagai kelangsungan hidup tradisi masa Rasulullah. Karena itu ia terdorong untuk memperhatikan berbagai cerita dan anekdot tentang Nabi yang banyak dituturkan oleh penduduk Madinah. Dengan begitu Abdullah ibn Umar, bersama seorang tokoh Madinah yang lain, Abdullah ibn Abbas, menjadi perintis yang mula-mula sekali untuk bidang kajian baru dalam sejarah intelektualisme Islam, yaitu bidang al-Sunnah (tradisi) Nabi.

Karena pandangan mereka yang tetap menganggap penting solidaritas dan kesatuan umat dalam Jama`ah, lalu rintisan mereka untuk kajian tentang Sunnah itu dan penggunaannya dalam usaha memahami agama secara lebih luas, maka kedua Abdullah itu banyak dipandang sebagai pendahulu terbentuknya kelompok umat Islam yang kelak dikenal sebagai golongan Sunnah dan Jamaah (Ahl al-Sunnah wa al-Jamâ‘ah) atau, secara singkat Ahli Sunnah (Ahl al-Sunnah), golongan Sunni. Seperti telah dikatakan di atas, disebabkan pengalaman traumatis mereka oleh berbagai fitnah yang terjadi, golongan ini mempunyai ciri kuat kenetralan dasar dalam politik, moderasi dan toleransi. Karena ciri-ciri itu, golongan ini memiliki kemampuan besar untuk menyerap berbagai pendapat yang berbeda-beda dalam umat dan menumbuhkan semacam relativisme internal Islam.

Pluralisme mereka itu melapangkan jalan bagi diterimanya pandangan-pandangan keagamaan mereka, yang kemudian dengan mudah berkembang menjadi anutan popular kelompok mayoritas umat. Tetapi tekanan mereka kepada segi solidaritas umat sesuai dengan konsep Jama`ah yang ada, dan dengan begitu juga sikap mereka yang kurang senang kepada anarkisme (berhadapan dengan kaum Khawarij dan Syiah), golongan itu mendapati dirinya tumbuh hampir menyatu dengan kepentingan rezim Umayyah di Damaskus. Sekalipun pada tingkat moral keagamaan dan intelektual mereka tetap melakukan oposisi terhadap Damaskus, tetapi kenetralan mereka dalam politik lebih banyak menguasai sikap-sikap nyata mereka, dan dengan begitu mereka hampir tidak pernah melahirkan bahaya yang berarti bagi kepentingan politik kaum Umayyah. Bahkan pemerintahan Umayyah itu, khususnya pada tahap pertumbuhan cikal bakal golongan Sunni tadi, sebagaimana ditunjukkan oleh sikap khalifah Abdul Malik ibn Marwan, menghargai kegiatan kajian keagamaan di Madinah, dan menunjukkan respek secukupnya kepada para tokohnya, khususnya kepada Abdullah ibn Umar yang sangat disegani. Lebih-lebih lagi hal ini juga dikarenakan pandangan bahwa mereka yang amat berpegang kepada Sunnah itu juga menganggap serius sebuah kenyataan bahwa Mu’awiyah, pendiri rezim Umayyah, adalah seorang sahabat Nabi. Sebagai seorang sahabat Nabi, Mu’awiyah tetap harus dihormati, jika tidak bahkan harus dipandang sebagai hampir tidak bisa salah. Jadi boleh dikatakan bahwa, dalam batas-batas tertentu, konsep Jama`ah berhasil dilaksanakan, tetapi dengan implikasi yang sangat banyak memberi keuntungan politik bagi Bani Umayyah di Damaskus.

Konflik antara para pengemban ilmu di satu pihak dan para pengemban kekuasaan politik di pihak lain memang tidak selamanya bisa dihindari, sebagaimana nasib yang menimpa pemikir-pemikir lantang seperti al-Juhani dan al-Dimsyaqi. Meskipun malapetaka itu terjadi agaknya karena keekstreman, kedua sarjana itu mengemukakan pendirian mereka tentang kemampuan dan tanggung jawab individu manusia. Fakta ini juga banyak mewakili sikap otoriter kekhalifahan Umayyah yang sangat mengekang dan merugikan perkembangan intelektualisme Islam.

 

BAGIKAN

BERIKUTNYA