Nurcholish Madjid Nurcholish Madjid

AHLI SURGA: TIDAK BERKATA KEJI DAN DENGKI

Dikisahkan, Rasulullah Saw. sering melambat-lambatkan ceramahnya padahal para sahabat sudah berkumpul. Kejadian semacam itu beliau lakukan berkali-kali sehingga akhirnya para sahabat pun tidak sabar lagi ingin mengetahui ada apa di balik perbuatan beliau tersebut. Setelah diamati, ternyata Rasulullah Saw. sedang menunggu kedatangan seseorang yang, menurut kalangan sahabat, tidak populer. Orang yang dinantikan Rasulullah Saw. itu kemudian datang dengan menenteng sandal dan masuk ke dalam masjid, duduk bersama para sahabat yang sedang menunggu. Ketika ditanya para sahabat mengapa ceramahnya dimulai setelah menunggu orang tadi, Rasulullah Saw. pun menjawab bahwa orang yang baru datang itu adalah dari golongan ahli surga. Tentu saja jawaban Rasulullah Saw. tersebut membuat penasaran para sahabat.

Salah seorang sahabat yang cerdik, karena didorong oleh rasa penasaran, mencoba mengetahui amalan macam apa saja yang diperbuat orang itu hingga dikatakan oleh Rasulullah Saw. sebagai ahli surga. Akhirnya, sahabat tadi harus mengikuti orang tersebut secara diam-diam dan setelah mengetahui rumahnya, ia datang dan mengaku sebagai seorang tamu yang kemalaman. Sahabat itu pun meminta agar diizinkan bermalam di rumah itu.

Selama bermalam di rumah orang tersebut, sahabat itu selalu mengawasi dan memperhatikan amalan keseharian orang tersebut. Menurut penilaiannya, amalan orang itu sesungguhnya tidak ada yang istimewa, kecuali bahwa setiap kali bangun atau membetulkan posisi tidurnya, ia selalu menyebut nama Allah Swt. atau dzikrullâh, seperti yang difirmankan dalam Al-Quran, Orang yang mengingat (berzikir) Allah: ketika berdiri, duduk atau berbaring ke samping dan merenungkan penciptaan langit dan bumi, “Tuhan, tiada sia-sia Kau ciptakan semua ini! Maha Suci Engkau! Selamatkan kami dari azab apai (neraka)” (Q., 3: 191).

Setelah dirasa cukup, akhirnya sahabat tadi dengan jujur membuka rahasianya bahwa ia sebenarnya hanya ingin mengetahui amalan apa saja yang dilakukan orang tersebut karena Rasulullah Saw. menyebut dia dari golongan ahli surga. Orang itu pun mengingat-ingat semua amalan keseharian yang biasanya dikerjakan. Dan ia pun mengetahui, tidak ada yang istimewa. Kemudian, ia hanya mengatakan, menurut dugaan dan perkiraan dirinya barangkali termasuk orang yang tidak pernah melakukan qawl al-zûr, berkata keji, kotor dan dengki, hasad, dengan siapa pun.

Perlu disadari bahwa perbuatan dengki, yang nampak sepele, sebenarnya justru merupakan perbuatan yang sangat berbahaya. Dengki merupakan gejala permusuhan psikologis secara sepihak dan sangat berbahaya, karena orang yang didengki tidak mengetahui dan dapat berakibat fatal. Dalam Al-Quran, perbuatan dengki dinyatakan sebagai perbuatan yang diwanti-wantikan agar dijauhi. Orang beriman pun dianjurkan meminta perlindungan dari serangan dengki sebagaimana difirmankan, Dan dari jahatnya orang yang dengki bila melakukan kedengkian (Q., 113: 5).

Bahaya dengki dalam sebuah Hadis diilustrasikan seakan-akan seperti api yang membakar kayu kering, “Waspadalah dari sikap dengki karena dengki menghilangkan amal kebajikan, ibarat api yang memakan kayu bakar”. Artinya, perbuatan dengki juga sangat membahayakan dirinya, namun kebanyakan orang tidak menyadarinya, yakni akan menghilangkan atau membangkrutkan nilai amalan baik atau ibadahnya secara tidak dirasakan dan disadari. Akhirnya, orang tersebut di akhirat terkejut, merasa beramal banyak di dunia, tetapi ternyata ia tidak memiliki simpanan atau deposito amal.

Hal yang demikian juga sama dengan amal orang munafik atau orang yang sikap lahiriahnya berbeda dengan hatinya. Ia mengira telah melakukan banyak kebajikan di dunia, namun, tanpa disadari, akibat dari amalan yang tidak disadari oleh keimanan dan ketakwaan, sehingga amal perbuatannya menjadi fatamorgana. Ini sebagaimana difirmankan dalam Al-Quran yang berbunyi, Tetapi mereka yang kafir, amal mereka seperti bayangan (fatamorgana—NM) di padang pasir, yang oleh orang yang sedang kehausan dikira air, sehingga bila sampai ke tempatnya, tak ada apa-apa (Q., 24: 39).

 

BAGIKAN

BERIKUTNYA

Leave a Reply