Nurcholish Madjid Nurcholish Madjid

AHLUL KITAB SELAIN YAHUDI DAN NASRANI

Al‑Quran memang tidak menyebutkan dengan tegas bahwa go­longan-golongan agama lain selain Yahudi dan Nasrani sebagai ahl al-Ki­tâb. Padahal golongan Majusi dan  Sabean memiliki kitab suci atau yang serupa itu, sama halnya dengan golongan Budhis, Brahman (Hin­du) dan Kon­­fu­sianis (penganut Konfusius atau Kong Hu Cu). Akibat­nya, banyak kalangan ulama Islam yang langsung memasukkan mereka ini ke dalam golongan kaum musyrik, padahal Kitab Suci Al‑Quran dan Sunnah Nabi jelas membedakan antara kaum musyrik dengan ka­um Majusi dan Sa­bean. Menurut Rasyîd Ridlâ, Al‑Quran hanya me­nye­butkan kaum Majusi dan Sabean karena kedua golongan itu sudah dikenal orang Arab zaman itu, di Irak dan di Bahrain. Sedangkan kaum Bu­dhis, Hindu dan Konfusianis tidak dikenal, karena orang Arab itu, ke­cuali se­di­kit sekali, belum pernah ke India dan Cina. Namun, menurut Ra­syîd Ridlâ lebih lanjut, maksud Al‑Quran te­lah ter­capai dengan menyebutkan golongan-golongan yang dikenal masya­ra­kat Arab zaman itu, dan tidak perlu membuat keterangan tentang hal-hal yang belum mereka kenal.

Oleh karena itu, menurut Rasyîd Ridlâ, penilaian sebagai “musy­rik” tidak dapat dikenakan kepada siapa saja yang menolak Nabi Muhammad Saw., juga tidak kepada siapa saja selain ka­um Yahudi dan Kristen yang mereka ini dalam Al‑Quran dengan tegas disebut se­bagai ahl al-Ki­tâb. Bagi Rasyîd Ridlâ, mengikuti pendapat kaum Salaf dan sesuai dengan sasaran pembi­ca­ra­an Al‑Quran pada waktu ditu­run­kan (zaman Nabi Saw.), pengertian kaum “musyrik” ialah para pe­nyem­­bah berhala kalangan Arab Jâhiliyah, karena mereka me­mang sa­ma ­sekali ti­dak mempunyai kitab suci atau yang serupa itu. Kemudian diana­lo­gi­kan dengan orang-orang Arab musyrik itu, maka setiap go­­long­an ma­nu­sia yang jelas tidak mempunyai kitab suci dapat disebut seba­gai “musy­rik”. Demikian pula dengan pengertian “ahl al-Kitâb”, dalam Al‑Quran memang terutama dimaksudkan khu­susnya kaum Yahudi dan Nasrani. Tetapi dianalogikan dengan mereka itu, maka setiap go­longan yang mempunyai kitab suci adalah ahl al-Kitâb. Sekalipun asal-usul kitab suci itu tidak lagi diketahui, tapi kalau mengandung ajaran mo­ral dan syariat (ajaran keagamaan) yang sebanding (tapi tidak mes­ti sama) dengan Islam, maka mereka adalah ahl al-Kitâba.

Dari uraian di atas menjadi amat jelas kebenaran klaim para ulama dan pemimpin Islam bahwa agama Islam adalah agama yang sangat toleran dan menghargai agama-agama lain. Inipun diakui oleh banyak kalang­an sarjana modern, termasuk mereka yang ateis seperti Bertrand Rus­sel. Filo­sof Inggris ini mengatakan, bahwa karena prinsip Tawhîd atau Monotheisme (faham Ketuhanan Yang Maha Esa) yang jelas, maka Is­lam adalah agama yang tidak memaksakan di­ri­nya kepada pa­ra peme­luk agama-agama lain dari kalangan para penganut kitab suci atau ahl al-Kitâb. Dan ber­kat sikapnya yang toleran dan terbuka itu maka, kata Rus­sel, kaum Muslim masa lalu, se­ka­li­pun jumlah mereka kecil sekali, sanggup memerintah dan menguasai dengan mudah bangsa-bang­sa lain dalam jumlah yang amat jauh lebih besar, yang meliputi daerah yang amat luas dengan per­­adaban duniawi yang lebih tinggi daripada orang-orang Arab

Maka tantangannya bagi kita di Indonesia ini ialah bagaimana menanamkan kembali ke­sadaran normatif itu di kalangan kaum Mus­lim sendiri, serta bagaimana menyadarkan umat-umat agama lain ten­tang adanya ajaran Kitab Suci dan Sunnah Nabi seperti di atas. Setiap ketentuan nor­matif tentu meng­acu ke­pada apa yang seharusnya. Se­dang­kan kenyataan dalam masyarakat se­lalu menuntut apa yang mung­kin, dan ja­rang sekali dapat dilaksanakan apa yang seharusnya. Te­tapi jika dengan alas­an itu ketentuan normatif ditinggalkan begitu saja, ma­ka seluruh peng­a­kuan menganut ajaran atau agama menjadi batal. Ini tentu bukan yang kita kehendaki. Karena itu tidak ada jalan lain da­ri ke­tentuan normatif harus diusahakan pelaksanaanya secara sungguh-sung­guh dan konsek­uen. Hanya dengan begitu suatu ajaran akan ber­fungsi. Atau, jika kita semua merasa asing de­ngan hal-hal di atas, ja­ngan-jangan inilah zaman ajaran Islam terasa asing kembali se­ba­gai­mana dahulu datang sebagai ajaran yang terasa asing, seperti disab­da­kan Nabi Saw.

Dalam zaman yang sering disebut sebagai “era globalisasi” ini, umat Islam harus semakin ba­nyak dan sungguh-sungguh menangkap kembali ruh ajaran agamanya, yang mungkin saja telah tertimbun de­bu sejarah selama berabad-abad sehingga tidak tampak lagi sama sekali. Pa­­dahal jus­tru dalam ruh keagamaan yang otentik itu, yang dahulu pernah membuat kaum Mus­lim Salaf (Kla­sik) demikian hebatnya, da­pat diketemukan berbagai jawaban potensial ter­ha­dap tan­tangan zaman sekarang ini. Yang diperlukan ialah, kembali kepada Kitab Suci dan Sun­nah Nabi dalam arti seluas-luasnya, yaitu kepada ajaran-ajaran prinsipil dan mendasar dalam kedua sumber su­ci itu, dan tidak kepada hal-hal ad-hoc seperti selama ini terkesankan (misalnya, atas nama kembali ke­pada Al‑Quran dan Sunnah namun yang tergarap hanya­lah masalah-masalah ritual belaka). Dan di samping Kitab dan Sunnah, yang amat diperlukan kaum Muslim sekarang ialah me­­ma­hami, menya­dari, dan menghargai kembali warisan peradaban mereka dalam seja­rah, yang ter­maktub dalam warisan intelektual yang kaya‑raya. Kemu­dian, semua itu harus dikem­bang­kan se­cara kreatif dan men-zaman (up to date), guna menjawab masalah-masalah kontemporer. Sebab, pada ujungnya, hidup yang benar ialah pasrah yang tulus (islâm) kepada Tu­han, dengan menga­rah­kan seluruh keinsafan makna keberadaan ma­sing-masing kepada‑Nya semata, dan dengan menempuh hidup ber­moral di muka bumi.

 

 

BAGIKAN

BERIKUTNYA