Nurcholish Madjid Nurcholish Madjid

AJAKAN MENCARI TITIK TEMU AGAMA-AGAMA

Artikel Sebelumnya

Perhatian besar yang harus tetap diberikan kepada ajakan untuk menemukan dasar-dasar kepercayaan yang sama, yang dalam hal ini tidak lain ialah paham Ketuhanan yang Maha Esa atau tawhîd, monoteisme. Karena itu Nabi Saw. mendapat perintah Tuhan agar mengajak para pengikut kitab suci (ahl al-kitâb) untuk secara bersama kembali kepada “titik pertemuan” (kalîmah sawâ’: persamaan ajaran) di antara mereka, Katakan (hai Muhammad), “Wahai para pengikut kitab suci, marilah menuju persamaan ajaran antara kami dan kamu sekalian, yaitu bahwa kita tidak beribadah kecuali kepada Allah dan tidak pula mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Dia, serta sebagian dari kita tidak mengangkat sebagian yang lain sebagai ‘tuhan-tuhan’ selain daripada Allah!” Tetapi kalau mereka berpaling (dari ajakan ini), maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah olehmu semua bahwa kami ini adalah orang-orang yang pasrah (kepada Allah)” (Q., 3: 64).

Ajakan itu diperlukan, karena dasar kepercayaan atau keimanan akan sangat menentukan apakah suatu agama cukup kuat mendukung pesannya sendiri. Jika kita perhatikan dalam kehidupan sehari-hari, banyak kita dapati “bekas” atau “sisa” agama masa lalu yang dasar kepercayaannya tidak mampu bertahan terhadap perkembangan zaman yang merangkum pengalaman dan pikiran manusia. Agama itu tinggal menjadi mitologi, dan pesannya sirna.

Jadi kualitas sistem keimanan suatu agama (segi benar-salahnya, sejati-palsunya, sistem keimanan itu) akan sangat menentukan apakah suatu pesan agama tersebut, betapapun baiknya pesan itu, akan dapat bertahan dan bekerja sebagai sumber moral manusia dalam sejarah yang panjang ataukah tidak. Maka sementara pesan yang dikandung semua agama itu sama, namun di antara agama itu, karena perbedaan dasar keimanannya, ada yang mampu bertahan dalam sejarah sehingga pesan yang diembannya pun bertahan, tapi banyak yang tidak demikian, sehingga pesan agama itu pun ikut menghilang. Itulah sebabnya mengapa berkenaan dengan pesan-pesan Ilahi di atas, kita mendapatkan masalah percaya kepada Tuhan yang Maha Esa atau monoteisme ditempatkan dan ditekankan pada urutan pertama, dan baru disusul dengan berbagai ketentuan kehidupan bermoral.

Artikel Sebelumnya BAGIKAN

BERIKUTNYA

Leave a Reply