Mengapa Pembaruan Islam?

Jumat, 6 Juli 2018 - Oleh Nurcholish Madjid
Nurcholish Madjid saat menyampaikan ceramah di forum HMI.
Mengapa Pembaruan Islam

Oleh M. Din Syamsuddin


Paling tidak, ada dua faktor saling tarik-menarik yang menjadikan isu pembaruan Islam—persisnya pembaruan pemahaman tentang Islam—aktual sekaligus kontroversial sepanjang sejarah pemikiran Islam. Kedua faktor ini bersifat intrinsik, melekat pada Islam itu sendiri, karenanya dapat dipandang sebagai watak-watak Islam.

Pertama, watak keuniversalan Islam. Watak ini meniscayakan adanya pemahaman selalu baru untuk menyikapi perkembangan kehidupan manusia yang selalu berubah, Islam yang universal— dalam arti cocok untuk segala ruang dan waktu (shâlih li-kulli zamân wa makân) menuntut aktualisasi nilai-nilai Islam dalam konteks dinamika kebudayaan. Kontekstualisasi ini tidak lain dari upaya menemukan titik temu antara hakikat Islam dan semangat zaman. Hakikat Islam, kerahmatan dan kesemestaan (rahmat-an li ’l-‘âlamîn), berhubungan secara simbiotik dengan semangat zaman, yaitu kecondongan kepada kebaruan dan kemajuan. Pencapaian cita-cita kerahmatan dan kesemestaan (dalam ungkapan lain kemaslahatan untuk semua) sangat tergantung kepada penemuan- penemuan baru akan metode dan teknik untuk mendorong kehidupan yang lebih baik, lebih maju. Dengan demikian, keuniversalan mengandung muatan kemodernan. Islam menjadi universal justru karena mampu menampilkan ide dan lembaga modern serta menawarkan etika modernisasi.

Kedua, watak kemutlakan Islam. Sebagai agama yang berdasar- kan wahyu Ilahi Islam diyakini para pemeluknya sebagai kebenaran mutlak (al-haqq). Keyakinan ini membawa implikasi bahwa Islam adalah sistem nilai yang mengatasi sistem-sistem nilai lain (ya‘lû wa lâ yu‘lâ ‘alayh), dan bahkan Islam merupakan satu-satunya sistem nilai yang absah sedangkan selainnya adalah absurd. Pemutlakan semacam ini juga mendorong penafian kebenaran dari ideologi-ideologi modern dan segala bentuk ide serta lembaga yang dilahirkannya. Pada akhirnya, sikap keberagamaan demikian menentang kemodernan dan menantangnya dengan ideologi yang dianggap Islami, baik dengan kembali ke masa lalu mengangkat “Islam sejati” (pristine Islam) seperti ditunjukkan oleh puritanisme atau konservatisme Islam, maupun dengan menawarkan alternatif yang menekankan “prinsip-prinsip” Islam seperti ditampilkan oleh prinsipalisme atau fundamentalisme Islam.

Kedua watak Islam di atas, keuniversalan dan kemutlakan, masing-masing mempunyai sandaran dalam Kitab Suci. Kemutlakan keagamaan merupakan sikap pandang yang cenderung meyakini kebenaran subjektif sebagai kebenaran mutlak. Penghayatan tentang kebenaran, dalam hal ini, mengandung arti “keyakinan adalah kebenaran, dan kebenaran adalah keyakinan”. Dalam konteks Islam, premis di atas berbunyi bahwa agama Islam (yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw) adalah kebenaran mutlak yang tunggal. Segala “yang mungkin benar” atau “yang benar-benar benar” tapi berasal dari luar Islam adalah “kebenaran palsu” atau “kebenaran semu”. Begitu pula, keyakinan lain akan kebenaran yang timbul karena perbedaan penafsiran terhadap Islam itu sendiri akan tidak dibenarkan sebagai kebenaran.

Sikap pandang di atas akan menafikan segi-segi kebenaran yang mungkin ada dalam agama-agama selain Islam (baik samâwî maupun ardlî), betapapun distorsi historis dan teologis yang dialami agama-agama tersebut. Penafian ini dapat dihadapkan dengan pandangan bahwa Islam, dalam konteks agama-agama terdahulu, mempunyai fungsi tashdîq dan tabyîn (Q 10:37; 16:89). Fungsi pertama mengandung arti konfirmasi dan koreksi, yakni bahwa Islam membenarkan kebenaran-kebenaran yang masih ada, dan mengoreksi penyimpangan-penyimpangan yang tejadi dalam agama-agama terdahulu. Fungsi kedua mengandung arti Islam membawa keterangan dan penjelasan baru tentang kebenaran- kebenaran itu. Kedua fungsi ini tidaklah dengan ekstrem dan apriori menolak segi-segi kebenaran universal yang ada dalam proses panjang bimbingan Tuhan terhadap manusia lewat pengutusan para Rasul (baik yang dikisahkan maupun yang tidak dikisahkan dalam al-Qur’an).

Dalam konteks tantangan modernitas, absolutisme keagamaan cenderung melakukan penolakan dan penentangan. Penolakan dan penentangan tersebut didasarkan pada suatu persepsi bahwa modernitas adalah produk kebudayaan Barat, sedangkan Barat adalah musuh Islam dan umat Islam secara politik dan kultural. Karena itu, pembaruan paham keislaman menghadapi tantangan modernitas itu sendiri harus pula ditolak dan ditentang.

Orientasi keberislaman di atas memuat pertentangan dalam dirinya, terutama jika dihadapkan kepada misi kerasulan: menye- barkan rahmat kepada semesta. Seperti telah disebutkan di muka, misi kerasulan tersebut, yang juga dapat disebut sebagai cita- cita kultural Islam, mengandung arti kemaslahatan universal. Karena itu, segala bentuk penemuan dan pengembangan metode dan teknik mempertinggi kualitas hidup manusia lewat proses modernisasi kebudayaan, merupakan langkah-langkah yang paralel dengan pewujudan kemaslahatan umum itu, dan dalam waktu yang sama sinkron dengan cita-cita kultural Islam. Islam, dalam hal ini, tidak hanya tidak melarang, tapi bahkan “mengharuskan”, pembaruan pemahaman terhadap dirinya. Karena hanya dengan demikian Islam menjadi aktual dan fungsional terhadap dinamika kebudayaan.

Dalam perspektif di atas, modernisasi paham keislaman merupakan suatu keniscayaan, seperti halnya modernitas itu sendiri merupakan keniscayaan dari proses dinamis peradaban manusia. Pembaruan paham keislaman mempunyai konsekuensi logis terhadap peninjauan dan penelaahan dengan kritis paham-paham keislaman yang ada selama ini, baik menyangkut bidang kebudayaan (muamalat), maupun bidang kepercayaan (akidah) yang dapat menghambat proses penyempurnaan kebudayaan tersebut.

Pembaruan paham keislaman tidak semata-mata bertolak dari asumsi tentang kerelatifan kebenaran paham-paham yang ada, tapi juga berdasarkan pada kerelatifan kepenunjukan arti (signifikansi) sebagian besar ayat-ayat al-Qur’an yang merupakan dasar dari pemahaman Islam. Sebagai manifestasi pengetahuan Tuhan Zat Yang Tak Terhingga (unlimited being), maka penyampaian pengetahuan tersebut harus menggunakan media yang bisa dipahami, yaitu bahasa manusia yang juga terbatas. Dalam hal ini, teks al-Qur’an tidak dapat sepenuhnya menyampaikan pesan-pesan Ilahi yang tak terhingga. Pendekatan tekstual dan literal terhadap al-Qur’an hanya akan mengantarkan kepada pemahaman dimensi eksoteris (zhâhir); tidak dapat mengantarkan kepada penyingkapan dimensi esoteris (bâthin) ayat-ayat al-Qur’an. Hal terakhir dapat dilakukan dengan melakukan penakwilan (ta’wîl) al-Qur’an, bukan sekadar penafsiran (tafsîr).

Karena itu, pemahaman terhadap al-Qur’an, sebagai dasar pema- haman Islam, memerlukan pendekatan rasional dan kontekstual. Kendati pendekatan ini tidak berarti sama secara kualitatif dengan penakwilan, namun ia lebih dalam dari penafsiran tekstual dan literal. Jika yang terakhir sangat berorientasi kepada pengertian yang dimunculkan bahasa, maka penafsiran rasional dan kontekstual, di samping itu, juga mempertimbangkan kesimpulan-kesimpulan logika dan pesan-pesan moral dari konteks sosio-historis ketika ayat-ayat itu diturunkan, serta peluang-peluang dari konteks sosio-kultural di mana ia akan diterapkan. Pendekatan yang lebih komprehensif dan holistik (hermeneutik) tentu dapat membawa pemahaman yang lebih luas dan utuh terhadap al-Qur’an.

Pembaruan Islam yang berlangsung selama ini sejatinya mela- kukan penafsiran al-Qur’an dengan pendekatan rasional dan kontekstual. Pembaruan Islam, dengan demikian adalah rasiona- lisasi pemahaman Islam dan kontekstualisasi nilai-nilai Islam ke dalam kehidupan. Sebagai salah satu pendekatan pembaruan Islam, rasionalisasi mengandung arti upaya penemuan substansi dan penanggalan lambang-lambang. Sedangkan kontekstualisasi mengandung arti upaya pengaitan substansi tersebut dengan pelataran sosial-budaya tertentu dan kemungkinan penggunaan lambang-lambang budaya tersebut untuk membungkus kembali substansi tersebut.

Dalam ungkapan lain, rasionalisasi dan kontekstualisasi dapat disebut sebagai proses substansiasi (pemaknaan secara hakiki etika dan moralitas) Islam ke dalam proses kebudayaan dengan melakukan desimbolisasi (penanggalan lambang-lambang) budaya asal (baca: Arab), dan pengalokasian nilai-nilai tersebut ke dalam budaya baru (lokal). Sebagai proses substansiasi, pembaruan Islam melibatkan pendekatan substantivistik (menekankan isi daripada bentuk) terhadap Islam. Hal inilah yang membedakan para pembaru dengan para pengkritik mereka yang cenderung mempertahankan pendekatan formalistik (menekankan bentuk) dalam memahami dan menerapkan ajaran-ajaran Islam.

Perbedaan mendasar antara kelompok pro dan kontra pemba- ruan sesungguhnya terletak pada kerangka metodologis dalam memahami Islam, dan pada persepsi serta aksentuasi masing- masing terhadap dua watak Islam—keuniversalan dan kemutlakan. Perbedaan antara keduanya berada dalam gairah pemahaman atau penafsiran, dan tidak ada kaitannya, karenanya tidak dapat dikaitkan dengan keimanan atau kekafiran.
  RELATED POST
Tiga Pendekar dari Chicago
Selasa, 10 Juli 2018
Puncak Gunung Es
Selasa, 10 Juli 2018
  E-BOOK
1
30 Sajian Rohani
Penulis Nurcholish Madjid
2
Bilik-Bilik Pesantren
Penulis Nurcholish Madjid
3
Tradisi ISLAM
Penulis Nurcholish Madjid