AGAMA DAN MITOLOGI

Minggu, 11 Juni 2017 - Oleh Nurcholish Madjid
This default photo desc.
Banyak ahli mengatakan bahwa manusia, baik sebagai perorangan maupun kolektifa, tidak dapat hidup tanpa mitos atau mitologi. Pengertian “mitos” seperti dikem­bang­kan oleh para ilmuwan sosial, khususnya para antropolog, adalah sesuatu yang diperlukan manusia untuk mencari kejelasan tentang alam lingkungannya, juga sejarah ma­sa lampaunya. Dalam pengertian ini, “mitos” menjadi semacam “pelukisan” atas kenyataan-ke­nya­taan (yang tak terjangkau, baik relatif ataupun mutlak) dalam format yang dise­der­hanakan sehingga terpahami dan tertangkap oleh orang banyak. Sebab, hanya melalui suatu ke­terangan yang terpahami itu seseorang atau masyarakat dapat mempunyai gambaran ten­tang letak dirinya dalam susunan kosmis, kemudian berdasarkan gambaran itu ia menjalani hidup dan melakukan kegiatan-kegiatan.

Dalam pengertian itu terkandung pandangan kenisbian tafsiran tentang mitos. Yaitu, bah­wa setiap mitos, betapa pun ia itu salah, mempunyai faedah dan kegunaannya sendiri. Kaum fung­sio­na­lis di kalang­an para ahli ilmu sosial menganut pendapat serupa itu. Fungsi mitos dan mitologi ia­lah untuk menyediakan rasa makna hidup yang membuat orang bersangkutan tidak akan me­rasa bahwa hidupnya akan sia-sia. Perasaan bahwa hidup ini berguna dan bertujuan le­bih tinggi dari­pada pe­ng­alaman keseharian merupakan unsur amat penting dari kebahagiaan, dan juga me­ru­pakan tonggak ketahanan fisik dan mental. Dengan adanya keinsafan tentang suatu makna dalam hidup, seseorang akan mampu bertahan dalam kepahitan pengalaman hidup nyata, karena ia, berda­sar­kan makna hidup yang diyakininya itu, selalu berpengharapan untuk masa depan. Ka­rena itu mak­na hidup ada­lah juga pangkal harkat dan mar­ta­bat ma­nusia.

Harkat manusia terletak pada pandangan bahwa hidupnya itu bagaimanapun juga berguna. Kita bersedia menanggung kepedi­han, deprivasi, kesedihan dan segala derita, jika semuanya itu menunjang suatu tujuan, daripada memikul beban hidup tak berarti. Lebih baik men­de­rita daripada tanpa makna.

Dalam pengertian seperti itu, mitos menjadi sama dengan perlambang, alegori (majâz) atau simbol (rumûz, jamak dari ramz). Sebab, sama dengan mitos, simbol pun (seperti bendera negara atau panji-panji) mewakili suatu kenya­ta­an yang jauh lebih besar dan kompleks, yang oleh simbol itu disederhanakan sehingga mudah di­tang­kap maksud dan tujuannya, mungkin juga nilainya. (Da­lam suatu peperangan yang melibatkan masalah hidup atau mati, seseorang dapat tergugah luar biasa semangatnya hanya karena melihat bendera negara atau golongannya dikibarkan). Ka­rena itu, sama dengan simbol, mitos tidak dapat diberi makna harfiah, sebab setiap pemberian mak­na harfiah akan membuat persoalan men­jadi tidak masuk akal (misalnya, tidaklah masuk akal bahwa seseorang bersedia mati semata-mata untuk atau demi se­carik kain yang kebetulan berwarna atau bergambar tertentu; sebaliknya, adalah masuk akal bahwa ia ber­se­dia mati “di bawah” bendera berupa secarik ka­in itu, karena ia me­ma­hami bahwa “di balik” ben­dera atau lambang itu terdapat kenyataan atau mak­na yang besar dan sangat berarti bagi diri dan masyarakatnya, se­per­ti negara atau agama).

Oleh karena menyangkut segi kenisbian, maka penafsiran atas mitologi seperti ini meli­bat­kan kesulitan tentang siapa yang berhak memberinya makna. Sebab, tidak mustahil terdapat mitos, lambang atau simbol yang persis sama namun mempunyai makna yang berbeda untuk orang yang berbeda. Contoh yang paling gampang ialah bendera kebangsaan kita, “sang merah putih,” yang juga merupakan ben­dera Monaco, atau, dengan sedikit variasi (yaitu letak atas-bawahnya dibalik), adalah juga bendera Polandia. Kita mempunyai tafsiran sendiri tentang apa makna warna “me­rah” dan apa pula makna warna “putih”, sebagaimana orang-orang Monaco (dan Polandia) tentu mempunyai tafsiran sendiri-sendiri.

Dalam rangka kenisbian tadi, masing-masing penafsiran adalah benar menurut kon­teks atau sudut pandang (perspektif) yang ber­sangkutan, dengan akibat munculnya prinsip tidak dibenarkan­nya ikut-campur oleh seseorang kepada penafsiran orang lain. Tetapi dalam kenyataan persoalannya tidak semudah gambaran itu. Misalnya, narasi tentang penciptaan manusia dalam kitab-kitab su­ci agama, dalam hal ini agama-agama Semitik (Yahudi, Kristen dan Islam), yang memiliki kesama­an struktur atau morfologi penuturan yang sangat besar (Tuhan menciptakan manusia pertama, yaitu Adam dari tanah, kemudian diciptakan isterinya pula, lalu dibiarkan hidup dalam surga pe­nuh kebahagiaan, namun dilarang mendekati sebuah pohon tertentu dalam surga itu. Adam dan is­te­rinya, Hawâ’, melanggar larangan itu, dengan akibat mereka diusir dari surga, dst.). Kita menge­ta­hui bahwa antara ketiga agama itu terdapat perbedaan penafsiran atas narasi penciptaan manusia tersebut. Kaum Yahudi cenderung menerimanya secara sangat harfiah, sehingga mereka mempercayai bah­­wa ma­nusia barulah diciptakan sekitar enam ribu tahun yang lalu, atau empat ribu tahun sebelum al-Masîh (karena itu kalender Yahudi yang dihitung sejak saat penciptaan manusia menu­rut tafsiran mereka, sekarang ini telah mencapai tahun 5754; seperti kalender Islam, kalender Ya­hudi juga dibuat ber­dasarkan peredaran rembulan). Karena kaum Kristen juga membaca Kitab Kejadian (Genesis) yang memuat narasi penciptaan itu, maka di kalangan mereka juga terdapat penganut tafsiran har­fiah seperti kaum Yahudi (kalangan Kristen di Amerika biasa disebut kaum Creationists seba­gai lawan para “ilmuwan” Darwinis yang disebut kaum Evolutionists). Per­soalan menjadi ru­mit ka­rena masing-masing dengan tafsiran yang berbeda-beda itu merasa paling benar dan mencap lainnya sebagai salah atau sesat, lalu mereka terlibat dalam pertikaian yang sangat gawat.
  RELATED POST
  E-BOOK
1
30 Sajian Rohani
Penulis Nurcholish Madjid
2
Bilik-Bilik Pesantren
Penulis Nurcholish Madjid
3
Tradisi ISLAM
Penulis Nurcholish Madjid