AGAMA DI ABAD XXI

Minggu, 11 Juni 2017 - Oleh Nurcholish Madjid
This default photo desc.
Abad XXI, yang oleh sebagian pemikir disebut sebagai “abad keruhanian”, agaknya akan menyaksikan tingkat kegairahan baru umat manusia dalam meyakini dan mengamalkan agama. Kecenderungan kembali ke agama ini bagi banyak orang mendukung kebenaran pandangan keseimbangan hidup manusia antara yang material dan yang spiritual. Seolah-olah sebuah pendulum yang sedang ber­ayun ke arah lain dari gejala umum kehidupan modern yang serba material, yaitu berayun ke arah yang lebih spi­ri­tual; kecenderungan kehidupan manusia abad XXI sedang menuju kepada keseimbangan yang telah lama didambakan.

Indikasi ke arah itu su­dah banyak terlihat dalam bentuk “kebangkitan” agama-agama: Pro­testan, Katolik Roma, Kato­lik Ortodoks, Yahudi, Islam, Hindu, Budha, bahkan agama-agama Jepang (Tenrikyo, misalnya). Tetapi kebang­kitan agama-agama itu, sebagaimana kita ketahui, juga membawa serta ek­sesnya ma­sing-masing, seperti funda­men­talisme Moral Majority di Amerika; kekerasan konflik Katolik-Protestan di Irlandia Utara; reaksi-reaksi fanatik dan penuh kebencian kepada para pekerja tamu (yang kebanyakan Muslim) di Eropa (yang sering menyatu dengan gerakan-gerakan Neo-Nazi atau semacam itu); ke­ke­rasan kaum Yahudi fundamentalis dan tekad mereka untuk men­di­rikan “The Third Temple” (de­ngan kemungkinan merobohkan monumen-monumen Islam dan Kris­ten di Yerusalem atau Bait al-Maq­dis) di Israel; kecenderungan radikal dan re­vo­lu­sioner pada sebagian kelompok Islam di Timur Te­ngah; fanatisme kaum Hindu dari Partai Ja­na­ta serta radi­kal­is­me kaum Sikh dan Islam di India; si­kap-sikap ingin saling menghancurkan an­tara kaum Hindu (Ta­mil) dan kaum Bu­dhis (Sinhala) di Sri Lanka; bentrokan-bentrokan sengit etnis dan keagamaan (Bu­dhisme terhadap Is­lam) di Myanmar; sisa-sisa hubungan sulit antara minoritas Mus­lim de­ngan peme­rin­tahan yang Budhis di Thai­­land dan dengan pemerintahan yang Katolik di Fili­pina, dan se­te­rusnya.

Dari semua itu, perubahan yang terjadi di kalangan bangsa-bangsa Muslim nampaknya muncul dalam skala yang lebih besar dan berdimensi yang lebih mendasar daripada yang terjadi di ka­langan lain. Disebabkan oleh hubungan dengan bangsa-bangsa (Kristen) Barat yang hampir ti­dak pernah sepi dari rasa permusuhan sepanjang sejarah, bangsa-bangsa Muslim memandang do­mi­nasi Barat terhadap dunia sekarang ini dengan tingkat kepahitan yang lebih menggigit daripada pan­dangan bangsa-bangsa lain. Ini menjadi salah satu sebab mengapa bangsa-bangsa Muslim praktis me­rupakan “pen­datang paling akhir” dalam dunia ilmu pengetahuan dan teknologi, menyusul kaum Hin­du (India), Budhis-Taois-Konfusianis (Jepang dan NIC’s), Konfusianis-Komunis (Cina), Ya­hu­di (Israel), Katolik Ortodoks (Eropa Timur), Ka­to­lik Roma (Ero­pa Selatan), dan Protestan (Eropa Utara, Amerika Utara, Australia dan Selandia Baru). Jadi dalam sains dan teknologi, bangsa-bangsa Muslim praktis merupakan papan bawah du­nia. De­ngan per­kataan lain, tidak satu pun umat agama non-Islam yang dalam sains dan tek­no­logi le­bih rendah da­ripada umat Islam. Umat Islam adalah yang terendah dari semuanya.

Dalam bidang kemakmuran ekonomi, beberapa negeri Muslim jauh berada di atas banyak negeri-negeri non-Muslim, hampir semata-mata karena rahmat Allah melalui kekayaan minyak. Sebagian dari negeri-negeri petro-dollar ini berusaha memanfaatkan kekayaan yang melimpah un­tuk menopang program-program investasi sumber daya manusia melalui pendidikan seperti, mi­sal­nya, yang dilakukan oleh almarhum Raja Faisal di Saudi Arabia. Beberapa negeri Teluk lain se­per­ti Bahrain, Uni Emirat Arab dan Oman juga nampak mampu dengan bijaksana memanfaatkan kekayaan minyak yang melimpah itu untuk mendorong proses-proses modernisasi bangsanya da­lam cara yang lebih bermakna.

Walaupun begitu, kemakmuran yang tinggi (antara lain membuat mereka memiliki kemu­dahan lebih besar untuk mengenal dunia luar) tanpa diimbangi oleh human development yang memadai (ka­re­na investasi sumber daya manusianya belum seluruhnya menghasilkan, me­ng­ingat jangka wak­tu pelaksanaannya yang relatif masih singkat), telah menunjukkan akibat yang kurang menguntungkan berupa krisis-krisis sosial-politik yang gawat. Peristiwa pendu­dukan dan penyanderaan Masjid Haram di Makkah oleh suatu kelompok Islam radikal beberapa tahun yang lalu, juga kecenderungan semakin banyaknya kelompok-kelompok Islam radikal di ber­bagai negeri Muslim di Timur Tengah, dapat dipandang dan dinilai antara lain dari sudut pandang­an ini. Ke­sen­jangan tersebut akhirnya tidak hanya dirasakan oleh kalangan penduduk negeri bersangkutan saja (misalnya, intern Saudi Arabia saja), tapi merambah ke seluruh kawasan Timur Tengah. Krisis Irak-Kuwait dan ba­gai­ma­na dunia Arab memberi reaksi kepadanya meru­pa­kan salah satu konsekuensi dari situasi hu­bungan antarnegara Arab yang penuh ke­sen­­jangan itu. Dan yang paling mutakhir adalah dampak dari peristiwa 11 September 2001, di mana banyak krisis hubungan Barat dan Islam termanifestasi secara lebih transparan, di samping harus dicatat kemungkinan untuk saling pengertian.
  RELATED POST
  E-BOOK
1
30 Sajian Rohani
Penulis Nurcholish Madjid
2
Bilik-Bilik Pesantren
Penulis Nurcholish Madjid
3
Tradisi ISLAM
Penulis Nurcholish Madjid