AGAMA DI MASA DEPAN

Minggu, 11 Juni 2017 - Oleh Nurcholish Madjid
This default photo desc.
Apakah ada harapan baik bagi kehidupan beragama di masa depan? Atau, lebih prinsipil lagi: Adakah kebaikan dalam kehidupan keagamaan bagi generasi yang akan datang? Kiranya pertanyaan-pertanyaan serupa itu adalah absah, mengingat adanya pandangan banyak orang bahwa Zaman Modern dengan ilmu pengetahuan dan teknologinya akan merongrong kehidupan keagamaan. Dalam beberapa segi, pandangan yang pesimis terhadap peran agama itu mengandung unsur kebenaran; tetapi secara keseluruhan, pengalaman dua abad umat manusia memasuki Zaman Modern tidak menunjukkan bahwa agama-agama akan runtuh begitu saja. Orang malah mulai menunjuk ambruknya sistem Komunis sebagai bukti paling akhir keteguhan agama-agama menghadapi zaman.

Walaupun begitu pertanyaan-pertanyaan di atas cukup baik untuk kita jadikan titik tolak perenungan ini. Bagi mereka yang telah dari semula percaya kepada agama, jawab atas pertanyaan-pertanyaan itu adalah jelas dan tegas. Agama berlaku untuk segala zaman: yang lalu, kini, dan mendatang. Karena itu selalu ada harapan baik bagi kehidupan agama di masa depan, sebagaimana demikian itulah yang telah terjadi di masa silam dan yang sedang terjadi di masa sekarang. Dan agama adalah untuk kebaikan manusia. Karena itu akan selalu ada kebaikan bagi kehidupan keagamaan di masa mendatang. Tidak ada ragu dan tidak ada persoalan. Maka untuk kelompok yang yakin ini, jawab atas pertanyaan itu tentu bersifat peneguhan, yaitu “ya”. Karena bangsa Indonesia, sebagaimana sering digambarkan, sangat berjiwa keagamaan, maka sebagian besar kita, jika bukan semua kita, barangkali juga akan menjawab pertanyaan tersebut dengan “ya”.

Tetapi di antara kita mungkin ada yang secara pribadi berpendapat samasekali kebalikan dari kaum percaya yang optimis itu. Dalam berbagai forum diskusi, antara lain di Paramadina (karena di sana orang bebas menyatakan diri dan pendapatnya), sering muncul sikap yang meragukan faedah agama, atau faedah suatu bentuk tertentu amalan keagamaan, baik diungkapkan terang-terangan maupun tersamar. Pembicaraan kita di sini harus dilakukan dengan memperhatikan kaum pesimis itu. Perhatian itu perlu, jika bukan karena pesimisme mereka itu sendiri, adalah karena fungsi pesimisme sebagai faktor pengecek atas optimisme yang mungkin berlebihan atau tidak realistis.

Adalah seorang novelis dan wartawan dari Inggris, bernama A.N. Wilson. Ia menulis sebuah buku berjudul Against Religion: Why We Should Try to Live Without It (Melawan Agama: Mengapa Kita Harus Mencoba Hidup Tanpa Dia). Dilihat dari judul dan isinya, buku itu tidak cocok untuk bangsa Indonesia yang terkenal bersemangat keagamaan ini. Tapi dilihat dari percobaannya sebagai orang luar dalam memandang agama, dan untuk bahan perbandingan bagi mereka yang yakin kepada kebaikan agama, maka beberapa pernyataan dalam buku itu patut sekali kita telaah dan kaji bersama. Pada bagian permulaan sekali buku itu, kita dapat membaca pernyataan keras—dan dapat dikatan bersemangat penghujatan kepada agama—seperti ini:

Dalam Alkitab (Bibel) dikatakan bahwa cinta uang adalah akar segala kejahatan. Mungkin lebih benar lagi kalau dikatakan bahwa cinta Tuhan adalah akar segala kejahatan. Agama adalah tragedi umat manusia. Ia mengajak kepada yang paling luhur, paling murni, paling tinggi dalam jiwa manusia, namun hampir tidak ada sebuah agama yang tidak ikut bertanggung jawab atas berbagai peperangan, tirani, dan penindasan kebenaran. Marx menggambarkan agama sebagai candu rakyat; tetapi agama jauh lebih berbahaya daripada candu. Agama tidak membuat orang tertidur. Agama mendorong orang untuk menganiaya sesamanya, untuk mengagungkan perasaan dan pendapat mereka sendiri atas perasaan dan pendapat orang lain, untuk mengklaim bagi diri mereka sendiri sebagai pemilik kebenaran.

Sungguh suatu pandangan yang sangat pesimis dan patut dipertanyakan, mengapa pesimisme semacam itu muncul? Mengapa pandangan yang amat negatif kepada agama itu justru tampil (kembali) ketika sistem Soviet runtuh, yang—keruntuhan sistem tersebut—sebenarnya sekaligus menunjukkan vitalitas agama-agama di bekas negeri-negeri komunis itu?

Ketika kutipan di atas saya kemukakan dalam dialog tentang agama dan pluralisme yang diselenggarakan oleh PGI di Evergreen, Puncak, pada 1992, seorang tokoh Kristen yang hadir dengan sungguh-sungguh mempertanyakan, mengapa saya menyempatkan diri mengutip suatu pendapat yang demikian keras mencela agama? Mengapa harus mengingat lagi ungkapan Marx, ketika sistemnya sendiri sekarang terbukti ambruk?

Wilson kita kutip sebagai peringatan kepada kita bahwa dalam agama-agama, atau, lebih tepatnya, dalam lingkungan para penganut agama-agama, selalu ada potensi kenegatifan dan perusakan yang amat berbahaya. Sinyalemen serupa itu biasanya disanggah oleh para penganut agama, sambil mengakui bahwa keonaran memang senantiasa muncul di kalangan para penganut agama, namun agama tidak dapat dipersalahkan. Yang salah ialah para penganutnya, karena tidak memahami sekaligus mempraktekkan ajaran agama secara benar. Tetapi seorang yang kritis akan membalik argumen itu dengan mengatakan: Kalau agama itu memang benar namun tidak mampu mempengaruhi para pemeluknya, lalu bagaimana membuktikan kebenaran agama itu? Dan apa gunanya agama yang benar namun tidak mempengaruhi watak pemeluknya? Sydney Hook, misalnya, pernah mengajukan argumen sanggahan serupa itu.

Maka, sebagai seorang novelis terkenal dan wartawan yang produktif, Wilson mengamati dengan penuh keprihatinan bagaimana masyarakatnya di Inggris dicabik-cabik oleh masalah agama. Ia tidak setuju dengan keputusan almarhum Ayatullah Khumaini menghukum mati Salman Rushdi. Maka ia menjadi gusar karena Observatore Romano termasuk salah satu jurnal yang menyatakan solidaritas kepada Khumaini. Padahal Paus sendiri, kata Wilson, menganjurkan toleransi, termuat dalam pesannya pada Hari Perdamaian Dunia, 3 Februari 1991. Paus mengatakan: “Adalah esensial bahwa hak menyatakan keyakinan keagamaan masing-masing di depan umum dan dalam semua bidang kehidupan kewargaan tetap terpelihara kalau umat manusia memang harus hidup dalam kedamaian.” Selanjutnya Paus berkata, “Ancaman gawat terhadap perdamaian datang dari sikap tidak toleran, yang menyatakan diri dalam sikap menolak kebebasan nurani pada orang lain. Ekses yang diakibatkan oleh sikap tidak toleran merupakan salah satu pelajaran paling pahit dalam sejarah.” Tetapi, kata Wilson, beberapa waktu yang lalu Paus menghalangi orang yang tak bersalah dan banyak dicintai masyarakat menjadi Uskup Agung Cologne hanya karena Uskup itu berani mengisyaratkan bahwa persoalan moral yang menyangkut pembatasan kelahiran (KB) bukan persoalan paling penting yang dihadapi umat manusia. Di banyak universitas Katolik di Eropa, kata Wilson, banyak guru besar terkemuka, seperti Hans Kung, tidak diberi hak mengajar karena mereka berani mempersoalkan perkara Paus yang tidak dapat salah (infallible), atau karena mereka menyuarakan pendekatan ilmiah terbuka kepada kajian Bibel. “Di seluruh Jerman, negeri Belanda, Spanyol, Perancis, dan Amerika Serikat, orang-orang Katolik harus membaca seruan Bapak Suci kepada toleransi agama. Tapi mereka bertanya-tanya mengapa ia (Paus) tidak menerapkan toleransi itu kepada dirinya sendiri,” kata Wilson penuh keheranan. Jawabnya ialah, kata Wilson lagi, bahwa Paus “mengutuk sikap tidak toleran di kalangan kaum Komunis dan kaum Muslim dan di kalangan kelompok manusia yang lain karena mereka itu tidak lebih daripada sekedar manusia. Ia tidak mengutuk sikap tidak toleran dalam dirinya sendiri karena ia adalah jurubicara Tuhan; dan ia tidak hanya diizinkan, malah diwajibkan, berkat jabatannya, untuk menganiaya kekeliruan di mana pun ia temukan.”

Bagi Wilson, pernyataan Paus pada Hari Perdamaian Dunia menggambarkan dilema seorang agamawan yang baik hati, apakah ia itu Katolik, Hindu, Muslim, Protestan, Buddhis, atau lain-lainnya. Wilson pernah mendengar seorang Uskup Ortodoks Yunani dalam suatu khutbah, bahwa seorang agamawan yang baik ialah orang yang punya cukup iman untuk dapat menganiaya orang lain karena kekeliruan keagamaan. Jadi, sementara seorang agamawan yang baik acapkali mencela sikap sempit pikiran dan tidak toleran pada orang lain yang ingin menganiayanya, namun mereka sendiri mempertahankan hak untuk memaksa dan menyerang orang yang mereka anggap menyimpang. Bahkan ada kalanya mereka menganggap membunuh orang yang menyimpang itu sebagai kewajiban.
  RELATED POST
  E-BOOK
1
30 Sajian Rohani
Penulis Nurcholish Madjid
2
Bilik-Bilik Pesantren
Penulis Nurcholish Madjid
3
Tradisi ISLAM
Penulis Nurcholish Madjid