Puncak Gunung Es

Selasa, 10 Juli 2018 - Oleh Nurcholish Madjid
Nurcholish Madjid saat berbicara di forum internasional.
Puncak Gunung Es

Oleh Ahmad Syafi’i Ma’arif


Di antara pemikir muslim kontemporer barangkali almarhum Fazlur Rahman dapat dipandang sebagai salah seorang yang paling serius memikirkan persoalan Islam dan umatnya. Di mata Rahman, solusi bagi persoalan-persoalan yang tengah dihadapi dunia Islam hanya mungkin dipecahkan kalau Qur’an dipahami secara utuh, tidak parsial, di bawah sinar latar belakang sosio- historisnya. “Qur’an adalah ibarat puncak sebuah gunung es yang terapung,” katanya dalam sebuah artikel. Di bawah puncak itu terdapat sekitar 90% bagian yang terendam dalam air sejarah, dan hanya 10% saja yang tampak di permukaan. Orang yang serius mencoba memahami Qur’an, menurut Rahman, akan sampai pada kesimpulan bahwa sebagian besar Kitab Suci ini mensyaratkan suatu pengetahuan yang adekuat tentang situasi dan kondisi kesejarahan pada saat ayat-ayatnya diturunkan. Ayat-ayat itu pada umumnya berupa pernyataan-pernyataan yang memberikan solusi-solusi, komentar-komentar, dan respon-respon terhadap kejadian historis yang dialami Muhammad selama karier kenabiannya yang lebih dari 25 tahun itu—baik pada masa periode Mekah, maupun pada masa periode Madinah.

Tanpa pengetahuan yang memadai tentang sebab-sebab pe- wahyuan (asbâb al-nuzûl) dari ayat-ayat dan surat-surat tertentu, sukarlah bagi seseorang untuk memahami perintah-perintahnya dengan baik dan benar. Para sarjana yang mengumpulkan latar belakang sebab-sebab pewahyuan ini sama sekali tidaklah bermaksud untuk membatasi relevansi Qur’an pada konteks kesejarahannya. Kompilasi itu semata-mata bertujuan untuk menolong orang-orang dalam memahami pesan-pesan Qur’an yang dipercayai sebagai bernilai abadi. Menurut Rahman, tanpa membaca konteks kesejarahannya akan sangat sulitlah bagi seseorang untuk menangkap makna Qur’an secara pas dan tepat. Dengan memahami latar belakang itu orang akan mengerti tahap- tahap perjuangan Nabi dalam pergumulan dengan darah daging sejarah sambil memberikan arah moral kepada kekuatan-kekuatan sejarah itu. Singkatnya, Qur’an adalah sebuah Kitab Suci yang tidak mengawang-awang, ia sepenuhnya menyejarah.

Karena sifatnya yang demikian itu maka teori hermeneutik merupakan kerja yang mendesak untuk dikembangkan dalam memahami makna Qur’an secara utuh. Harapannya, bagian-bagian teologis, etika, dan etika-legalnya dapat ditempatkan dalam suatu keseluruhan yang padu. Melalui metode ini sebuah weltanschauung (pandangan dunia) Qur’an dapat dirumuskan dan dipahami. Qur’an, menurut Rahman, mengandung satu kesatuan ajaran. Sebab itu pemahaman yang fragmentaris bukan saja tidak adil, tapi dapat menyesatkan, bahkan berbahaya. Perumusan yang serius dan sistematis tentang pandangan dunia Qur’an ini belum pernah dikerjakan pada masa klasik. Rahman sendiri baru merampungkan sebuah pengantar untuk itu berupa karya Major Themes of the Quran (Tema-tema Pokok al-Qur’an). Sebuah karya berupa pandangan dunia Qur’an yang menjadi obsesinya tidak sempat tenwujud karena maut keburu memisahkan Rahman dari dunia ini pada 26 Juli 1988. Siapa tahu akan ada di antara bekas murid-muridnya yang berkemampuan untuk mewujudkan cita-cita besar itu pada suatu waktu yang akan datang. Sebuah weltanschauung Qur’an bukan saja bermuatan filosofis, juga darinya dapat diturunkan prinsip-prinsip pemecahan masalah-masalah kemanusiaan. “Sebuah Islam yang tidak dapat memberi solusi kepada persoalah kemanusiaan,” tulis Rahman, “tidak akan punya masa depan yang cerah.”

Kalau titik perhatian kaum orientalis tidak pernah melampaui historical data Islam, Rahman menjadikan data sejarah ini untuk membingkai masa depan peradaban Islam. Kajian Islam tidak semata-mata untuk kajian, sekadar pemuas kurisitas intelektual. Kajian Islam harus berorientasi ke masa depan. Islam harus mampu memberikan tawaran-tawaran yang ramah bagi perumahan kemanusiaan yang semakin hari semakin digerogoti oleh virus-virus sekularisme dan ateisme. Sadar betapa akutnya situasi kemanusiaan abad ini, Rahman selama lebih kurang tiga dekade telah berfungkus- lumus (bahasa Malaysia: bekerja keras tanpa mengenal lelah) untuk merumuskan metodologi pemikiran Islam yang beranjak dari pemahamannya terhadap Qur’an. Islam mau ditawarkan sebagai salah satu altematif bagi penyembuhan penyakit-penyakit kemanusiaan di masa datang.

Tapi jangan salah paham dulu. Rahman tidak berkhutbah. Apa yang telah dilakukannya tentang pemikiran Islam, semuanya ditegakkan di atas landasan akademik yang berkualitas tinggi. Karya-karyanya membuktikan dengan jelas apa yang saya nyatakan di sini. Adapun banyak ulama yang salah paham, itu sepenuhnya urusan mereka. Rahman telah melakukan jihad intelektual dalam masa yang cukup panjang. Sekarang gaung jihadnya serupa tampak- nya sedang bergelombang di kalangan anak muda Indonesia yang berpikir serius historis tentang Islam, sekalipun bukan tanpa guncangan. Suatu situasi yang tampaknya harus dilalui.
  RELATED POST
Tiga Pendekar dari Chicago
Selasa, 10 Juli 2018
Puncak Gunung Es
Selasa, 10 Juli 2018
  E-BOOK
1
30 Sajian Rohani
Penulis Nurcholish Madjid
2
Bilik-Bilik Pesantren
Penulis Nurcholish Madjid
3
Tradisi ISLAM
Penulis Nurcholish Madjid