17 Ramadhan

Minggu, 11 Juni 2017 - Oleh Nurcholish Madjid
This default photo desc.
Berkenaan dengan peristiwa turunnya Al-Quran atau lebih populer disebut Nuzulul Quran (Arab: nuzûl al-Qur’ân), bangsa Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam sungguh sangat bersyukur karena termasuk bangsa yang menyelenggarakan peringatan Nuzulul Quran sebagai sebuah peristiwa nasional setiap tahun. Lebih hebat lagi, acara tersebut juga dihadiri oleh para pemimpin dan pejabat tinggi negara.

Turunnya Al-Quran pada tanggal 17 Ramadhan dan pengkaitannya dengan turunnya surat pertama kepada Nabi Muhammad Saw. saat melakukan khalwat di gua Hira, masih diperdebatkan oleh para ulama. Surat pertama tersebut kemudian dinamakan surat Al-‘Alaq (Q., 96), berjumlah lima ayat. Namun satu yang pasti, pada tanggal 17 Ramadhan telah terjadi perang Badar. Perang tersebut merupakan perang yang pertama kali terjadi dalam sejarah awal perkembangan agama Islam. Oleh karena itu, perang tersebut begitu berarti dan sangat menentukan, karena menyangkut kelangsungan agama Islam di kemudian hari. Itulah sebabnya oleh Al-Quran dinamakan al-Furqân (yang membedakan antara bâthil dan haqq). Kata al-Furqân sendiri sebenarnya merupakan nama lain Al-Quran sesuai dengan fungsi dan misinya, yakni sebagai pembeda antara yang haqq dan yang bâthil.

Namun demikian, ada baiknya di sini disinggung arti kata nuzûl al-Qur’ân untuk memberikan pengertian yang memadai berkaitan dengan peristiwa atau kejadian tersebut. Dalam Al-Quran terdapat tiga kata yang menjelaskan turunnya Al-Quran—ketiganya merupakan derivasi atau kata turunan dari akar kata yang sama, yakni na-za-la. Ketiga kata tersebut adalah inzâl, dari akar kata anzala, nuzûl dari akar kata nazala, dan tanzîl dari akar kata nazzala.

Al-Quran diturunkan pada malam-malam ganjil dalam sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Malam-malam tersebut dinamakan laylat al-qadr atau malam kepastian. Proses turunnya Al-Quran disebut inzâl, yakni diturunkannya Al-Quran ke lawh al-mahfûzh dalam wujud prototipe kitab suci—proses yang serupa juga dialami oleh kitab-kitab suci lain sebelumnya. Selanjutnya, Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw., prosesnya disebut nuzûl—membutuhkan waktu 23 tahun.

Adapun surat-surat yang ada dalam Al-Quran selanjutnya diklasifikasikan ke dalam dua kelompok. Yang pertama kelompok Makkiyah, atau periode Makkah. Kelompok ini ditandai dengan ciri-ciri ayatnya yang pendek dan isinya memfokuskan pada penanaman nilai-nilai keimanan. Yang kedua adalah kelompok Madaniyah, artinya diturunkan pada periode Madinah. Madînah dalam bahasa Arab mengandung pengertian kota yang teratur, karena telah memiliki peradaban. Adapun surat-surat Madaniyah bercirikan menyoroti masalah-masalah sosial kemasyarakatan. Ayat-ayat ini turun setelah Nabi Muhammad Saw. hijrah atau melakukan migrasi dari kota Makkah ke kota Madinah, kemudian bersama-sama kaum Muslimin mulai membangun sebuah tatanan sosial yang sama sekali baru—berbeda dengan tatanan yang ada di kota Makkah.

Semantara itu, kata tanzîl mengandung pengertian proses pembumian Al-Quran ke dalam realitas kehidupan. Di sini, fungsi dan peran Al-Quran adalah merespons, menjawab, dan memberikan berbagai solusi atau pemecahan atas berbagai persoalan sosial yang dihadapi oleh umat Islam.

Contohnya, ada seseorang yang bertanya kepada Nabi Muhammad Saw. tentang bulan sabit, al-ahillah, seperti dalam ayat Al-Quran disebutkan, Mereka bertanya kepadamu tentang bulan-bulan baru (sabit—NM). Katakanlah, “Itu hanya tanda-tanda waktu untuk manusia dan untuk musim haji…,” (Q., 2: 189). Contoh lain, mereka bertanya kepada Nabi Muhammad Saw. tentang harta rampasan (al-anfâl). Juga ada yang bertanya tentang kisah seseorang yang bernama Zulkarnain dan masih banyak lagi.
  RELATED POST
  E-BOOK
1
30 Sajian Rohani
Penulis Nurcholish Madjid
2
Bilik-Bilik Pesantren
Penulis Nurcholish Madjid
3
Tradisi ISLAM
Penulis Nurcholish Madjid