AHL AL KITAB DI LUAR YAHUDI DAN NASRANI

Minggu, 11 Juni 2017 - Oleh Nurcholish Madjid
This default photo desc.
Terdapat beberapa perbedaan pendapat di kalangan para ulama, apakah ada ahl al-kitâb di luar kaum Yahudi dan Nasrani. Al?Quran sendiri, seperti telah diterangkan, menyebutkan ka­um Yahudi dan Nasrani sebagai yang jelas-jelas ahl al-kitâb. Tetapi juga menyebutkan beberapa ke­lompok agama lain, yaitu kaum Majusi dan Shâbi’în, yang dalam konteksnya memberi kesan se­per­ti tergolong ke dalam ahl al-kitâb. Digabung dengan ketentuan dalam praktek Nabi bahwa beliau me­mungut jizyah dari kaum Majusi di Hajar dan Bahrain, kemudian praktek ‘Umar ibn al-Khath­thâb memungut jizyah dari kaum Majusi Persia serta ‘Utsmân ibn ‘Affân memungut jizyah dari kaum Ber­ber di Afrika Utara, maka banyak ulama yang menyimpulkan adanya golongan ahl al-kitâb di luar Yahudi dan Nasrani. Sebab, jizyah dibenarkan dipungut hanya dari kaum ahl al-kitâb (yang hi­dup damai dalam Negeri Islam), dan tidak dipungut dari golongan yang tidak ter­ma­suk ahl al-kitâb seperti kaum Musyrik (yang umat Islam tidak boleh berdamai dengan mereka ini). Berkenaan dengan ini ada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh banyak orang bahwa Nabi memerintahkan untuk memperlakukan kaum Majusi seperti memperlakukan kepada kaum ahl al-kitâb, seperti dituturkan oleh Ibn Taymiyah: “…Karena itulah Nabi Saw. bersabda tentang kaum Majusi, “Jalankanlah Sunnah ke­pa­da mereka seperti Sunnah kepada ahl al-kitâb“, dan beliau pun membuat perdamaian de­ngan penduduk Bahrain yang di antaranya ada kaum Majusi, dan para khalifah ser­ta para ulama Islam semuanya sepakat dalam hal ini.

Terhadap penuturan Ibn Taymiyah itu Dr. Muhammad Rasyâd Sâlim memberi catatan pen­ting yang cukup lengkap, demikian:

Dalam kitab al?Muwaththa’, ada sebuah hadis dari Ibn Syihâb, ia berkata: “Telah sampai kepadaku bahwa Rasu­lul­lah Saw. memungut jizyah dari kaum Majusi Bahrain, dan bahwa ‘Umar ibn al?Khath­thâb me­mungutnya dari kaum Majusi Persia, dan bahwa ‘Utsmân ibn ‘Affân me­mu­ngutnya da­ri kaum Berber. Dalam hadis lainnya, ‘Umar ibn al?Khath­thâb membicara­kan kaum Majusi, kemudian ia berkata, “Saya tidak tahu, bagaimana aku harus ber­buat terhadap me­reka?” Maka ‘Abd al?Rahmân ibn ‘Auf menyahut, “Aku bersaksi, sung­guh telah ku­dengar Rasulullah Saw. bersabda, “Jalankanlah Sunnah kepada mereka seperti Sunnah ke­pada ahl al-kitâb”. Dalam kitab al?Bukhârî dinyatakan bahwa ‘Umar r.a. tidak memungut jizyah dari kaum Majusi sehingga ‘Abd al?Rahmân ibn ‘Auf bersaksi bahwa Rasulullah Saw. me­mungutnya dari kaum Majusi Hajar. Bahkan dikatakan pula dari ‘Amr ibn ‘Auf al?Anshârî bahwa Rasulullah Saw. mengutus Abû ‘Ubaidah ibn al?Jarrâh ke Bahrain un­tuk membawa jizyah­nya.

Muhammad Rasyîd Ridlâ juga mengutip sebuah hadis yang di dalamnya ‘Alî ibn Abî Thâ­­lib menegaskan bahwa kaum Majusi adalah tergolong ahl al-kitâb. Adapun lengkap hadisnya adalah, “Abd ibn Hamîd dalam tafsirnya atas surat Al?Burûj meriwayatkan dengan sanad yang sahih dari Ibn Abzâ, bahwa setelah kaum Muslim mengalahkan penduduk Persia, ‘Umar berkata, “Berkumpullah kalian!” (yakni berkata kepada para Sahabat, “Berkumpul­lah ka­lian untuk musyawarah”, sebagaimana hal itu telah menjadi Sunnah yang diikuti de­ngan baik dan kewajiban yang semestinya). Kemudian Umar berkata, “Sesung­guhnya kaum Majusi itu bukanlah ahl al-kitâb sehingga dapat kita pungut jizyah dari me­reka, dan bukan pula kaum penyembah berhala sehingga dapat kita terapkan hukum yang berlaku.” Maka ‘Alî menyahut, “Sebaliknya, mereka adalah ahl al-kitâb!”.

Rasyîd Ridlâ membahas masalah ini dalam ulasan dan tafsirnya terhadap Q., 5: 5, berkenaan dengan hukum perkawinan de­ngan wanita ahl al-kitâb dan mema­kan makanan mereka. Rasyîd Ridlâ menegaskan bahwa di luar kaum Yahudi dan Nasrani juga ter­dapat ahl al-kitâb, dan dia menyebut tidak saja kaum Majusi (Zo­roastri) dan Shâbi‘în, te­tapi juga Hindu, Budha dan Konfusianisme (Khonghucu). Pembahasan yang sangat me­na­rik oleh Rasyîd Ridlâ dapat kita ikuti dalam kitab tafsirnya, al?Manâr, demikian:

Para ahli fiqih berselisih mengenai kaum Majusi dan Shâbi’în. Kaum Shâbi’în bagi Abû Hanîfah adalah sama dengan ahl al-kitâb. Begitu pula kaum Majusi bagi Abû Tsaur. Ini ber­beda dari banyak kalangan yang berpendapat bahwa mereka itu diperlakukan sebagai ahl al-kitâb hanya dalam urusan jizyah saja, dan mereka meriwayatkan sebuah hadis tentang hal ini, “Jalankanlah Sunnah kepada mereka seperti Sunnah kepada ahl al-kitâb, tan­pa memakan sembelihan mereka dan menikahi wanita mereka“. Tetapi pengecualian ini tidak benar, sebagaimana diterangkan oleh para ahli hadis, meski hal itu terkenal di kalangan para ahli fiqih. Dan dikatakan bahwa kedua kelompok itu adalah kelompok ahl al-kitâb yang kehilangan kitab sucinya akibat oleh lamanya waktu.

(Pendapat para ahli fiqih) itu pula yang dahulu pernah menjadi pendirian saya sebelum menemukan kutipan dari salah seorang kaum Salaf dan ulama ahli aga­ma-agama dan sejarah dari kalangan kita, dan telah pula saya sebutkan dalam al?Manâr be­berapa kali. Kemudian saya temukan dalam kitab al?Farq bayn al?Firâq karangan Abû Manshûr ‘Abd al?Qâhir ibn Thâhir al?Baghdâdî (wafat tahun 426 H.) dalam konteks pem­bahasan tentang kaum Bâthiniyyah: “Kaum Majusi itu mempercayai kenabian Zara­thus­tra dan tu­run­nya wahyu kepadanya dari Allah Ta‘âlâ, kaum Shâbi‘în mempercayai ke­­na­bian Hermes, Walis (?), Plato, dan para filosof serta para pembawa sya­riat yang lain. Setiap kelompok dari mereka mengaku turunnya wahyu dari langit kepa­da orang-orang yang me­reka percayai kenabiannya, dan mereka katakan bahwa wah­yu itu mengandung perintah, larangan, berita tentang akibat kematian, tentang pahala dan siksa, serta tentang sur­ga dan neraka yang di sana ada balasan bagi amal per­buatan yang telah lewat.” Ke­mudian dia [al?Baghdâdi] menyebutkan bahwa kaum Bâthi­niyyah meng­ingkari itu semua.

Rasyîd Ridlâ menerangkan lebih lanjut dengan menyebutkan bahwa pengertian “ahl al-kitâb” sebenarnya tidak boleh dibatasi hanya kepada kaum Yahudi dan Nasrani saja, tetapi juga me­liputi kaum Shâbi’în, Majusi, kaum Hindu, Budha dan Konfusius. Ke­te­rangan Rasyîd Ridlâ adalah demikian:

Yang nampak ialah bahwa Al?Quran menyebut para penganut agama-agama terdahulu, kaum Shâbi’în dan Majusi, dan tidak menyebut kaum Brahma (Hindu), Budha dan para pengikut Konfusius karena kaum Shâbi’în dan Majusi dikenal oleh bangsa Arab yang men­­jadi sasaran mula-mula Al?Quran, karena kaum Shâbi’în dan Majusi itu berada ber­dekatan dengan mereka di Irak dan Bahrain, dan mereka (orang-orang Arab) belum melakukan perjalanan ke India, Jepang dan Cina sehingga tidak mengetahui golongan yang lain. Dan tujuan ayat suci telah tercapai dengan menyebutkan agama-agama yang dikenal (oleh bangsa Arab), sehingga tidak perlu membuat keterangan yang terasa asing (ighrâb) dengan menyebut golongan yang tidak dikenal oleh orang yang menjadi sasaran pembicaraan itu di masa turunnya Al?Quran, berupa penganut agama-agama yang lain. Setelah itu, tidak diragukan bagi mereka (orang Arab) yang menjadi sasaran pem­bi­ca­raan (wahyu) itu bahwa Allah juga akan membuat keputusan perkara antara kaum Brah­ma, Budha, dan lain-lain.

Sudah diketahui bahwa Al?Quran jelas menerima jizyah dari kaum ahl al-kitâb, dan ti­dak disebutkan bahwa jizyah itu dipungut dari golongan selain mereka. Maka Nabi Saw. pun, begitu pula para khalifah r.a., menolak jizyah itu dari kaum Musyrik Arab, tetapi mene­ri­ma­nya dari kaum Majusi di Bahrain, Hajar dan Persia sebagaimana di­sebutkan dalam dua kitab hadis yang sahih (Bukhârî?Muslim) dan kitab-kitab hadis yang lain. Dan Imam Ahmad, al?Bukhârî, Abû Dâud, dan al?Turmudzî serta lain-la­in­nya telah me­ri­wayatkan bahwa Nabi Saw. memungut jizyah dari kaum Majusi Hajar, dan dari hadis ‘Abd al­?Rahmân ibn ‘Auf bahwa dia bersaksi untuk ‘Umar tentang hal tersebut ketika ‘Umar mengajak para Sahabat untuk bermusyawarah mengenai hal itu. Mâlik dan al?Syâ­fi‘î meriwayatkan dari ‘Abd al?Rahmân ibn ‘Auf bahwa ia ber­kata: “Aku bersaksi, sungguh aku telah mendengar Rasulullah Saw. bersabda, “Jalan­kan­lah Sunnah kepada mereka seperti Sunnah kepada ahl al-kitâb”. Sekalipun sanad-nya ada keterputusan, dan pengarang kitab al?Muntaqâ dan lain-lainnya menggunakan hadis itu sebagai bukti bahwa mereka (kaum Majusi) tidak terhitung ahl al-kitâb. Tapi pandangan ini lemah, sebab penggunaan umum perkataan “ ahl al-kitâb” untuk dua kelompok ma­nu­sia (Yahudi dan Nasrani) karena adanya kepastian asal kitab-kitab suci mereka dan tam­bahan sifat-sifat khusus kepada mereka, namun ti­dak mesti berarti bahwa di dunia ini tidak ada ahl al-kitâb selain mereka, padahal diketahui bahwa Allah mengutus dalam setiap umat rasul-rasul untuk membawa berita gembira dan berita ancaman, dan bersama mereka itu Dia [Allah] menurunkan Kitab Suci dan Ajaran Keadilan (al?Mîzân) agar manusia bertindak dengan keadilan. Sebagaimana juga peng­gu­naan umum gelar “ulama” untuk sekelompok manusia yang memiliki kelebihan khusus ti­daklah mesti berarti ilmu hanya terbatas ke­pada mereka dan tidak ada pada orang lain.

Demikianlah keterangan dari Rasyîd Ridlâ tentang pengertian ahl al-kitâb, sebagaimana ia dasarkan kepada berbagai sumber yang ia ketahui. Seperti sudah dikemukakan, sesungguhnya para ulama berselisih pendapat tentang hal ini, khususnya tentang golongan selain Yahudi dan Nasrani. Keterangan pemikir Islam yang amat terkenal itu kiranya akan berguna bagi kita seba­gai bahan pertimbangan.
  RELATED POST
  E-BOOK
1
30 Sajian Rohani
Penulis Nurcholish Madjid
2
Bilik-Bilik Pesantren
Penulis Nurcholish Madjid
3
Tradisi ISLAM
Penulis Nurcholish Madjid