AHL AL KITAB DAN SYIRIK

Minggu, 11 Juni 2017 - Oleh Nurcholish Madjid
This default photo desc.
Terdapat beberapa perbedaan pandangan di kalangan para ulama tentang apakah kaum ahl al-kitâb itu termasuk musyrik ataukah tidak. Sebagian kecil ulama menga­takan bahwa mereka itu musyrik, dengan akibat-akibat kehukuman (legal) tertentu sebagaimana berlaku para kaum musyrik. Tetapi sebagian besar ulama tidak berpendapat bahwa kaum ahl al-kitâb itu termasuk kaum musyrik. Salah seorang dari mereka yang dengan tegas berpendapat bah­­wa kaum ahl al-kitâb bukanlah kaum musyrik ialah Ibn Taymiyah. Ibn Taymiyah menyebut tentang adanya pernyataan dari ‘Abdullâh ibn ‘Umar bahwa kaum ahl al-kitâb, khususnya kaum Nasrani, adalah musyrik, karena mengatakan bahwa Tuhan mereka ialah Isa putera Maryam. Ibn Taymiyah menolak pandangan itu, dengan argumen antara lain sebagai berikut: Sesungguhnya ahl al-kitâb tidaklah termasuk ke dalam kaum musyrik. Ia tidak menjadikan (me­man­­dang) ahl al-kitâb sebagai kaum musyrik berdasarkan dalil firman Allah: Mereka yang beriman (kepada Al-Quran), orang-orang Yahudi, kaum Shâbi’în, kaum Nas­rani, kaum Majusi, dan kaum musyrik…..(Q., 22: 17). Kalau di­ka­takan bahwa Allah telah menyifati mereka itu dengan syirik dalam firmannya, Mereka memilih ahbar dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah, dan (mereka mempertuhan) Almasîh putera Maryam, padahal yang diperintahkan kepada mereka hanya untuk menyembah Tuhan Yang Tunggal; tia­da tuhan selain Dia. Maha suci Dia dari apa yang mereka persekutukan (Q., 9:31), karena mereka telah melakukan syirik. Dan karena syirik itu adalah suatu hal yang mereka ada-adakan (sebagai bid‘ah) yang tidak dipe­rin­tahkan oleh Allah, maka wajib­lah mereka itu dibedakan dari kaum musyrik, sebab asal?usul agama mereka ialah mengi­kuti kitab-kitab yang diturunkan (dari Allah) yang membawa ajaran Tauhid, bukan ajaran syirik. Jadi jika dikatakan bahwa dengan alasan ini ahl al-kitâb itu bukanlah kaum musy­rik, karena kitab suci yang berkaitan de­ngan mereka itu tidak me­ngan­dung syirik, hal ini sama dengan mengatakan bahwa dengan alasan ini kaum Mus­lim dan umat Muhammad tidak terdapat syirik, juga tidak ada paham ittihâ­diyyah (monisme), rafdliyyah (pa­ham poli­tik yang menolak keabsahan tiga khalifah perta­ma), penolakan paham qadar (pa­ham kemampuan manusia untuk memilih; dapat juga yang dimaksudkan ialah qadar dalam arti takdir), ataupun bid‘ah-bid‘ah yang lain. Mes­kipun se­bagian mereka yang tergolong umat [Islam] men­ciptakan bid‘ah-bid‘ah itu, namun umat Muhammad Saw. tidak akan bersepakat dalam kesesatan. Karena itu selalu ada dari me­reka orang yang mengikuti ajaran Tauhid, lain dari kaum ahl al-kitâb. Dan Allah ‘azza wa jalla tidak pernah memberitakan tentang ahl al-kitâb itu dengan nama “musyrik”.

Pandangan yang persis sama dengan yang di atas itu juga dikemukakan oleh Rasyîd Ri­dlâ dalam tafsir al?Manâr yang terkenal, dengan elaborasi argumennya yang lebih luas dan leng­kap. Pandangan ini penting sekali, sebab akan berkaitan dengan hal-hal praktis sehari-hari yang timbul dari konsekuensi kehukuman (legal) tentang kaum ahl al-kitâb itu, sejak dari masalah sah-tidaknya perkawinan dengan mereka sampai kepada soal halal-haramnya makanan mereka.
  RELATED POST
  E-BOOK
1
30 Sajian Rohani
Penulis Nurcholish Madjid
2
Bilik-Bilik Pesantren
Penulis Nurcholish Madjid
3
Tradisi ISLAM
Penulis Nurcholish Madjid