Modernisme Islam dan Semangat Swalayanisme

Senin, 9 Juli 2018 - Oleh Nurcholish Madjid
Nurcholish Madjid bersama koleganya.
Modernisme Islam dan Semangat Swalayanisme

Oleh Moeslim Abdurrahman


Munculnya modernisme Islam, kata Mukti Ali, didorong kesadaran akan kemunduran umat Islam gara-gara meninggalkan sumber ajaran utamanya—al-Qur’an dan al-Sunnah. Karena itu, seruan modernisme Islam yang paling lantang: “mari kita kembali kepada al-Qur’an dan al-Sunnah semurni-murninya.” Di belakang seruan itu, sebenarnya yang paling penting adalah persoalan harga diri tatkala umat Islam, baik secara politis maupun kebudayaan telah dikuasai Barat.

Sebagai reaksi kepada Barat, wajar bila agenda modernisme Islam ialah apologia melalui proses apa yang biasa disebut dengan “ideologisasi Islam’’ dengan semangat swalayanisme. Atau apa yang akhir-akhir ini sering dinyatakan dengan “lslâm kâffah”. Suatu spirit Islam yang sebenarnya secara sadar melakukan penolakan terhadap Barat sambil menyerap unsur-unsurnya ke dalam terminologi Islam. Maka muncullah sejumlah klaim bahwa “demokrasi” paralel dengan “musyawarah”; atau dalam bentuk menandingi, bahwa Islam juga memiliki konsep tentang bentuk negara, konsep tentang ekonomi, tentang politik dan lain seterusnya. Lepas dari pendapat sementara orang menilai ideologisasi Islam itu sebenarnya merupakan reduksionisme Islam sebagai agama, namun kalau disimak secara sungguh-sungguh dengan sikap ganda seperti itulah sebenarnya modernisasi Islam telah memperbarui kehidupan umat Islam dalam alam modernisasi yang bercorak Barat selama ini.

Adapun modernisme sebagai gerakan pemurnian ajaran, ternyata telah membuahkan dua corak kehidupan di kalangan umat Islam. Yaitu, “tradisionalisme Islam” yang seringkali digambarkan sebagai penganut paham ulama dan sangat berorientasi fiqih, dan sekumpulan umat Islam yang disebut kalangan modernis Islam— sering digambarkan sebagai kaum ortodoks Qur’an yang berpikir lebih rasional dalam rangka aktualisasi ajaran Islam berkaitan dengan kebutuhan zaman yang berubah. Dalam perkembangan isu pemurnian Islam, maka dikenallah istilah-istilah tentang perlunya membuka pintu ijtihad, meninggalkan taklid dan menjauhi kegiatan agama yang bersifat bidah. Gerakan pemurnian Islam telah mengantarkan umat Islam pada perdebatan panjang dan melelahkan dalam persoalan-persoalan yang bersifat furû‘ alias periperal dalam rangka memperebutkan derajat keortodoksian yang lebih tinggi.

Paradigma Modernisme Islam

Tampaknya, masalah yang sangat mendesak bagi kaum modernis Islam adalah bagaimana mencari pertautan antara problem peradaban dengan sikap kejumudan yang selama ini melanda umat. Syakib Arsalan, dalam bukunya yang masyhur Li-mâdzâ Ta’akhkhar al-Muslimûn wa Taqaddam-a Ghayr-uhum mensinyalir bahwa kemunduran kaum Muslimin dikarenakan Islam telah dijumudkan oleh pemiliknya sendiri. Buku ini—dibaca luas di kalangan para pemikir modernis Islam—telah memberikan spirit yang kuat bagi terbukanya lapangan ilmu pengetahuan dalam kehidupan kaum Muslimin di mana-mana. Juga, memberikan semangat agar kaum Muslimin merebut kembali ilmu pengetahuan—yang dulu dimilikinya—dari tangan Barat. Sedangkan di lain pihak, kaum tradisionalis Islam ingin selalu berusaha melestarikan khazanah tradisi Islam melalui pelestarian kitab-kitab kuning sebagai folklore kebudayaan Islam. Akibatnya apa yang terjadi ialah perbedaan antara keduanya. Kaum modernis lebih suka menggunakan ilmu Barat, sedangkan kaum tradisionalis lebih berorientasi terhadap perangkat tradisi yang bersifat indijinius. Dalam hal ini secara karikatural barangkali dapat diberikan contoh, karena Muhammadiyah menggunakan ilmu Barat maka dalam menyelenggarakan pendidikan dibangun sekolah-sekolah; sedangkan NU, menganggap lebih penting mendirikan pesantren sebagai tempat mengajarkan kitab-kitab kuning. Begitu juga Muhammadiyah cenderung mendirikan Penolong Kesejahteraan Umat (PKU) dan Rumah Sakit sebagai penanganan kesehatan melalui pendekatan klinik (clinical approach) yang bersifat modern, maka para kiai lebih suka membuka praktik ketabiban dengan apa yang selama ini dikenal sebagai ahli-ahli hikmat (Islamic traditional healer).

Kecenderungan modernisme Islam dalam memberantas kejumudan di kalangan umat juga tercermin betapa soal wahyu dan akal telah menjadi agenda abadi dalam percaturan intelektual Islam. Topik tentang “rasionalisasi bukan westernisasi” misalnya seolah-olah memberikan kesan betapa sulitnya mencari modus intelektual dalam mendudukkan fungsi akal sebagai perangkat ilmu pengetahuan di satu pihak dan otonomi wahyu di lain pihak, dalam konteks perkembangan zaman. Suatu ketegangan kreatif yang kadang-kadang bisa mempersulit diri bagi para pemikir modernis Islam. Apalagi jika perkembangan Ilmu dan pengetahuan masih selalu datang dari Barat, maka harga diri bukan sebagai Barat itu sangat memberatkan. Akibatnya, seringkali terjadi pergi ke Barat mencari bahan buat mengecam Barat. Lalu muncullah keinginan untuk mengislamkan ilmu pengetahuan. Bukan dalam arti, Islam sebagai sistem ide yang terbuka. Tetapi lebih mencerminkan sebagai sikap swalayanisme tadi.

Bukan maksud saya untuk membela setiap dari Barat itu benar atau baik. Namun jika suatu proses—apakah itu ide atau ilmu— terjadi secara tidak wajar dalam posisi saling mengecam, maka tidak mungkin akan terjadi dialog secara genuine, tulen. Pada masa di mana Barat memang betul-betul menjadi kekuatan hegemonik, munculnya modernisme Islam dengan pola menandingi ideologi Barat mungkin sikap semacam ini dapat diterima sebagai suatu keharusan. Akan tetapi tatkala peradaban Barat sendiri juga mulai redup, barangkali dialog global agama-agama dalam memecahkan masalah-masalah kemanusiaan, jelas merupakan tuntutan yang mendesak. Rasanya, tidak mungkin problematik kemanusiaan yang sudah begini rupa dapat diselesaikan oleh salah satu kelompok agama tertentu saja. Tanpa digalang potensi bersama untuk mencari jalan keluarnya.

Dialog dan bukan sikap menandingi, sudah barang tentu akan menghasilkan konsep-konsep pemikiran yang lebih kreatif dan produktif. Sikap menandingi Barat dengan cara ideologisasi Islam mungkin mempunyai efek politis dan psikologis dalam mcngangkat harga diri, namun belum tentu berarti memberikan substansiasi yang dibutuhkan bagi harkat diri umat. Jika ideologisasi Islam berarti politisasi Islam, itu berarti semangat pertarungan dengan orang lain menjadi penting. Demikian juga kesadaran tentang perlunya identitas kelompok menjadi suatu kebutuhan yang mesti dibangun. Dalam kaitan ini, modernisme bisa jadi telah berubah, tidak lagi menggambarkan kedinamisan tetapi sudah menjadi label paham tertentu yang bersikap reaktif dan konservatif. Kejumudan diri tidak dapat dihindari dan ijtihad tidak lagi berfungsi sebagai mekanisme internal untuk menafsirkan ajaran. Tetapi, lebih merupakan perbendaharaan bahasa dalam identifikasi diri sebagai mazhab baru yang anti mazhab.

Siapa Sebenarnya yang Berteologi?

Jika modernisme Islam telah menjadi mazhab, maka rutinisasi tidak mungkin dapat dihindari lagi. Birokratisasi telah terjadi, termasuk bagaimana cara-cara terbaik untuk membela mazhab modernis Islam itu dari kritik orang lain. Spirit pembaruan telah berhenti dan gerakan pada dasarnya merupakan wadah aspirasi umat ketimbang mencari ufuk baru berdasarkan pesan universal Islam. Persoalan silaturrahmi antartokoh atau pimpinan organisasi Islam seolah-olah menjadi peristiwa yang sangat penting sebagai simbol adanya ukhuwah Islamiyah sambil menyembunyikan perbedaan-perbedaan dan persoalan-persoalan mendasar yang dihadapi umatnya masing-masing.

Modernisme, pada hemat saya sering tejebak dalam orientasi yang elitis. Konsep-konsep teologis, tidak juga berbeda dengan kaum tradisionalis Islam, lebih dikuasai oleh sekelompok profesional yang mengatakan dirinya ulama atau kaum cendekiawan agama. Seolah-olah wahyu hanya diutarakan oleh orang-orang tertentu saja dan umat hanya menjadi konsumen fatwa yang patuh. Dalam hal ini bedanya hanyalah terletak pada referensi yang dipergunakan dan bukan pada pola bagaimana sebaiknya pesan-pesan wahyu itu dapat hidup di tengah-tengah kehidupan umat sehari-hari. Jadi, sebenarnya siapakah yang berteologi jika jarak umat dan wahyu harus disekat melalui kaum profesional di bidang fatwa itu?

Di Indonesia, sejarah menunjukkan bahwa munculnya modernisme Islam selain juga akibat pengaruh Pan-Islamisme, namun yang lebih penting karena ada perkembangan sosiologis di mana para pedagang santri dan priyayi santri terutama di daerah Yogya dan Surakarta memerlukan bentuk pendidikan yang lebih modern tetap-tepat diajarkan Islam, di samping tentunya memerlukan corak keislaman yang lebih rasional. Aspirasi semacam ini kemudian diakomodir oleh Muhammadiyah dengan merintis berdirinya sekolah-sekolah, dan menyerukan paham anti bidah sebagai usaha pemiskinan simbol-simbol secara ekonomis, di mana hal ini kondusif dengan pandangan hidup kaum pedagang santri tersebut. Belakangan ini, tampaknya momentum sosiologis itu muncul kembali tatkala banyak pengusaha santri dan para birokrat santri terutama yang ada di kota-kota besar seperti Jakarta memerlukan majlis taklim yang modern dan corak kehidupan Islam yang lebih intelektual. Situasi semacam ini telah diakomodir oleh para pemikir modernis Islam generasi baru pewaris dua khazanah intelektual Islam baik dari tradisi kitab kuning maupun filsafat dan pengetahuan sosial dari Barat dengan mendirikan Yayasan Wakaf Paramadina.

Corak modernisme Islam yang intelektual dan kepekaan sosial yang lebih terkait dengan golongan atas dan menengah itu sering- kali tidak mampu menangkap aspirasi dan transformasi dari bawah. Tetapi, sekali lagi memang sangat menguntungkan terhadap upaya mengangkat harga diri dan pamor Islam di tengah-tengah arus modernisasi dewasa ini.

Modernisme Islam dalam pola seperti itu tidak memungkinkan sebagai alat yang dapat membuka dialog yang genuine terhadap problematika di bawah. Tetapi akan lebih peka untuk membicarakan terminologi tingkat tinggi melalui argumentasi-argumentasi intelek- tualisme Islam “jahiliah modern” mungkin lebih ditafsirkan di atas sebagai kebodohan dalam arti tidak menguasai kosa kata teologi. Karena itu, perlu diberikan dakwah agama dengan cara-cara yang sesuai dengan tingkat pendidikan. Sementara itu, “jahiliah” dalam pemahaman di bawah ialah orang-orang yang masih mempersekutukan Tuhan dengan batu atau menyembah pohon besar. Jika dugaan itu benar, maka sebenarnya masalah mendasar tentang perlunya “dunia yang lebih adil” menjadi agak terabaikan sebagai kepedulian agama yang menurut banyak orang dewasa ini sangat relevan sekali tatkala modernisasi belum dapat juga menerobos ke bawah secara lebih tajam.
  RELATED POST
Tiga Pendekar dari Chicago
Selasa, 10 Juli 2018
Puncak Gunung Es
Selasa, 10 Juli 2018
  E-BOOK
1
30 Sajian Rohani
Penulis Nurcholish Madjid
2
Bilik-Bilik Pesantren
Penulis Nurcholish Madjid
3
Tradisi ISLAM
Penulis Nurcholish Madjid