Pembaruan Islam yang Bagaimana?

Sabtu, 7 Juli 2018 - Oleh Nurcholish Madjid
Nurcholish Madjid saat menyampaikan khutbah.
Pembaruan Islam yang Bagaimana?

Oleh Ahmad Mflih Saefuddin


Gagasan pembaruan (tajdîd) yang terdengar gaungnya akhir-akhir ini bukanlah suatu yang baru. Tiap kurun waktu, di mana sebagian besar manusia sudah kehilangan arah, dan agama tidak dijadikan pedoman dan tolak ukur lagi, selalu ada yang terpanggil untuk menjadi pembaru (mujaddid) pada zamannya. Para pembaru berusaha memurnikan kembali berbagai pemikiran atau pemahaman manusia terhadap agama Islam, yang telah berada pada kondisi “takut”. Karena pengaruh taklid, bidah, khurafat, jumud dan sebagainya. Pembaru itu berikhtiar menunjukkan dan menampilkan universalitas Islam, yang telah tereduksi atau tertutup oleh umatnya sendiri. Sehingga pada akhirnya, Islam benar-benar terwujudkan, sebagai rahmat-an li ’l-‘âlamîn dan terasa pula kehadirannya di tengah-tengah kehidupan sesuai arus perkembangan zaman. Memang yang paling tampak pada saat ini, adalah makin kompleksnya permasalahan yang kita hadapi seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Antisipasi yang mendesak dilakukan para pembaru pada masa sekarang, adalah menunjukkan dan membuktikan bahwa Islam memiliki kemampuan menemukan solusi terhadap berbagai problematika kekinian yang timbul akibat berkembangnya akal manusia. Misalnya yang berkaitan dengan aspek pendidikan perekonomian, perpolitikan, kemasyarakatan dan sebagainya. Pembaruan pemikiran berarti pula mengembalikan dan menyatukan ruh Islam dengan perkembangan pemikiran, agar senantiasa berada dalam garis kendali yang terarah.

Ciri khas agama Islam antara lain adalah perubahan perpaduan antara tidak berubah oleh apapun (tsabat) dan elastis atau menerima perubahan sepanjang tidak menyimpang dari batas syariat (murunah). Dengan sifat murunah inilah Islam sanggup memecahkan tiap problematika hidup masa kini yang beraneka ragam dan memberikan lapangan leluasa untuk mengadakan ijtihad tentang masalah yang tidak ada nashnya. Sehingga tidak benar bila ada yang berpendapat, Islam menjadi penghambat kemajuan dan perkembangan pemikiran. Tapi perlu diingat, Islam memiliki rambu-rambu terhadap masalah yang sudah jelas dan baku (qath‘î), terutama yang berkaitan dengan prinsip-prinsip dasar (asâsiyah). Seorang pembaru harus memahami dua hal ini sebelum dia melakukan upaya tajdîd-nya. Tanpa pemahaman ini, justru malah mengakibatkan kerusakan (fasad) yang lebih hebat lagi.

Selain dari itu, seorang pembaru dituntut pula memiliki sikap jujur dan objektif di dalam melihat permasalahan yang timbul, dan me- nerima penilaian atau kritik orang lain yang ditunjuk pada dirinya.

Pada saat ini yang ditunggu oleh kita adalah sosok pembaru (mujadid) yang memiliki gagasan yang menunjukkan bahwa Islam mampu menjawab tantangan zaman, dan bahkan mampu menciptakan zaman. Menurut hemat kita, gerakan pembaruan pemikiran Islam harus mampu membuktikan bahwa umat Islam adalah umat terbaik di atas muka bumi ini. Mampu menjadi pelaksana amanah sebagai khalifah dan khilafah yang berkualitas sesuai dengan zamannya, sehingga apa saja yang disentuhnya akan mendatangkan nilai tambah. Berikut ini saya akan menanggapi pandangan Nurcholish Madjid tentang lâ ilâha illâ ’l-Lâh yang olehnya diartikan “Tiada tuhan selain Tuhan.”

Tafsir tentang Lâ Ilâha illâ ’l-Lâh

Mengucapkan dan meyakini lâ ilâha illâ ’l-Lâh adalah bagian dari akidah, karena merupakan suatu yang fundamental (asâsiyah). Sehingga wajib hukumnya bagi tiap orang beriman untuk mema- hami dengan benar (shahîh) dan jelas semua hal yang berkaitan dengan akidah, agar tidak ada lagi keragu-raguan.

Kalimat lâ ilâha illâ ’l-Lâh merupakan kalimat persaksian (syahâdah). Kualitas seorang Muslim amat ditentukan oleh kadar kesaksian dan kedalaman pemahamannya terhadap kalimat syahadat ini. Kita baru disebut Muslim jika telah mengikrarkan dua persaksian (syahâdatayn) secara benar yaitu syahadat tauhid dan syahadat Rasul. Tidak akan sah syahadat kita kalau tidak mencakup kedua persaksian itu. Agar diterima oleh Allah, pengucapan (ikrâr) syahâdatayn ini, ada tiga syarat yang harus kita penuhi, yakni: 1) mengetahui maknanya dengan benar; 2) tashdîq (membenarkan dengan sungguh-sungguh) di hati; dan 3) ikhlas, yakni menjauhi dari mempersekutukan Allah. Sehingga, jelas bahwa siapa saja yang bersyahadat harus mengerti, memahami, mendalami dan mengamalkan secara benar.

Kalimat syahadat tauhid terdiri dari dua bagian, yakni lâ ilâha (tidak ada ilâh) dan illâ ’l-Lâh (kecuali Allah). Kita dapat memahami dari sudut bahasa, maupun makna, berikut konsekuensi kalimat tersebut.

Lâ yang terdapat pada kalimat lâ ilâha illâ ’l-Lâh adalah lâ nâfiyata li ’l-jins, yakni huruf nafî (penghilangan) yang menafikan segala macam jenis, dalam hal ini yang dinafikan adalah segala macam jenis ilâh. Sedangkan illâ adalah huruf istitsnâ’ (pengecualian), dalam hal ini yang mengecualikan Allah dari segala macam atau jenis ilâh yang dinafikan.

Bentuk kalimat syahâdatayn dinamakan kalimat manfî (negatif ) lawan dari kalimat positif (mutsbât). Kata illâ meng-itsbât-kan kalimat yang manfî. Dalam bahasa Arab, itsbât setelah nafî itu mempunyai maksud membatasi (al-hasru) dan menguatkan (tawkîd).

Dengan demikian, lâ ilâha berarti membuang seluruh ilâh, dan illâ ’l-Lâh berarti menetapkan Allah sebagai satu-satunya ilâh yang berhak disembah. Atau dengan perkataan lain, menghilangkan (nafî) “ilâh-ilâh” itu harus disertai dengan menetapkan (itsbât) Allah sebagai ilâh yang tunggal dalam kehidupan. Kedua hal ini tidak dapat kita pisahkan.

Dalam bahasa arab, kata ilâh berasal dari akar kata alâh, yang memiliki arti antara lain; tenteram, tenang, lindungan, cinta dan sembah. Semua makna ini sesuai dengan sifat-sifat dan kekhususan Zat Allah swt. Perhatikan (terjemahan) firman Allah swt:

Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram (Q 13: 28).

Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan (Q 72:6).

Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah (Q 2:165).

Aku berlindung kepada Allah bahwa aku termasuk golongan orang-orang yang jahil (Q 2;67).

Di antara makna tersebut, yang paling asasi adalah makna ‘abada yang mempunyai beberapa arti, antara lain hamba sahaya (‘abd-un), patuh dan tunduk (‘ibâdah), yang mulia dan agung (al-ma‘bad). Jika arti kata-kata ini kita urutkan, maka akan menjadi susunan pengertian yang sangat logis, yakni: bila seseorang memperhambakan diri terhadap sesuatu, maka ia akan mengikutinya, memuliakan, mengagungkan, mematuhi dan tunduk padanya serta bersedia mengorbankan kemerdekaan yang dimilikinya.

Dalam Kamus Arab-Indonesia yang disusun Prof H. Mahmud Yunus, pada halaman 47 disebutkan bahwa ilâh (jam‘: âlihat-un) bermakna Tuhan yang disembah atau sesuatu yang disembah, tapi kata Allah merupakan suatu nama, sehingga tidak dapat diterjemahkan atau diganti menjadi Tuhan baik dengan t [kecil] maupun T [besar]). Dengan demikian lâ ilâha illâ ’l-Lâh jelas tidak dapat ditejemahkan menjadi “Tidak ada tuhan selain Allah”, tapi “tidak ada ilâh (tuhan) selain Allah.”

Illâ ’l-Lâh di dalam lâ ilâha illâ ’l-Lâh itu adalah satu-satunya Yang Memiliki dan Yang Menguasai langit, bumi dan segala isinya. Dialah Yang Menciptakan (al-Khâliq), Yang Memberi rezeki (al-Râziq) dan Dia pula Yang Mengelola (al-Mudabbir). Allah adalah satu-satunya Yang wajib ditaati. Jadi Dialah yang menentukan hukum dan segala aturan (al-Hâkim). Yang Melindungi (al-Walî), dan Dia-lah Yang berhak disembah satu-satunya (al-Ma‘bûd).

Maka kalimat lâ ilâha illâ ’l-Lâh mengandung beberapa pengertian sebagai berikut. Pertama, lâ Khâliqa illâ ’l-Lâh, artinya, tiada pencipta kecuali Allah (Q 2:21); Kedua, lâ Râziqa illâ ’l-Lâh; artinya, tiada pemberi rezeki kecuali Allah (Q 35:3); Ketiga, lâ Mudabbira illâ ’l-Lâh; artinya, tiada pengatur segala urusan kecuali Allah (Q 10:3); Kempat, lâ hâkima illâ ’l-Lâh; artinya, tiada pembuat hukum kecuali Allah (Q 6:57); Kelima, lâ Waliyya illâ ’l-Lâh; artinya, tiada pelindung kecuali Allah (Q 2:257); Keenam, lâ Ghâyata illâ ’l-Lâh; artinya, tiada tujuan kecuali Allah (Q 6:162-163 dan Q 94:8); Ketujuh, lâ ma‘bûda illâ ’l-Lâh; artinya, tiada yang patut disembah kecuali Allah (Q 16:36).

Walhasil, dengan penjelasan di atas, masihkah kita akan terus menerjemahkan lâ ilâha illâ ’l-Lâh dengan “tidak ada tuhan melainkan Tuhan” atau There is no god but God? Lalu mengapa kita harus mengada-ada? Wa ’l-Lâh-u a‘lam.
  RELATED POST
Tiga Pendekar dari Chicago
Selasa, 10 Juli 2018
Puncak Gunung Es
Selasa, 10 Juli 2018
  E-BOOK
1
30 Sajian Rohani
Penulis Nurcholish Madjid
2
Bilik-Bilik Pesantren
Penulis Nurcholish Madjid
3
Tradisi ISLAM
Penulis Nurcholish Madjid