Nurcholish Madjid Nurcholish Madjid
CNBW
TENTANG PORTAL ARSIP KARYA NURCHOLISH MADJID

Rasanya mustahil memisahkan nama Nurcholish Madjid dari pembicaraan tentang Islam di Indonesia atau bahkan tentang Indonesia secara keseluruhan. Sejak hampir empat dekade lalu, ketika usianya masih relatif muda, beberapa makalah, buku, bahkan disertasi doktor sudah ditulis orang mengenainya. Ia sendiri belum pernah menulis buku utuh – sampai akhir hayatnya kecuali barangkali Indonesia Kita. Namun sejumlah nonbook-nya, buku-buku kumpulan tulisannya, yang sekarang tersimpan dalam “Portal Arsip Karya Nurcholish Madjid” ini, mendapat tanggapan sangat mengesankan. Beberapa diantaranya dicetak beberapa kali dalam waktu relatif singkat. Ini mencerminkan makin luasnya apresiasi orang terhadap pikiran-pikirannya. Dan hingga kini, sikap dan pandangan-pandangannya masih terus didengar orang.

“Portal Arsip Karya Nurcholish Madjid” ini yang digagas dan dikerjakan oleh Budhy Munawar Rachman dan Mirwan Andan, dikembangkan untuk mendokumentasikan seluruh karya Nurcholish, baik yang sudah diterbitkan maupun yang belum. Dari pendokumentasian yang lengkap tentang pikiran-pikiran Nurcholish ini, diharapkan dapat dikembangkan secara kreatif ke media populer lainnya.

TENTANG NURCHOLISH MADJID

Lahir di Jombang, Jawa Timur, pada 17 Maret 1939, Nurcholish adalah contoh wakil kelompok terbesar rakyat Indonesia: kaum Muslim “santri”. Dari kedua orang tuanya, ia mewarisi darah intelektualisme dan aktivisme dua organisasi besar Islam di Indonesia yang sangat berpengaruh yaitu Masyumi yang “modernis” dan Nahdlatul Ulama (NU) yang “tradisionalis”. Perpecahan kedua organisasi itu pada tahun 1952, karena kepentingan-kepentingan politik, tidak menyebabkan Nurcholish—dimasa muda dan dewasanya—untuk memillih salah satunya, melainkan malah “menggabungkan” dan mengembangkan sintesis antar keduanya ke wilayah kepedulian sosial-politik  yang jauh lebih luas. Hasil segala daya dan upaya itulah yang oleh beberapa sarjana dan pengamat belakangan ini disebut “neo-modernisme Islam”. Prinsip yang mendasarinya termuat dalam ungkapan bahasa Arab yang dengan penuh percaya diri sering dikutipnya, Al-Muhâfazhah `alâ al-qadîm al-shâlih wa al-akhz bî al-jadîd al-ashlah (“Mempertahankan yang lama yang baik dan mengambil yang  baru yang lebih baik”). Dan semuanya itu tercermin dengan baik dalam semua sepak terjang dan pemikiran yang dilontarkannya, sejak muda—sebagai aktivis mahaisswa—hingga sekarang, ketika ia dijuluki “Guru Bangsa”.

Nurcholish kecil memperoleh pendidikan dasarnya di Madrasah al-Wathaniyyah yang diasuh langsung oleh ayahnya. Ia lalu melanjutkan pendidikan menengahnya di Pesantren Dar al- `Ưlum. Pesantren ini, berlokasi di Jombang, adalah salah satu pusat penting kaderisasi tradisionalisme Islam NU. Merasa tidak puas, ia kemudian minta kepada ayahnya untuk dipindahkan ke Pondok Modern Gontor di Ponorogo, Jawa Timur. Meskipun mengkalim diri sebagai pesantren yang “non-sektarian” dan ingin “berdiri di atas semua golongan”, aspirasi keIslaman pesantren ini sangat jelas lebih dekat kepada modernisme Islam Masyumi.

Pada 1962, Nurcholish hijrah ke Jakarta, ibukota negara, untuk melanjutkan pendidikan tingginya di Institut Agama Islam Negeri (IAIN), sebuah lembaga pendidikan tinggi yang dibangun pemerintah pasca-kemerdekaan untuk mendorong mobilitas vertikal kaum Muslim santri yang pendidikannya sangat terhambat di bawah kolonialisme. Pada masa inilah ia mulai berkiprah  di organisasi kemahasiswaan: ia terlibat sangat aktif di Himpunan Mahasiswa (HMI), sebuah organisasi mahasiswa Islam “kota” yang didirikan pada 1947. Di organisasi inilah kemampuannya mulai menonjol. Pada 1965, misalnya, ia menulis Nilai-nilai Dasar Perjuangan (NDP), rumusan doktrin ideologis HMI yang hingga sekarang masih dijadikan materi wajib dalam pengkaderan puluhan ribu anggotanya. Karena kemampuannya demikian menonjol (saat itu, ia antara lain menguasai bahasa Arab dan Inggris secara aktif dan bahasa Perancis secara pasif), ia terpilih sebagai Ketua Umum HMI untuk dua periode: 1966 – 1969 dan 1969 – 1971. Hingga saat ini, ia-lah satu-satunya Ketua Umum HMI yang terpilih dua kali.

Mungkin faktor inilah yang menjadikan namanya belakangan begitu melekat dengan HMI. Tapi sumbangan Nurcholish sebenarnya jauh dari berhenti disitu, melainkan malah baru bermula. Sumbangan terbesarnya justru terletak pada upayanya merumuskan apa yang mungkin dapat disebut sebagai “wajah Islam Indonesia”, upaya yang pada titik-titik tertentu sengaja ia lepaskan dari bendera HMI untuk menghindarkan organisasi itu dari kontroversi yang tidak perlu. Dalam upaya besar ini, Nurcholish mencurahkan hampir seluruh pikirannya untuk menyerasikan tiga tema besar yang selalu menyibukkannya: keislaman, kemodernan dan keindonesian. Inilah agenda pembaharuan pemikiran Islam yang dikibarkannya sejak dekade 1970-an hingga kini—dan memang dalam rangka ini pulalah ia beberapa kali terlibat dalam kontroversi besar.

Gagasan pembaharuan pemikiran Islam secara terbuka pertama kali dikemukakan Nurcholis ketika ia, pada tanggal 2 Januari 1970, menyampaikan makalah berjudul “Kaharusan Pembaharuan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Ummat” dalam sebuah pertemuan di Jakarta. Di situ ia mengajukan pengamatan bahwa kaum Muslim Indonesia mengalami kemandegan dalam pemikiran keagamaan dan kehilangan “kekuatan daya-dobrak psikologis“ (psychological striking force) dalam perjuangan mereka. Indikasi penting kemandegan itu adalah ketidak mampuan mayoritas mereka untuk membedakan antara nilai-nilai transendental dengan nilai-nilai yang temporal. Bahkan ia menilai bahwa hierarki nilai-nilai itu sering diperlakukan terbalik: nilai-nilai yang transendental dipahami sebagai nilai-nilai yang temporal, dan sebaliknya. Akibatnya, tulisannya, “Islam (dipandang sebagai) senilai dengan tradisi, dan menjadi Islamis sederajat dengan menjadi tradisionalis”.

Untuk membaca lebih lengkap tentang perjalanan pemikiran Cak Nur melalui karya-karyanya, silahkan akses tautan ini.